Ferdy Sambo Tampak Tenang Jalani Rekonstruksi, Pakar Mikro Ekspresi Singgung Faktor Pangkat Tinggi
Jum'at, 02 September 2022 - 18:10 WIB
loading...
Ferdy Sambo, tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat tampak tenang saat jalani rekonstruksi, Selasa 30 Agustus 2022. Foto/Antara/Asprilla Dwi Adha
A
A
A
JAKARTA - Ferdy Sambo , tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat tampak tenang saat jalani rekonstruksi, Selasa 30 Agustus 2022. Pakar Mikro ekspresi, Kirdi Putra menilai hal itu dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pangkat.
Menurut Kirdi Putra ekspresi wajah Irjen Ferdy Sambo sangat tenang saat disorot kamera, meskipun dalam kondisi memakai baju tahanan berwarna oranye dengan kondisi tangan terikat borgol plastik.
"FS ketika datang tidak ada menghindar paparan visual, artinya apa, tidak ada menunduk atau menghindari tatapan orang sekitar," ungkap Kirdi Putra di YouTube salah satu acara stasiun televisi swasta yang dikutip, Jumat (2/09/2022).
Bahkan Kirdi Putra juga menduga sikap tenang yang ditunjukkan Ferdy Sambo dengan tidak berusaha memalingkan wajah dari sorotan kamera menjadi penilaian tersendiri.
Baca Juga: Momen Putri Candrawathi Pakaikan Ferdy Sambo Masker saat Rekonstruksi
">Menurut Kirdi Putra ekspresi wajah Irjen Ferdy Sambo sangat tenang saat disorot kamera, meskipun dalam kondisi memakai baju tahanan berwarna oranye dengan kondisi tangan terikat borgol plastik.
"FS ketika datang tidak ada menghindar paparan visual, artinya apa, tidak ada menunduk atau menghindari tatapan orang sekitar," ungkap Kirdi Putra di YouTube salah satu acara stasiun televisi swasta yang dikutip, Jumat (2/09/2022).
Bahkan Kirdi Putra juga menduga sikap tenang yang ditunjukkan Ferdy Sambo dengan tidak berusaha memalingkan wajah dari sorotan kamera menjadi penilaian tersendiri.
Baca Juga: Momen Putri Candrawathi Pakaikan Ferdy Sambo Masker saat Rekonstruksi
"Ini nggak kelihatan, nggak ada. Yang ada justru tatapannya tegak. Ini bisa kita ambil dua kemungkinan terbesar," beber Kirdi.
Maka dari itu, Kirdi menduga hal itu dipicu karena beberapa faktor kemungkinan. Mulai dari kebiasaannya saat bekerja, juga karena perasaan memiliki pangkat lebih tinggi.
"Pertama karena dia punya kebiasaan sekian puluh tahun di kepolisian dan biasanya dia adalah faktor dominan dalam ruangan, dan pangkatnya lumayan cukup tinggi," tutur Kirdi.