Seperti Apa Konsultasi Ke Psikolog dan Psikiater? Ini Cerita Mereka yang Pernah Melakukannya

Sabtu, 12 Maret 2022 - 07:30 WIB
loading...
Seperti Apa Konsultasi...
Konsultasi ke psikolog atau berobat ke psikiater bukanlah hal yang tabu dan justru dianjurkan untuk mengatasi masalah gangguan mental. Foto/iStockphoto
A A A
JAKARTA - Isu tentang kesehatan mental kini semakin menjadi perhatian masyarakat. Ditambah dengan adanya pandemi COVID-19 yang membuat sebagian orang merasa cemas, takut, dan berpikir secara berlebihan.

Dari data World Health Organization (WHO) sepanjang Juni-Agustus 2020, masalah kesehatan mental yang dialami anak-anak hingga remaja mencapai 72%, sementara pada orang dewasa mencapai 70%.

Sementara di Indonesia, dari artikel yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 7 Oktober 2021, Dr Celestinus Eigya Munthe selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza menuturkan bahwa Indonesia memiliki orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk.

Ini artinya, sekitar 20% populasi di Indonesia mempunyai gejala dan potensi gangguan jiwa.

Seperti Apa Konsultasi Ke Psikolog dan Psikiater? Ini Cerita Mereka yang Pernah Melakukannya

Foto: iStockphoto

Pada anak muda, masalah gangguan kesehatan mental bisa dimulai sejak remaja. Misalnya yang terjadi pada Devany Liora, 20, mahasiswi Binus University jurusan Desain Interior.

Pada 2019 saat ia masih duduk di bangku SMA kelas 3, Devany mengalami perubahan suasana hati (mood) secara drastis. Ini membuatnya jadi selalu ingin makan dan tidur saja setiap hari.

Dari sini, Devany akhirnya berkonsultasi kepada wali kelasnya, dan ia disarankan mengunjungi psikolog di sekolah. Ketika berkonsultasi, Devany diminta menjawab beberapa pertanyaan, lalu melakukan proses konseling selama kurang lebih 45 menit.

Tak Langsung Cocok dengan Psikolog

Sayangnya, alih-alih mendapatkan jawaban dari psikolog yang dikunjunginya itu, Devany justru merasa tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Malahan, ia merasakan gangguan mentalnya makin membuatnya terpuruk.

Saat itu, Devany mengaku hanya disarankan melakukan ibadah yang ia pun sudah tahu bahwa hal tersebut wajib dilakukan. "Aku merasa tidak menemukan jawaban sama sekali dari hasil konselingku bersama psikolog sekolah,” ujarnya.

Seperti Apa Konsultasi Ke Psikolog dan Psikiater? Ini Cerita Mereka yang Pernah Melakukannya

Foto: iStockphoto

Pada akhirnya Devany memutuskan untuk melakukan konsultasi secara daring dengan psikiater lewat sebuah platform kesehatan. Dari situ, Devany mendapatkan obat berupa pil penenang untuk mempercepat proses penyembuhannya.

"Proses penyembuhannya cukup cepat, awal tahun 2021 aku dinyatakan sembuh dari gangguan mental dan tidak lagi melakukan konsultasi dengan psikiater," ujarnya.

Baca Juga: 7 Fakta dan Mitos tentang Kleptomania, Beda dengan Mengutil

Selain mengonsumsi obat, ia juga melakukan aktivitas yang mempercepat proses penyembuhannya. Ia aktif mengikuti perhimpunan mahasiswa di kampus dan organisasi lainnya untuk menyibukkan diri dan mengalihkan gangguan mentalnya.

Cerita dari Seorang Atlet

Seorang atlet yang erat kaitannya dengan fisik yang sehat pun tak berarti bebas dari masalah penyakit mental. Ini terjadi pada seorang atlet golf perempuan AA, 20. AA juga adalah mahasiswi Jurusan Komunikasi dan bekerja.

Pada Maret 2021, AA didiagnosis memiliki penyakit mental post-traumatic stress disorder(PTSD). Ini adalah bentuk gangguan kecemasan dan ketakutan yang berlebihan setelah mengalami peristiwa traumatis pada masa lalu.

Sejak saat itu, ia rutin berkonsultasi ke dua orang psikolog sekaligus. Satu psikolog untuk membantunya menangani masalah gangguan mental. Sementara satu lagi adalah psikolog mental coach untuk membantu AA berlatih bermain golf dengan gangguan mental yang ia miliki.

