CERMIN: Lupakan Sambo, Selamat Datang Samiadji
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 07:14 WIB
loading...
A
A
A
Semakin lama durasi film berjalan, kita tahu betapa berat risiko menjadi polisi sepertinya. Rudi Soedjarwo dengan gemilang memperlihatkan proses pengintaian atas terduga teroris dilakukan diam-diam, bagaimana mereka membekuknya dan berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin demi menghindari teror terjadi lagi.
Baca Juga: CERMIN: Ada Apa dengan Larry Hall?
Semakin lama durasi film berjalan, kita juga tahu betapa beratnya menjadi seorang istri polisi. Nani tak pernah tahu apakah suami yang menghabiskan nasi goreng buatannya pada pagi hari bakal masih hidup dan kembali pada malam hari untuk menghabiskan malam bersamanya. Kita memahami kegundahan Nani dan bagaimana ia mesti bergelut dengan kenyataan itu setiap hari.
Teror selalu menghantui kehidupan Adji dan Nani. Adji yang harus selalu sigap dengan informasi tentang terduga teroris, dan Nani yang harus terus deg-degan dengan keselamatan dan nyawa suaminya.
Sementara teroris menghabiskan waktu, biaya, dan energi luar biasa untuk menegakkan perjuangan atas nama …. entahlah. Juga rela mengorbankan nyawa siapa pun yang menghalangi aksi teror yang dilakukan.
![CERMIN: Lupakan Sambo, Selamat Datang Samiadji]()
Foto: Maxima Pictures
Dari mana datangnya teror? Bisa jadi dari kesalahpahaman. Bisa saja dari ketidaktahuan. Juga bisa datang dari kebencian. Atau dari rasa waswas yang berlebihan. Dalam situasi tak terduga, kesemua unsur bisa bersatu dan menghasilkan sintesis berupa teror.
Sebuah perilaku yang membenarkan melakukan apa pun untuk mencapai yang diinginkan. Kebenaran tak lagi benar dan kesalahan hanya tampak semacam omong kosong.
Tapi teror juga konon datang dari agama. Lucretius, penyair dan pemikir Romawi, menggambarkan agama [religio] sebagai monster.
….. di seluruh negeri,
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari Lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan
Baca Juga: CERMIN: Ada Apa dengan Larry Hall?
Semakin lama durasi film berjalan, kita juga tahu betapa beratnya menjadi seorang istri polisi. Nani tak pernah tahu apakah suami yang menghabiskan nasi goreng buatannya pada pagi hari bakal masih hidup dan kembali pada malam hari untuk menghabiskan malam bersamanya. Kita memahami kegundahan Nani dan bagaimana ia mesti bergelut dengan kenyataan itu setiap hari.
Teror selalu menghantui kehidupan Adji dan Nani. Adji yang harus selalu sigap dengan informasi tentang terduga teroris, dan Nani yang harus terus deg-degan dengan keselamatan dan nyawa suaminya.
Sementara teroris menghabiskan waktu, biaya, dan energi luar biasa untuk menegakkan perjuangan atas nama …. entahlah. Juga rela mengorbankan nyawa siapa pun yang menghalangi aksi teror yang dilakukan.

Foto: Maxima Pictures
Dari mana datangnya teror? Bisa jadi dari kesalahpahaman. Bisa saja dari ketidaktahuan. Juga bisa datang dari kebencian. Atau dari rasa waswas yang berlebihan. Dalam situasi tak terduga, kesemua unsur bisa bersatu dan menghasilkan sintesis berupa teror.
Sebuah perilaku yang membenarkan melakukan apa pun untuk mencapai yang diinginkan. Kebenaran tak lagi benar dan kesalahan hanya tampak semacam omong kosong.
Tapi teror juga konon datang dari agama. Lucretius, penyair dan pemikir Romawi, menggambarkan agama [religio] sebagai monster.
….. di seluruh negeri,
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari Lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan
Lihat Juga :