Menikmati Saoto Bathok di Tengah Hamparan Sawah
Sabtu, 06 Juni 2020 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Di tempat ini juga terdapat delapan buah saung berukuran kecil hingga besar sebagai tempat untuk menikmati soto bathok. Terdapat saung dengan konsep lesehan maupun saung yang dilengkapi dengan meja kursi. Di sekitar saung juga ditanami beberapa pohon yang membuat suasana semakin nyaman.
Menurut Suyanto Warung Saoto Bathok Mbah Katro ini berdiri pada 2014. Yakni saat pemiliknya Katro Sumaryo memutuskan pensiun dini sebagai karyawan hotel di Yogyakarta. Kemudian Karto mendirikan warung makan yang belum ada di tempat lain dan bisa menjadi ciri khas, hingga munculan ide mendirikan warung soto yang mangkoknya dari bathok. Alasan mengunakan mangkok dari bathok, karena berasal dari alam sekaligus memberdayakan masyarakat sebagai perajin mangkok bathok, apalagi dari sisi harga terbilang murah.
Selain itu batok juga memiliki fungsi mengurangi tingkat sakit perut, karena kandungan karbonnya. Sehingga saat dituangi kuah panas, akan bereaksi bagus untuk alat pencernaan.
Pemakaian nama saoto bukan soto, karena orang tua dulu menyebut soto dengan mana saoto. Sehingga nama itu yang dipakai untuk nama warung sotonya, yakni Saoto Bathok Mbah Katro. “Warung soto dengan mengunakan mangkok dari bathok ini dapat dikatakan yang pertama kali. Setelah itu diikuti di tempat-tempat lain,” paparnya. (Baca juga: Ramen Ini Terbuat dari Jangkrik, Anda Berani Coba?)
Harga satu batuk soto lumayan murah yakni Rp6.000 sedangkan soto dipisah dengan nasi Rp8.000. Untuk minuman rata-rata Rp2.500 per gelas dan makanan pendamping antara Rp500-Rp2.000 perpotong. Tidak mengherankan, selain rasanya enak dengan alam pedesaaan dan harga yang terjangkau, tempat ini banyak diserbu pembeli. Rata-rata per hari antara 800-1.200 mangkok batok. (Priyo Setyawan)
Menurut Suyanto Warung Saoto Bathok Mbah Katro ini berdiri pada 2014. Yakni saat pemiliknya Katro Sumaryo memutuskan pensiun dini sebagai karyawan hotel di Yogyakarta. Kemudian Karto mendirikan warung makan yang belum ada di tempat lain dan bisa menjadi ciri khas, hingga munculan ide mendirikan warung soto yang mangkoknya dari bathok. Alasan mengunakan mangkok dari bathok, karena berasal dari alam sekaligus memberdayakan masyarakat sebagai perajin mangkok bathok, apalagi dari sisi harga terbilang murah.
Selain itu batok juga memiliki fungsi mengurangi tingkat sakit perut, karena kandungan karbonnya. Sehingga saat dituangi kuah panas, akan bereaksi bagus untuk alat pencernaan.
Pemakaian nama saoto bukan soto, karena orang tua dulu menyebut soto dengan mana saoto. Sehingga nama itu yang dipakai untuk nama warung sotonya, yakni Saoto Bathok Mbah Katro. “Warung soto dengan mengunakan mangkok dari bathok ini dapat dikatakan yang pertama kali. Setelah itu diikuti di tempat-tempat lain,” paparnya. (Baca juga: Ramen Ini Terbuat dari Jangkrik, Anda Berani Coba?)
Harga satu batuk soto lumayan murah yakni Rp6.000 sedangkan soto dipisah dengan nasi Rp8.000. Untuk minuman rata-rata Rp2.500 per gelas dan makanan pendamping antara Rp500-Rp2.000 perpotong. Tidak mengherankan, selain rasanya enak dengan alam pedesaaan dan harga yang terjangkau, tempat ini banyak diserbu pembeli. Rata-rata per hari antara 800-1.200 mangkok batok. (Priyo Setyawan)
(ysw)
Lihat Juga :