CERMIN: di Balik Cahaya Gemerlapan
Rabu, 03 Agustus 2022 - 14:05 WIB
loading...
Film Backstage menunjukkan sisi gelap di balik kesuksesan seorang penyanyi. Foto/Paragon Pictures
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2021. Pandemi mulai surut, ekonomi belum stabil, dan Elsa mengejar mimpinya menjadi penyanyi.
Elsa bukanlah karakter dalam film animasi terkenal Frozen. Ia karakter utama dari film Indonesia berjudul Backstage. Ini adalah sebuah film tentang perjuangan menaklukkan mimpi. Ini adalah film tentang kelas pekerja negeri ini yang berani bermimpi setinggi mungkin: menjadi penyanyi terpopuler.
Elsa jelas cantik, ia juga jelas berbakat. Namun menyanyi bukanlah bakat terkuatnya. Justru Sandra, kakaknya, yang diberkahi anugerah bernyanyi dengan baik. Tapi baik Elsa maupun Sandra punya keterampilan lain: membohongi publik selama beberapa waktu.
![CERMIN: di Balik Cahaya Gemerlapan]()
Foto: Paragon Pictures
Ingatan kita pun melompat jauh ke tahun 1990-an dan bertemu kembali dengan Milli Vanilli. Tahun 1990, saya masih duduk di kelas 6 SD, dan tahu lagu-lagu Milli Vanilli yang diputar radio di mana-mana, tapi tak pernah curiga ada yang berbeda dari keduanya.
Tahun itu duo yang terdiri dari Fab Morvan dan Rob Pilatus itu berhasil membawa pulang Grammy Awards, penghargaan paling prestisius dalam industri musik. Dan kita sepakat Milli Vanilli pantas memperoleh predikat Best New Artist dan tak merasakan keanehan sedikit pun dari keduanya.
Namun bau busuk itu tak bisa lagi disembunyikan. Keduanya juga sudah capek berbohong dan akhirnya membuat pengakuan mengejutkan kepada publik. Grammy dikembalikan pada November 1990, dan kisah ini berakhir tragis setelah Pilatus ditemukan tewas karena overdosis delapan tahun setelahnya.
Elsa dan Sandra bukanlah Fab dan Rob. Keduanya kakak beradik sehingga secara emosional lebih sulit untuk membohongi publik dalam waktu lama. Keduanya terikat satu sama lain. Keduanya juga tak ingin kembali ke masa saat ibu mereka bekerja keras memenuhi pesanan dimsum agar mereka bisa bertahan.
Tapi, sejauh mana ketamakan mencicipi sukses bisa tertutupi oleh hati nurani yang terus memberontak?
Elsa bukanlah karakter dalam film animasi terkenal Frozen. Ia karakter utama dari film Indonesia berjudul Backstage. Ini adalah sebuah film tentang perjuangan menaklukkan mimpi. Ini adalah film tentang kelas pekerja negeri ini yang berani bermimpi setinggi mungkin: menjadi penyanyi terpopuler.
Elsa jelas cantik, ia juga jelas berbakat. Namun menyanyi bukanlah bakat terkuatnya. Justru Sandra, kakaknya, yang diberkahi anugerah bernyanyi dengan baik. Tapi baik Elsa maupun Sandra punya keterampilan lain: membohongi publik selama beberapa waktu.

Foto: Paragon Pictures
Ingatan kita pun melompat jauh ke tahun 1990-an dan bertemu kembali dengan Milli Vanilli. Tahun 1990, saya masih duduk di kelas 6 SD, dan tahu lagu-lagu Milli Vanilli yang diputar radio di mana-mana, tapi tak pernah curiga ada yang berbeda dari keduanya.
Tahun itu duo yang terdiri dari Fab Morvan dan Rob Pilatus itu berhasil membawa pulang Grammy Awards, penghargaan paling prestisius dalam industri musik. Dan kita sepakat Milli Vanilli pantas memperoleh predikat Best New Artist dan tak merasakan keanehan sedikit pun dari keduanya.
Namun bau busuk itu tak bisa lagi disembunyikan. Keduanya juga sudah capek berbohong dan akhirnya membuat pengakuan mengejutkan kepada publik. Grammy dikembalikan pada November 1990, dan kisah ini berakhir tragis setelah Pilatus ditemukan tewas karena overdosis delapan tahun setelahnya.
Elsa dan Sandra bukanlah Fab dan Rob. Keduanya kakak beradik sehingga secara emosional lebih sulit untuk membohongi publik dalam waktu lama. Keduanya terikat satu sama lain. Keduanya juga tak ingin kembali ke masa saat ibu mereka bekerja keras memenuhi pesanan dimsum agar mereka bisa bertahan.
Tapi, sejauh mana ketamakan mencicipi sukses bisa tertutupi oleh hati nurani yang terus memberontak?
Lihat Juga :