Film Pendek 'LAKA', Cinta Buta dan Harga Diri yang Terlupa
Jum'at, 17 September 2021 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Film yang tayang di Genflix ini menyajikan sebuah tamparan kenyataan dari masyarakat kaum menengah ke bawah di kota besar yang sangat tidak ramah.
Teringat sebuah kalimat yang diungkapkan oleh Mercutio, sahabat Romeo, dari karya William Shakespeare yang legendaris itu: “If love be blind, love can not hit the mark.” (Jika cinta buta, ia takkan mampu mengenai sasarannya.)
Baca Juga: Film Pendek Hari ke-40, Mahasiswa Demonstran dan Kebaikan yang Diwariskan
Pak Kusnandar terpicu untuk melawan nilai dan kepercayaan yang dianutnya, setelah mendengar sang putri berang tak dipenuhi keinginannya punya ponsel mahal. Viola tega menyebut kata “papa tiri” membuat ego sang ayah sontak terkoyak. Ia takkan rela, Viola akan lari ke pria lain yang kini mengisi posisi bak “ayah tandingan”.
Mencermati tingkah polah Viola, sang remaja putri, ia mewakili banyak sosok yang berseliweran di media sosial. Masih duduk di bangku SMA, Viola sudah sangat ngoyo menjalani “panjat sosial” (pansos) demi eksistensi.
Di dunia nyata, jangan terkejut, gadis-gadis seusia Viola sampai hati mengejar harta dengan ”open BO”, menipu atau memeras habis cowok berduit, bahkan rela jadi simpanan “papa gula” alias “sugar daddy”. Tentunya Viola, yang sampai diceletuki, “Nge-room saja sana!” sudah mencapai kematangan seksual yang belum seharusnya ia punya. Ranjau berbahaya yang ia pijak tanpa sadar.
![Film Pendek 'LAKA', Cinta Buta dan Harga Diri yang Terlupa]()
Foto: Genflix
Harga diri bisa terlupa begitu saja karena cinta yang kelewatan menutup mata, menggelapkan pandangan. Baik Pak Kusnandar dan Viola, keduanya adalah budak cinta (bucin) yang buta dalam “target” berbeda.
Baca Juga: Mengulik Makna Bucin alias Budak Cinta dari Perspektif Sains
Teringat sebuah kalimat yang diungkapkan oleh Mercutio, sahabat Romeo, dari karya William Shakespeare yang legendaris itu: “If love be blind, love can not hit the mark.” (Jika cinta buta, ia takkan mampu mengenai sasarannya.)
Baca Juga: Film Pendek Hari ke-40, Mahasiswa Demonstran dan Kebaikan yang Diwariskan
Pak Kusnandar terpicu untuk melawan nilai dan kepercayaan yang dianutnya, setelah mendengar sang putri berang tak dipenuhi keinginannya punya ponsel mahal. Viola tega menyebut kata “papa tiri” membuat ego sang ayah sontak terkoyak. Ia takkan rela, Viola akan lari ke pria lain yang kini mengisi posisi bak “ayah tandingan”.
Mencermati tingkah polah Viola, sang remaja putri, ia mewakili banyak sosok yang berseliweran di media sosial. Masih duduk di bangku SMA, Viola sudah sangat ngoyo menjalani “panjat sosial” (pansos) demi eksistensi.
Di dunia nyata, jangan terkejut, gadis-gadis seusia Viola sampai hati mengejar harta dengan ”open BO”, menipu atau memeras habis cowok berduit, bahkan rela jadi simpanan “papa gula” alias “sugar daddy”. Tentunya Viola, yang sampai diceletuki, “Nge-room saja sana!” sudah mencapai kematangan seksual yang belum seharusnya ia punya. Ranjau berbahaya yang ia pijak tanpa sadar.

Foto: Genflix
Harga diri bisa terlupa begitu saja karena cinta yang kelewatan menutup mata, menggelapkan pandangan. Baik Pak Kusnandar dan Viola, keduanya adalah budak cinta (bucin) yang buta dalam “target” berbeda.
Baca Juga: Mengulik Makna Bucin alias Budak Cinta dari Perspektif Sains
Lihat Juga :