Film Pendek 'Rino Wengi', Siapkah Kita dengan Kehilangan?
Jum'at, 24 September 2021 - 15:53 WIB
loading...
A
A
A
Sutinah jelas mengalami fase tawar-menawar yang fokus pada penyesuaian diri dengan lingkungannya setelah suaminya meninggal. Bukan suatu usaha yang mudah, mengingat Sutinah masih melakukan rutinitas yang sama seperti ketika sang suami masih ada. Ia terus membandingkan kondisinya saat ini dengan ketika sang suami masih mendampinginya.
Ia bahkan terlihat kesal ketika melihat tetangganya yang suami istri lewat di depan rumahnya dan melakukan kegiatan yang dulu sering dilakukan Sutinah bersama suaminya. Kekesalannya ditumpahkan dengan melempar sapu yang tengah dipakainya untuk membersihkan halaman. Walau terlihat tegar dan tampak menjalani kehidupan seperti apa adanya, ada aspek dalam diri Sutinah yang masih tidak rela kehilangan sang suami.
Baca Juga: 5 Film tentang Para Perempuan Melawan Diskriminasi
Ia tahu suaminya meninggal, sudah tidak ada lagi di sisinya, tetapi ia ingin orang lain terus memahami kondisinya yang berduka. Misalnya, jangan berperilaku mesra di depan matanya. Sutinah melihat hal ini sebagai sesuatu yang mengolok-olok dirinya. Ia tidak terima kalau dirinya tidak lagi bisa melakukan hal yang sama.
Tawar menawar lain yang terjadi dengan dirinya adalah menyalahkan kepergian sang suami. Sutinah menyalahkan kepergian suaminya yang terlalu cepat dan menjadikannya janda. Sebagai manusia yang punya keinginan, Sutinah merasa suaminya merampas keinginannya sebagai manusia. Satu dialog yang sangat mengena dikatakan Sutinah, "Manusia hidup hanya punya satu pilihan". Kematian suaminya, membuat Sutinah menyalahkan semua pilihannya yang mati seiring dengan kepergian sang suami.
![Film Pendek 'Rino Wengi', Siapkah Kita dengan Kehilangan?]()
Foto: Genflix
Film berdurasi hampir 20 menit yang tayang di Genflix ini juga menggambarkan fase marah Sutinah. Fase yang terjadi ketika ia menyadari kepergian sang suami membuatnya tidak lagi bisa memiliki pilihan, yang berarti keinginannya tidak akan terpenuhi.
Ia bahkan terlihat kesal ketika melihat tetangganya yang suami istri lewat di depan rumahnya dan melakukan kegiatan yang dulu sering dilakukan Sutinah bersama suaminya. Kekesalannya ditumpahkan dengan melempar sapu yang tengah dipakainya untuk membersihkan halaman. Walau terlihat tegar dan tampak menjalani kehidupan seperti apa adanya, ada aspek dalam diri Sutinah yang masih tidak rela kehilangan sang suami.
Baca Juga: 5 Film tentang Para Perempuan Melawan Diskriminasi
Ia tahu suaminya meninggal, sudah tidak ada lagi di sisinya, tetapi ia ingin orang lain terus memahami kondisinya yang berduka. Misalnya, jangan berperilaku mesra di depan matanya. Sutinah melihat hal ini sebagai sesuatu yang mengolok-olok dirinya. Ia tidak terima kalau dirinya tidak lagi bisa melakukan hal yang sama.
Tawar menawar lain yang terjadi dengan dirinya adalah menyalahkan kepergian sang suami. Sutinah menyalahkan kepergian suaminya yang terlalu cepat dan menjadikannya janda. Sebagai manusia yang punya keinginan, Sutinah merasa suaminya merampas keinginannya sebagai manusia. Satu dialog yang sangat mengena dikatakan Sutinah, "Manusia hidup hanya punya satu pilihan". Kematian suaminya, membuat Sutinah menyalahkan semua pilihannya yang mati seiring dengan kepergian sang suami.

Foto: Genflix
Film berdurasi hampir 20 menit yang tayang di Genflix ini juga menggambarkan fase marah Sutinah. Fase yang terjadi ketika ia menyadari kepergian sang suami membuatnya tidak lagi bisa memiliki pilihan, yang berarti keinginannya tidak akan terpenuhi.
Lihat Juga :