Film Pendek 'Family Room': 25 Tahun Bersama, Apa yang Dicari?
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 15:09 WIB
loading...
A
A
A
Benar saja. Ayah seperti orang asing yang tersesat di dalam rumah. Bukan hanya tidak mengetahui di mana istrinya biasa menyimpan barang, juga tidak tahu kapan putrinya biasa pulang.
Baca Juga: Film 'Cassava Nova': Perenungan akan Rumah, Tempat Pulang, dan Bernaung
Hubungannya dengan putra sulung pun seperti memiliki jarak, terlebih dengan putri bungsu. Terlihat jelas jika perannya sebagai seorang suami dan ayah tidak berjalan dengan baik. Ruangan yang dimiliki sang ayah dalam rumah rupanya telah kosong dari cinta keluarga.
Seharusnya perbedaan prinsip antara suami-istri tidak terjadi, jika frekuensinya sudah sama. Perselisihan juga bisa dihindari jika kedua pihak dapat saling menahan ego. Namun, saat Ayah memutuskan untuk berpoligami di saat Ibu tidak siap, siapakah yang patut disalahkan?
Dahulukan kewajiban sebelum hak. Pun, dahulukan hal yang wajib sebelum mengerjakan hal yang sunah. Jika kewajiban dasar saja tidak bisa dikerjakan dengan baik, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban tambahan lainnya?
![Film Pendek 'Family Room': 25 Tahun Bersama, Apa yang Dicari?]()
Foto: Maxstream
Kalimat "90% perceraian di Indonesia disebabkan oleh poligami" sebenarnya tidak salah, tapi sedikit mengganggu. Orang akan langsung berspekulasi jika ajaran agama yang menganjurkan laki-laki untuk melakukan poligami adalah penyebab utama perceraian di Indonesia. Padahal, pelaku poligami yang tidak mempersiapkan diri dan keluarga adalah tersangka utamanya.
Baca Juga: Film 'Cassava Nova': Perenungan akan Rumah, Tempat Pulang, dan Bernaung
Hubungannya dengan putra sulung pun seperti memiliki jarak, terlebih dengan putri bungsu. Terlihat jelas jika perannya sebagai seorang suami dan ayah tidak berjalan dengan baik. Ruangan yang dimiliki sang ayah dalam rumah rupanya telah kosong dari cinta keluarga.
Seharusnya perbedaan prinsip antara suami-istri tidak terjadi, jika frekuensinya sudah sama. Perselisihan juga bisa dihindari jika kedua pihak dapat saling menahan ego. Namun, saat Ayah memutuskan untuk berpoligami di saat Ibu tidak siap, siapakah yang patut disalahkan?
Dahulukan kewajiban sebelum hak. Pun, dahulukan hal yang wajib sebelum mengerjakan hal yang sunah. Jika kewajiban dasar saja tidak bisa dikerjakan dengan baik, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban tambahan lainnya?

Foto: Maxstream
Kalimat "90% perceraian di Indonesia disebabkan oleh poligami" sebenarnya tidak salah, tapi sedikit mengganggu. Orang akan langsung berspekulasi jika ajaran agama yang menganjurkan laki-laki untuk melakukan poligami adalah penyebab utama perceraian di Indonesia. Padahal, pelaku poligami yang tidak mempersiapkan diri dan keluarga adalah tersangka utamanya.
Lihat Juga :