Manga Kenkanryu, Manga yang Terang-Terangan Benci K-Pop
Minggu, 21 November 2021 - 21:34 WIB
loading...
A
A
A
Debat dan investigasi mereka mengatasi konsep seperti budaya Korsel yang diduga mencuri ide dari Jepang, inferioritas bahasa Hangul Korea dan masalah seputar imigran Zainichi Korea. Mereka juga membahas tentang popularitas Hallyu Wave. Gelombang popularitas platform hiburan Korea itu tereferensikan dalam buku yang diterjemahkan sebagai Membenci Hallyu Wave.
Manga, yang ditulis Sharin Yamano itu, adalah lebih pada serangkaian kuliah naratif ketimbang cerita nyata. Buku itu lebih berfokus pada melebih lebihkan ketimbang pengembangan karakter. Banyak karakter seperti teman Zainichi Kaname, Koichni, hanyalah properti plot yang digunakan untuk menyampaikan poin.
Harus dicatat juga kalau karakter Jepang-nya digambar dengan gaya seni stereotipikal ‘manga’ yang memberi mereka fitur Kaukasian yang hampir berlebihan. Di sisi lain, orang Korea digambar seperti orang Asia dengan gaya nyaris mirip karikatur. Meski menciptakan kontroversi, buku itu berjalan sepanjang 10 volume dengan volume terakhir dirilis pada 2015.
2. Dampak Manga Kenkanryu
![Manga Kenkanryu, Manga yang Terang-Terangan Benci K-Pop]()
Karena kontroversi dan hype yang diciptakan manga itu sangat terang-terangan menyerang popularitas media Korea, penjualan Manga Kenkanryu lumayan bagus. Keinginan untuk mem-pre-order manga itu mendorong manga itu menjadi yang terlaris saat dirilis. Dengan lebih dari 600.000 eksemplar yang terjual, sekuelnya dengan judul Manga Kenkanryu 2 kemudian diterbitkan. Selain itu, ada juga Manga Kenchugokuryu, di mana Sharin Yamano mendukung sentiment anti-China.
Respons di Jepang terkait manga itu bercampur. Ada kubu yang melihat mana ini sebagai penghasut dan hanya dari satu sudut pandang. Lainnya, seperti para netizen di papan pesan seperti 2channel muncul dengan ungkapan kesukaan mereka terhadap manga itu dan pesan di dalamnya. Respons di Barat tidak ada karena waktu itu K-Pop dan K-Drama masih 10 tahun jauhnya sebelum menjadi mainstream di sana.
Manga, yang ditulis Sharin Yamano itu, adalah lebih pada serangkaian kuliah naratif ketimbang cerita nyata. Buku itu lebih berfokus pada melebih lebihkan ketimbang pengembangan karakter. Banyak karakter seperti teman Zainichi Kaname, Koichni, hanyalah properti plot yang digunakan untuk menyampaikan poin.
Harus dicatat juga kalau karakter Jepang-nya digambar dengan gaya seni stereotipikal ‘manga’ yang memberi mereka fitur Kaukasian yang hampir berlebihan. Di sisi lain, orang Korea digambar seperti orang Asia dengan gaya nyaris mirip karikatur. Meski menciptakan kontroversi, buku itu berjalan sepanjang 10 volume dengan volume terakhir dirilis pada 2015.
2. Dampak Manga Kenkanryu

Karena kontroversi dan hype yang diciptakan manga itu sangat terang-terangan menyerang popularitas media Korea, penjualan Manga Kenkanryu lumayan bagus. Keinginan untuk mem-pre-order manga itu mendorong manga itu menjadi yang terlaris saat dirilis. Dengan lebih dari 600.000 eksemplar yang terjual, sekuelnya dengan judul Manga Kenkanryu 2 kemudian diterbitkan. Selain itu, ada juga Manga Kenchugokuryu, di mana Sharin Yamano mendukung sentiment anti-China.
Respons di Jepang terkait manga itu bercampur. Ada kubu yang melihat mana ini sebagai penghasut dan hanya dari satu sudut pandang. Lainnya, seperti para netizen di papan pesan seperti 2channel muncul dengan ungkapan kesukaan mereka terhadap manga itu dan pesan di dalamnya. Respons di Barat tidak ada karena waktu itu K-Pop dan K-Drama masih 10 tahun jauhnya sebelum menjadi mainstream di sana.
Lihat Juga :