Haley Moss, Pengacara Autis 'Extraordinary Attorney Woo' dalam Kehidupan Nyata
Kamis, 21 Juli 2022 - 13:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 5 Bocoran Extraordinary Attorney Woo untuk Episode-Episode Mendatang dari Sutradaranya
Haley tak hanya mampu lulus SMA, ia juga sanggup mengambil dua jurusan kuliah sekaligus. Ia lulus dari Univeristy of Florida dengan gelar Bachelor of Arts in Criminology & Law serta Bachelor of Science in Psychology pada 2015. Ia menyelesaikan dua jurusan ini dalam waktu tiga tahun.
Ia lalu kuliah lagi di University of Miami School of Law. Di sini, ia dinobatkan sebagai Miami Public Interest Scholar yang bertugas mempromosikan akses keadilan bagi semua orang. Ia juga menjadi pembicara alias Student Commencement Speaker saat acara wisuda pada Mei 2018.
Alami Diskriminasi dan Stigma yang Sama Seperti Woo Young-Woo
Menurut pengakuannya, saat masih bersekolah maupun setelah menjadi pengacara, ia kerap mengalami pengalaman diskriminatif dari banyak orang, bahkan dari orang tua yang anaknya autis.
"Beberapa orang tua yang memiliki anak autis memperlakukan saya seperti anak kecil, bukan sebagai salah satu rekan kerja mereka," ceritanya pada Korea Herald.
"Meskipun saya bersekolah di sekolah hukum yang sama, lulus ujian pengacara yang sama, dan memenuhi kualifikasi yang sama untuk profesi tersebut, saya sering merasa bahwa saya harus lebih bekerja keras membuktikan diri untuk mendapatkan rasa hormat dan kesempatan yang sama seperti yang didapatkan orang lain," ujarnya.
Karena pengalaman itulah, ia merasa yang tergambar dalam Extraordinary Attorney Woo dan diskriminasi serta stigma yang dialami Young-woo memang benar terjadi dalam kehidupan nyata.
![Haley Moss, Pengacara Autis 'Extraordinary Attorney Woo' dalam Kehidupan Nyata]()
Foto: Instagram @haley.moss
Haley lalu menyebut salah satu adegan dalam Extraordinary Attorney Woo, saat calon bos dan rekan kerjanya lebih memerhatikan catatan di CV bahwa Young-woo adalah autis, ketimbang fakta bahwa ia adalah lulusan terbaik dari kampus paling bergengsi di Korea Selatan. Menurut Haley, ia juga mengalami hal tersebut di lingkungan kerjanya.
"Banyak orang dengan spektrum autis takut untuk menyatakan diri mereka autis karena stigma negatif tentang autisme. Mereka tidak mau dilihat berbeda," ucapnya.
Haley tak hanya mampu lulus SMA, ia juga sanggup mengambil dua jurusan kuliah sekaligus. Ia lulus dari Univeristy of Florida dengan gelar Bachelor of Arts in Criminology & Law serta Bachelor of Science in Psychology pada 2015. Ia menyelesaikan dua jurusan ini dalam waktu tiga tahun.
Ia lalu kuliah lagi di University of Miami School of Law. Di sini, ia dinobatkan sebagai Miami Public Interest Scholar yang bertugas mempromosikan akses keadilan bagi semua orang. Ia juga menjadi pembicara alias Student Commencement Speaker saat acara wisuda pada Mei 2018.
Alami Diskriminasi dan Stigma yang Sama Seperti Woo Young-Woo
Menurut pengakuannya, saat masih bersekolah maupun setelah menjadi pengacara, ia kerap mengalami pengalaman diskriminatif dari banyak orang, bahkan dari orang tua yang anaknya autis.
"Beberapa orang tua yang memiliki anak autis memperlakukan saya seperti anak kecil, bukan sebagai salah satu rekan kerja mereka," ceritanya pada Korea Herald.
"Meskipun saya bersekolah di sekolah hukum yang sama, lulus ujian pengacara yang sama, dan memenuhi kualifikasi yang sama untuk profesi tersebut, saya sering merasa bahwa saya harus lebih bekerja keras membuktikan diri untuk mendapatkan rasa hormat dan kesempatan yang sama seperti yang didapatkan orang lain," ujarnya.
Karena pengalaman itulah, ia merasa yang tergambar dalam Extraordinary Attorney Woo dan diskriminasi serta stigma yang dialami Young-woo memang benar terjadi dalam kehidupan nyata.
.jpg)
Foto: Instagram @haley.moss
Haley lalu menyebut salah satu adegan dalam Extraordinary Attorney Woo, saat calon bos dan rekan kerjanya lebih memerhatikan catatan di CV bahwa Young-woo adalah autis, ketimbang fakta bahwa ia adalah lulusan terbaik dari kampus paling bergengsi di Korea Selatan. Menurut Haley, ia juga mengalami hal tersebut di lingkungan kerjanya.
"Banyak orang dengan spektrum autis takut untuk menyatakan diri mereka autis karena stigma negatif tentang autisme. Mereka tidak mau dilihat berbeda," ucapnya.
Lihat Juga :