“Ada satu proses konsultasi yang menarik bagi aku, yaitu aku disuruh gambar dengan pensil warna tentang apa yang terlintas di otak aku pertama kali ketika mendengarkan sebuah lagu yang diputarkan oleh psikolog," cerita AA.

Butuh waktu lama untuk AA merasa menjadi lebih baik. Ini karena ia mengaku memiliki sifat keras kepala yang bisa memicu penyakitnya itu.

Seperti Apa Konsultasi Ke Psikolog dan Psikiater? Ini Cerita Mereka yang Pernah Melakukannya

Foto: iStockphoto

AA mengatakan, ketika gangguan mentalnya menyerang secara tiba-tiba, maka dia akan mendengarkan murottal (rekaman orang mengaji) atau mendengarkan musik favoritnya. “Aku juga suka ngaca di depan cermin sambil ngomong sama diri sendiri bahwa enggak apa-apa merasa enggak baik-baik aja," katanya.

Ia juga sering mengepalkan tangannya untuk menyalurkan emosi. "Kalau masalahnya enggak terselesaikan juga, biasanya aku langsung menghubungi psikolog aku," imbuhnya.

Tak Perlu Takut Stigma

Sementara Dian, 23,mahasiswi Universitas Padjajaran yang mengalami anxiety disorder (gejala kecemasan yang membawa kepanikan dan gangguan pascastres dari peristiwa masa lalu) pernah melakukan konsultasi daring.

Pada awal proses konsultasi, Dian diminta menceritakan semua unek-unek atau permasalahan yang terjadi dan bagaimana perasaan yang dialami pada saat itu. Dari situ Dian disarakan beberapa hal untuk mengatasi masalahnya.

“Aku benar-benar dikasih tau bahwa menjalani hidup harus dengan rileks dan aku ditantang untuk mencoba menyisihkan waktu ku dari kehidupan sehari-hari untuk olahraga, menenangkan pikiran dan pernapasan jika serangan panik muncul tiba-tiba,” kata Dian yang saat ini masih rutin melakukan konsultasi dengan psikolognya.

Seperti Apa Konsultasi Ke Psikolog dan Psikiater? Ini Cerita Mereka yang Pernah Melakukannya

Foto: Bigstock

Perihal stigma yang menimpa penderita gangguan mental, Devany mengatakan kekecewaannya. "Perlu digarisbawahi bahwa penyakit mental tidak seperti penyakit fisik, karena jika orang sudah mengalami gangguan mental, maka fisikinya pun akan ikut sakit," katanya.

Baca Juga: 3 Perbedaan Besar Business Proposal dengan Webtoon-nya yang Membuat Penonton Kecewa

Sementara AA mengatakan ia berusaha untuk mengabaikan anggapan buruk tentang penderita masalah kesehatan mental.

“Kita cuma punya dua tangan dan enggak mungkin dua tangan kita ini cukup untuk menutup mulut mereka yang berasumsi bahwa berkunjung ke psikolog merupakan hal yang gila. Yang kita lakukan sekarang hanyalah menutup kedua telinga kita dengan tangan kita sendiri untuk menjadi diri kita yang lebih baik lagi, karena hidupku adalah hidupku, dan hidupmu adalah hidup kamu," kata AA.

Amatu Syukur Naimah
Kontributor GenSINDO
Politeknik Negeri Media Kreatif
Instagram: @amatusyukur_
(ita)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
Wujudkan Ruang Aman...
Wujudkan Ruang Aman bagi Anak, Ibu-Ibu di Bajawa Dibekali Edukasi Pengasuhan dan Kesehatan
Saatnya Negara Memperkuat...
Saatnya Negara Memperkuat Profesi Psikolog Klinis
Rekomendasi
Blok M Jadi Lokasi Awal...
Blok M Jadi Lokasi Awal Penerapan Kawasan Rendah Emisi Jakarta
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Berita Terkini
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Tantri Kotak Beberkan...
Tantri Kotak Beberkan Awal Mula Jadi Korban Penipuan, Bermula dari Teman Sekolah Anak
Insting Buruknya Jadi...
Insting Buruknya Jadi Nyata! Pengemudi Ojol Ngaku Jadi Target Ilmu Hitam hingga Alami Kecelakaan
Sinopsis Sinetron Tobat...
Sinopsis Sinetron 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 4: Tingkah Lucu Warga Kampung Sindang Barang Tetap Mewarnai Suasana
Industri Perfilman Indonesia...
Industri Perfilman Indonesia Masuki Era Baru Pendanaan Digital, Puluhan Proyek Film Siap Dikembangkan
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved