CERMIN: Yuni di Bulan Juni
Sabtu, 18 Juni 2022 - 05:58 WIB
loading...
A
A
A
Fase masa kecil saya pada tahun 1980-1990. Melompat lebih dari 30 tahun kemudian dari Polewali ke Serang, yang saya lihat di Yuniadalah kemunduran. Banyak perempuan yang belum lagi tamat SMA terpaksa menikah. Banyak perempuan yang harus mengubur mimpinya ketika mereka keburu dilamar. Banyak perempuan yang akhirnya harus terkubur di dalam rumahnya sendiri.
Tapi Yuni adalah sebuah anomali. Ia tetap anak yang patuh pada orang tua, tapi ia juga manusia yang punya pemikiran merdeka. Dunianya yang semula sempit menjadi lebih leluasa ketika ia bertemu Suci, yang juga anomali. Sumbu keberaniannya dinyalakan oleh Suci.
![CERMIN: Yuni di Bulan Juni]()
Foto: Disney+ Hotstar
Yuni melihat perempuan selayaknya juga punya pilihan, meskipun pahit seperti yang dialami Suci. Tapi tetap saja itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu punya kalkulasinya masing-masing.
Hidup bukanlah matematika. Hidup tak punya jalan yang eksak. Ia senantiasa berliku, kadang berbelok tajam, bahkan harus jatuh ke jurang yang dalam. Pertanyaannya adalah beranikah kita menyalakan sumbu dalam diri kita untuk mengarungi hidup yang tak pasti itu?
Saya belum pernah mengenal langsung seseorang seperti Yuni. Mungkin karena saya tak pernah mengalami hidup sebagaimana yang dialami Yuni-Yuni lainnya di seluruh dunia. Pada jaman ketika kecerdasan buatan sudah menggantikan manusia, masih ada Yuni di Serang atau di Polewali atau di belahan lain negeri ini.
Mereka yang harus melawan patriarki dalam diam, dengan pelan. Bukan dengan berkoar-koar di media sosial atau membuat tulisan panjang di blog. Mereka yang harus berhadapan langsung dengan sebuah kondisi masyarakat yang terus terpelihara. Mereka yang berani mengambil pilihan berbeda di tengah stigma.
![CERMIN: Yuni di Bulan Juni]()
Foto: Disney+ Hotstar
Tapi Yuni adalah sebuah anomali. Ia tetap anak yang patuh pada orang tua, tapi ia juga manusia yang punya pemikiran merdeka. Dunianya yang semula sempit menjadi lebih leluasa ketika ia bertemu Suci, yang juga anomali. Sumbu keberaniannya dinyalakan oleh Suci.

Foto: Disney+ Hotstar
Yuni melihat perempuan selayaknya juga punya pilihan, meskipun pahit seperti yang dialami Suci. Tapi tetap saja itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu punya kalkulasinya masing-masing.
Hidup bukanlah matematika. Hidup tak punya jalan yang eksak. Ia senantiasa berliku, kadang berbelok tajam, bahkan harus jatuh ke jurang yang dalam. Pertanyaannya adalah beranikah kita menyalakan sumbu dalam diri kita untuk mengarungi hidup yang tak pasti itu?
Saya belum pernah mengenal langsung seseorang seperti Yuni. Mungkin karena saya tak pernah mengalami hidup sebagaimana yang dialami Yuni-Yuni lainnya di seluruh dunia. Pada jaman ketika kecerdasan buatan sudah menggantikan manusia, masih ada Yuni di Serang atau di Polewali atau di belahan lain negeri ini.
Mereka yang harus melawan patriarki dalam diam, dengan pelan. Bukan dengan berkoar-koar di media sosial atau membuat tulisan panjang di blog. Mereka yang harus berhadapan langsung dengan sebuah kondisi masyarakat yang terus terpelihara. Mereka yang berani mengambil pilihan berbeda di tengah stigma.

Foto: Disney+ Hotstar
Lihat Juga :