Candra Naya, Bangunan Heritage Tionghoa yang Berdiri Kokoh di Tengah Kota Jakarta
Senin, 31 Januari 2022 - 05:31 WIB
loading...
A
A
A
Pada 1992, Candra Naya dijual kepada Modern Group yang dimiliki oleh Samadikun Hartono. Mulanya, Candra Naya direncanakan untuk direlokasi ke Taman Mini Indonesia Indah, namun Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta pada 2003, tidak menyetujui usulan tersebut.
![Candra Naya, Bangunan Heritage Tionghoa yang Berdiri Kokoh di Tengah Kota Jakarta]()
Usulan atas pemindahan ini juga mendapat tentangan keras dari para pecinta bangunan tua. Mereka tidak setuju jika sebuah bangunan heritage (pusaka) dipindahkan dari habitat aslinya demi kepentingan bisnis semata.
Akhirnya pada Februari 2012, bangunan utama Candra Naya berhasil diselamatkan dan menjadi bagian dari kompleks hunian dan komersial terpadu Green Central City (GCC). Ya, bangunan kuno ini dikelilingi dua menara apartemen dengan total 844 unit, griya tawang, ruang komersial, dan perkantoran di sekitarnya.
Bangunan sayap kiri-kanan dan gazebo pun dibangun kembali setelah sebelumnya dibongkar total. Sedangkan bangunan belakang yang berlantai dua dan mempunyai "sayap" di kiri-kanannya tidak berhasil diselamatkan karena telah dibongkar untuk selamanya.
Hal ini lantas menjadi perdebatan para netizen di Twitter setelah akun @adriansyahyasin membuat cuitan terkait bangunan kuno ini. Pasalnya, sang pemilik akun merasa heran dengan perizinan pembangunan gedung modern di sekeliling bangunan bersejarah itu.
"Berdiri kokoh di antara mal dan apartemen. Harusnya jadi pertanyaan kenapa dulu ada yang mengijinkan gedung bersejarah ini tega ditimpa sama bangunan modern yang gak berkarakter," cuitnya.

Usulan atas pemindahan ini juga mendapat tentangan keras dari para pecinta bangunan tua. Mereka tidak setuju jika sebuah bangunan heritage (pusaka) dipindahkan dari habitat aslinya demi kepentingan bisnis semata.
Akhirnya pada Februari 2012, bangunan utama Candra Naya berhasil diselamatkan dan menjadi bagian dari kompleks hunian dan komersial terpadu Green Central City (GCC). Ya, bangunan kuno ini dikelilingi dua menara apartemen dengan total 844 unit, griya tawang, ruang komersial, dan perkantoran di sekitarnya.
Bangunan sayap kiri-kanan dan gazebo pun dibangun kembali setelah sebelumnya dibongkar total. Sedangkan bangunan belakang yang berlantai dua dan mempunyai "sayap" di kiri-kanannya tidak berhasil diselamatkan karena telah dibongkar untuk selamanya.
Hal ini lantas menjadi perdebatan para netizen di Twitter setelah akun @adriansyahyasin membuat cuitan terkait bangunan kuno ini. Pasalnya, sang pemilik akun merasa heran dengan perizinan pembangunan gedung modern di sekeliling bangunan bersejarah itu.
"Berdiri kokoh di antara mal dan apartemen. Harusnya jadi pertanyaan kenapa dulu ada yang mengijinkan gedung bersejarah ini tega ditimpa sama bangunan modern yang gak berkarakter," cuitnya.
Lihat Juga :