Jadi Sutradara Film Ghost Writer 2 dan Gara-gara Warisan, Muhadkly Acho Akui Sempat Ragu
Jum'at, 08 Juli 2022 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
“Akhirnya coba-coba cari tahu cara penulisan skenario. Di 2017 dapat kesempatan menulis skenario film panjang, Kapal Goyang Kapten. Dari situ ada penawaran lain juga kaya series Cek Toko Sebelah season 2, terus belakangan ikut di produksi Ernest Prakasa sebagai comedy consultant,” papar Acho.
Sejak saat itulah, sambung Acho, dia semakin merasa tidak hanya cukup menulis saja tapi juta harus menyutradarai. Meskipun tidak sekolah khusus sutradara, namun berkat dirinya terlibat sebagai comedy consultant dia bisa belajar banyak sebagai sutradara.
“Karena comedy consultant itu saya akan berada di samping sutradara terus. Apa yang dibutuhkan sutradara, apa yang disiapkan sampai akhirnya setelah tiga sampai empat berikutnya saya dapat kesempatan untuk menyutradarai film pertama yaitu ghost writer 2,” papar Acho.
Beralih profesi sebagai sutradara tanpa sekolah khusus membuatnya sempat ragu mengenai kemampuannya. Namun berkat pengalaman yang dimiliki, dia merasa mampu.
“Sebagai sineas cuma mengingat bahwa film bukan sebuah produk scientific. Ini karya seni nggak ada patokan benar atau salahnya. Itu yg jadi pertimbangan saya kenapa saya berani mengambil. Yg penting saya paham apa yang mau saya achieve, sampaikan dan bagaimana mengarahkannya. Ketika sudah bisa pegang, buat saya yang terpenting dalam penyutradaraan adalah bagaimana saya punya kemampuan untuk bertutur dan bercerita,” tutup Acho.
Sejak saat itulah, sambung Acho, dia semakin merasa tidak hanya cukup menulis saja tapi juta harus menyutradarai. Meskipun tidak sekolah khusus sutradara, namun berkat dirinya terlibat sebagai comedy consultant dia bisa belajar banyak sebagai sutradara.
“Karena comedy consultant itu saya akan berada di samping sutradara terus. Apa yang dibutuhkan sutradara, apa yang disiapkan sampai akhirnya setelah tiga sampai empat berikutnya saya dapat kesempatan untuk menyutradarai film pertama yaitu ghost writer 2,” papar Acho.
Beralih profesi sebagai sutradara tanpa sekolah khusus membuatnya sempat ragu mengenai kemampuannya. Namun berkat pengalaman yang dimiliki, dia merasa mampu.
“Sebagai sineas cuma mengingat bahwa film bukan sebuah produk scientific. Ini karya seni nggak ada patokan benar atau salahnya. Itu yg jadi pertimbangan saya kenapa saya berani mengambil. Yg penting saya paham apa yang mau saya achieve, sampaikan dan bagaimana mengarahkannya. Ketika sudah bisa pegang, buat saya yang terpenting dalam penyutradaraan adalah bagaimana saya punya kemampuan untuk bertutur dan bercerita,” tutup Acho.
(hri)
Lihat Juga :