Miniseri Mahram untuk Najwa: Dilema Cinta Muslimah Modern
Sabtu, 04 Desember 2021 - 18:08 WIB
loading...
A
A
A
Najwa kian bingung dan belum memberi jawaban, baik pada Jihan maupun pada kita, penonton serialnya.
Dari Islamisme ke Post-Islamisme
Serial web yang diangkat Ichwan Persada dari cerita di Wattpad ini sudah dibaca 3,7 juta kali, dan sejatinya melanjutkan tren cerita islami yang sudah dimulai sejak 1990-an lewat sukses majalah Annida.
Kala itu, sejak 1993, majalah Annida mengubah target pasar dari keluarga muslim menjadi remaja perempuan muslimah. Isinya kemudian lebih banyak cerpen-cerpen islami bertema remaja, tak terkecuali problema cinta yang dialami remaja Islam, baik laki-laki maupun perempuan.
Para penulis cerpen di Annida kemudian membentuk komunitas, yang terkenal adalah Forum Lingkar Pena. Dari komunitas ini antara lain lahir Habiburrahman El Shirazy yang menuangkan cerita Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih I dan II pada awal 2000-an.
Kita kemudian tahu, dua cerita itu diangkat ke layar lebar dan sukses besar mendatangkan penonton. Sejak itu, Islam dalam budaya pop kita tak pernah sama lagi.
Sebelumnya representasi Islam dalam budaya pop selalu terkait dakwah perbaikan di masyarakat, antara lain lewat film Al Kautsar (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/remake 1982) dan Nada dan Dakwah (1990). Masa itu, meminjam konsep Asef Bayat, adalah periode “islamisme”.
Sementara setelahnya adalah masa “post-islamisme”, yakni ketika umat Islam tak lagi menggelorakan semangat perbaikan umat, melainkan konsumsi budaya pop yang islami sambil mempraktikkan kesalehan pribadi alih-alih berambisi mengejar yang besar seperti mengubah sistem negara.
![Miniseri Mahram untuk Najwa: Dilema Cinta Muslimah Modern]()
Foto: Genflix
Hal ini seiring pula dengan kebangkitan kelas menengah muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Di Tanah Air, faktor politik kala bandul rezim Suharto condong ke kanan lewat pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan penerbitan koran Republika, serta ditandai sang presiden naik haji pada dekade 1990-an turut mempercepat proses islamisasi negeri kita menjadi post-islamisme.
Dari Islamisme ke Post-Islamisme
Serial web yang diangkat Ichwan Persada dari cerita di Wattpad ini sudah dibaca 3,7 juta kali, dan sejatinya melanjutkan tren cerita islami yang sudah dimulai sejak 1990-an lewat sukses majalah Annida.
Kala itu, sejak 1993, majalah Annida mengubah target pasar dari keluarga muslim menjadi remaja perempuan muslimah. Isinya kemudian lebih banyak cerpen-cerpen islami bertema remaja, tak terkecuali problema cinta yang dialami remaja Islam, baik laki-laki maupun perempuan.
Para penulis cerpen di Annida kemudian membentuk komunitas, yang terkenal adalah Forum Lingkar Pena. Dari komunitas ini antara lain lahir Habiburrahman El Shirazy yang menuangkan cerita Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih I dan II pada awal 2000-an.
Kita kemudian tahu, dua cerita itu diangkat ke layar lebar dan sukses besar mendatangkan penonton. Sejak itu, Islam dalam budaya pop kita tak pernah sama lagi.
Sebelumnya representasi Islam dalam budaya pop selalu terkait dakwah perbaikan di masyarakat, antara lain lewat film Al Kautsar (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/remake 1982) dan Nada dan Dakwah (1990). Masa itu, meminjam konsep Asef Bayat, adalah periode “islamisme”.
Sementara setelahnya adalah masa “post-islamisme”, yakni ketika umat Islam tak lagi menggelorakan semangat perbaikan umat, melainkan konsumsi budaya pop yang islami sambil mempraktikkan kesalehan pribadi alih-alih berambisi mengejar yang besar seperti mengubah sistem negara.

Foto: Genflix
Hal ini seiring pula dengan kebangkitan kelas menengah muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Di Tanah Air, faktor politik kala bandul rezim Suharto condong ke kanan lewat pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan penerbitan koran Republika, serta ditandai sang presiden naik haji pada dekade 1990-an turut mempercepat proses islamisasi negeri kita menjadi post-islamisme.
Lihat Juga :