Label Skincare Dunia Mulai Ubah Arti Kecantikan, Merek Lokal Sudah Sedari Awal!
Rabu, 01 Juli 2020 - 18:07 WIB
loading...
A
A
A
Kamu udah pernah dengar Mad For Makeup (MFM)? Merek ini dibangun oleh dr. Shirley Oslan, seorang ahli kecantikan, dan Tony Tan yang punya latar belakang teknik.
![Label Skincare Dunia Mulai Ubah Arti Kecantikan, Merek Lokal Sudah Sedari Awal!]()
Foto: Instagram @madformakeup.co
Tujuannya adalah memberontak (rebel) terhadap standar kecantikan yang ada dan memberikan kecantikan berkualitas tinggi untuk semua orang. Inilah makanya konsumen mereka disapa dengan sebutan "Rebels".
Menurut Head of Marketing Mad for Makeup Sinthia Delvi Alexander, label mereka punya lima cara untuk mengubah stigma standar kecantikan.
Pertama, MFM mengedepankan nilai empati dan kepedulian terhadap konsumen, yang mayoritas adalah anak muda usia 18-24 tahun. Menurut mereka, kecantikan itu mengenai menjadi dan mencintai diri sendiri.
Bahkan, sebagai refleksi dari nilai ini, mereka pernah memakai kostum pegawai SPBU dalam sebuah festival untuk menunjukkan bahwa semua kalangan layak menjadi cantik.
Kedua, mereka mencoba merepresentasikan seluruh segmen pasar di Indonesia, dengan warna kulit apa pun.
Yang menarik, dari segi marketing, mereka menggunakan model laki-laki dalam video pemasaran produk terbarunya. Ternyata, video ini menjadi video favorit para Rebels.
![Label Skincare Dunia Mulai Ubah Arti Kecantikan, Merek Lokal Sudah Sedari Awal!]()
Foto: Instagram @madformakeup.co
Ketiga, alih-alih menggunakan model profesional, mereka justru memanfaatkan audiensnya sebagai model mereka sendiri. Upaya ini dilakukan agar karya-karya MFM menjadi lebih autentik dan memanfaatkan potensi dari para Rebels.

Foto: Instagram @madformakeup.co
Tujuannya adalah memberontak (rebel) terhadap standar kecantikan yang ada dan memberikan kecantikan berkualitas tinggi untuk semua orang. Inilah makanya konsumen mereka disapa dengan sebutan "Rebels".
Menurut Head of Marketing Mad for Makeup Sinthia Delvi Alexander, label mereka punya lima cara untuk mengubah stigma standar kecantikan.
Pertama, MFM mengedepankan nilai empati dan kepedulian terhadap konsumen, yang mayoritas adalah anak muda usia 18-24 tahun. Menurut mereka, kecantikan itu mengenai menjadi dan mencintai diri sendiri.
Bahkan, sebagai refleksi dari nilai ini, mereka pernah memakai kostum pegawai SPBU dalam sebuah festival untuk menunjukkan bahwa semua kalangan layak menjadi cantik.
Kedua, mereka mencoba merepresentasikan seluruh segmen pasar di Indonesia, dengan warna kulit apa pun.
Yang menarik, dari segi marketing, mereka menggunakan model laki-laki dalam video pemasaran produk terbarunya. Ternyata, video ini menjadi video favorit para Rebels.

Foto: Instagram @madformakeup.co
Ketiga, alih-alih menggunakan model profesional, mereka justru memanfaatkan audiensnya sebagai model mereka sendiri. Upaya ini dilakukan agar karya-karya MFM menjadi lebih autentik dan memanfaatkan potensi dari para Rebels.