Review Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings: Film Marvel Rasa Asia
Rabu, 22 September 2021 - 19:03 WIB
loading...
A
A
A
Wenwu juga merupakan pemimpin organisasi jahat bernama Ten Rings. Selama ribuan tahun, Wenwu memimpin organisasi itu sampai dia menikah. Setelah berkeluarga, Wenwu berusaha hidup sebaik-baiknya dan meninggalkan Ten Rings. Namun, ketika istrinya dibunuh segerombolan penjahat, Wenwu pun dendam dan kembali ke Ten Rings. Puluhan tahun kemudian, dia membawa kembali dua anaknya, Shang-Chi dan Xialing (Meng’er Zhang) untuk membantunya mengembalikan istrinya yang dia kira disembunyikan di Ta Lo.
![Review Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings: Film Marvel Rasa Asia]()
Akting Simu sebagai Shang-Chi cukup baik. Sementara, Awkwafina yang memerankan Katy, sahabat Shang-Chi, juga tampil dengan baik. Dia bisa menjadi pemecah kebuntuan di film ini, selain Ben Kingsley yang kembali hadir di MCU sebagai Trevor Slattery alias Mandarin palsu dari Iron Man 3.
Tony Leung sebagai Wenwu alias Mandarin pun punya penampilan yang baik. Di film ini, Tony tampil seperti Tony di film-film Mandarin yang biasa dia bintangi. Aktingnya pun tak perlu diragukan lagi. Dia tampil sebagai Wenwu yang dingin, terlihat lembut, tapi punya aura jahat.
Catatan lain juga perlu diberikan kepada Meng’er Zhang, pemeran Xialing. Dia tampil sebagai wanita mandiri yang piawai bela diri. Dingin, tapi tetap punya selera humor ketika berhadapan dengan kakaknya. Sisi sentimentilnya tersentuh ketika dihadapkan dengan kenangannya di masa kecil. Di masa depan MCU, Xialing bakal memiliki peranan penting.
![Review Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings: Film Marvel Rasa Asia]()
Sutradara Destin Daniel Cretton mampu menghadirkan koreografi menarik dan memadukan alam dongeng dengan alam nyata. Meskipun ceritanya tak terlalu kuat, terlalu tipikal Marvel, tapi, gambar di film ini cukup menawan. Destin memilih warna-warna cerah untuk Ta Lo, baik alam maupun pakaian yang dikenakan warganya. Makhluk-makhluk mistis juga tertebaran di film ini.
Berbeda dengan Black Panther yang memadukan budaya dengan teknologi, Shang-Chi and the Legend of the Ten Ring murni menyuguhkan skill tarung para pemainnya dan budaya yang mengitari mereka. Film ini tidak terlalu mengandalkan teknologi canggih, tapi lebih ke mitos dan dongeng. Di film ini, hampir 50% percakapannya memakai bahasa China. Di awal saja, penonton akan diajak mendengarkan cerita tentang Mandarin dan Ten Rings dengan bahasa China. Jika kalian sering menonton film laga China, maka akan terasa sekali pengaruh film-film ini di Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings.
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings menyajikan tontonan yang berbeda di film Marvel. Pertarungan satu lawan satunya dekat, dengan koreografi yang indah. Banyak rangkaian adegan-adegan di film ini yang akan mengingatkan pada ciri khas film-film laga buatan China. Film ini seru, meski tak terlalu emosional seperti layaknya film lain di MCU.

Akting Simu sebagai Shang-Chi cukup baik. Sementara, Awkwafina yang memerankan Katy, sahabat Shang-Chi, juga tampil dengan baik. Dia bisa menjadi pemecah kebuntuan di film ini, selain Ben Kingsley yang kembali hadir di MCU sebagai Trevor Slattery alias Mandarin palsu dari Iron Man 3.
Tony Leung sebagai Wenwu alias Mandarin pun punya penampilan yang baik. Di film ini, Tony tampil seperti Tony di film-film Mandarin yang biasa dia bintangi. Aktingnya pun tak perlu diragukan lagi. Dia tampil sebagai Wenwu yang dingin, terlihat lembut, tapi punya aura jahat.
Catatan lain juga perlu diberikan kepada Meng’er Zhang, pemeran Xialing. Dia tampil sebagai wanita mandiri yang piawai bela diri. Dingin, tapi tetap punya selera humor ketika berhadapan dengan kakaknya. Sisi sentimentilnya tersentuh ketika dihadapkan dengan kenangannya di masa kecil. Di masa depan MCU, Xialing bakal memiliki peranan penting.

Sutradara Destin Daniel Cretton mampu menghadirkan koreografi menarik dan memadukan alam dongeng dengan alam nyata. Meskipun ceritanya tak terlalu kuat, terlalu tipikal Marvel, tapi, gambar di film ini cukup menawan. Destin memilih warna-warna cerah untuk Ta Lo, baik alam maupun pakaian yang dikenakan warganya. Makhluk-makhluk mistis juga tertebaran di film ini.
Berbeda dengan Black Panther yang memadukan budaya dengan teknologi, Shang-Chi and the Legend of the Ten Ring murni menyuguhkan skill tarung para pemainnya dan budaya yang mengitari mereka. Film ini tidak terlalu mengandalkan teknologi canggih, tapi lebih ke mitos dan dongeng. Di film ini, hampir 50% percakapannya memakai bahasa China. Di awal saja, penonton akan diajak mendengarkan cerita tentang Mandarin dan Ten Rings dengan bahasa China. Jika kalian sering menonton film laga China, maka akan terasa sekali pengaruh film-film ini di Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings.
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings menyajikan tontonan yang berbeda di film Marvel. Pertarungan satu lawan satunya dekat, dengan koreografi yang indah. Banyak rangkaian adegan-adegan di film ini yang akan mengingatkan pada ciri khas film-film laga buatan China. Film ini seru, meski tak terlalu emosional seperti layaknya film lain di MCU.
Lihat Juga :