Review Film Turning Red: Rumitnya Hubungan Ibu dan Anak ABG
Jum'at, 11 Maret 2022 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
Ibu Meilin, Ming, sangat protektif terhadap putri tunggalnya itu. Dia melakukan apa pun demi melindungi putrinya tersebut. Memang, sekilas, hal itu baik. Tapi, untuk jangka panjang, ini hanya akan memicu konflik antara ibu dan anaknya.
Mei yang telah beranjak dewasa ingin punya sedikit ruang untuk dirinya sendiri. Dia juga ingin merasakan sedikit kebebasan dan menikmati masa remaja seperti orang lain. Namun, ibunya sepertinya tidak memahami ini dan dia—awalnya—tidak berani memberontak.
Konflik yang tidak terungkap ini akhirnya menjalar ke hubungan antara Meilin dengan tiga sahabatnya. Ming tidak suka teman-teman Meilin ini. Sementara, bagi Meilin, ketiga cewek itu sudah seperti soulmate-nya. Apalagi, mereka selalu mendukung satu sama lain. Ketiga cewek itu juga ada di sana ketika Meilin berubah menjadi panda merah.
![Review Film Turning Red: Rumitnya Hubungan Ibu dan Anak ABG]()
Turning Red mengemukakan konflik yang sering terjadi antara ibu dengan anaknya yang beranjak remaja atau mengalami pubertas. Meski tidak semua orang mengalami ini, tapi perubahan itu bisa berdampak pada hubungan ibu dan anaknya. Film ini dengan baik mempresentasikan hal itu dengan cara yang khas Pixar.
Keteguhan Ming sebagai seorang ibu yang ingin agar anaknya selalu aman akhirnya bertabrakan dengan keinginan Meilin untuk privasi dan sedikit kebebasan. Meilin pun berharap ibunya bisa memahaminya. Apalagi selama ini, Meilin merasa telah berusaha memenuhi harapan ibunya untuk menjadi anak baik-baik, berprestasi, dan ikut les sana sini.
Pubertas sering menjadi bahasan yang sulit antara orangtua dengan anaknya. Di masa itu, si anak biasanya sudah mulai sadar kalau dia punya pilihan yang bisa berbeda dengan orangtuanya. Dia akan lebih emosional dan ingin mengekspresikan dirinya. Di sisi lain, orangtua biasanya akan lebih waspada dengan perubahan tersebut. Ada kekhawatiran si anak terjerumus ke hal-hal yang salah.
Mei yang telah beranjak dewasa ingin punya sedikit ruang untuk dirinya sendiri. Dia juga ingin merasakan sedikit kebebasan dan menikmati masa remaja seperti orang lain. Namun, ibunya sepertinya tidak memahami ini dan dia—awalnya—tidak berani memberontak.
Konflik yang tidak terungkap ini akhirnya menjalar ke hubungan antara Meilin dengan tiga sahabatnya. Ming tidak suka teman-teman Meilin ini. Sementara, bagi Meilin, ketiga cewek itu sudah seperti soulmate-nya. Apalagi, mereka selalu mendukung satu sama lain. Ketiga cewek itu juga ada di sana ketika Meilin berubah menjadi panda merah.

Turning Red mengemukakan konflik yang sering terjadi antara ibu dengan anaknya yang beranjak remaja atau mengalami pubertas. Meski tidak semua orang mengalami ini, tapi perubahan itu bisa berdampak pada hubungan ibu dan anaknya. Film ini dengan baik mempresentasikan hal itu dengan cara yang khas Pixar.
Keteguhan Ming sebagai seorang ibu yang ingin agar anaknya selalu aman akhirnya bertabrakan dengan keinginan Meilin untuk privasi dan sedikit kebebasan. Meilin pun berharap ibunya bisa memahaminya. Apalagi selama ini, Meilin merasa telah berusaha memenuhi harapan ibunya untuk menjadi anak baik-baik, berprestasi, dan ikut les sana sini.
Pubertas sering menjadi bahasan yang sulit antara orangtua dengan anaknya. Di masa itu, si anak biasanya sudah mulai sadar kalau dia punya pilihan yang bisa berbeda dengan orangtuanya. Dia akan lebih emosional dan ingin mengekspresikan dirinya. Di sisi lain, orangtua biasanya akan lebih waspada dengan perubahan tersebut. Ada kekhawatiran si anak terjerumus ke hal-hal yang salah.
Lihat Juga :