Review dan Sinopsis Jeepers Creepers: Reborn: Horor Garing
Jum'at, 16 September 2022 - 19:19 WIB
loading...
A
A
A
Pasangan itu kemudian di-setting untuk memenangkan undian hadiah utama, yaitu berkunjung ke sebuah rumah tua. Kehadiran mereka di tempat itu direncanakan akan di-streaming live. Tapi, seperti yang sudah-sudah. Rencana itu pun berubah dan kejadian “mengerikan” terjadi pada mereka.
Film ini punya plot yang dangkal. Berbeda dengan penggambaran Creepers sebelumnya, tak banyak mayat yang menumpuk di film ini. Alih-alih memburu banyak mangsa, Creepers malah fokus pada Laine. Premis pergi ke festival horor terasa garing karena festival itu tidak banyak pengunjungnya. Bahkan tidak ada kesan mengerikan di sana. Selain itu, alih-alih menjadikannya ladang makanan, Creepers tidak melakukan banyak aksi di tempat itu. Pokoknya harus dapat Laine, yang lain hanya bonus.
Yang membuat film ini lebih terasa kegaringannya adalah tidak ada chemistry antara Laine dan Chase. Ketika film ini memperkenalkan mereka, keduanya tidak terlihat seperti pasangan kekasih, tapi teman biasa. Chase lebih terlihat senang membahas Creepers dan tetek bengeknya dibanding Laine yang selalu skeptis. Selain itu, akting Imran Adams sebagai Chase tidak meyakinkan. Dia terlalu banyak tersenyum dan selalu terlihat “nggumunan”. Sementara, Sydney Craven yang memerankan Laine terlihat kaku di sebagian besar film ini.
![Review dan Sinopsis Jeepers Creepers: Reborn: Horor Garing]()
Foto: Collider
Film ini tidak menawarkan apa pun pada penontonnya selain hiburan kelas B yang garing. Orang mungkin menemukan jump scare standar di film ini. Penampakan Creepers sama sekali tidak menakutkan—setidaknya buat saya. Kehadirannya pun tidak bikin merinding atau takut karena sangat standar. Namun, tentu saja, orang mungkin akan berpikir kalau film ini begitu jelek sampai terasa bagus. Ya, wajar, selera orang beda-beda.
Satu lagi yang terasa mengganjal di film ini adalah editing-nya. Di adegan aksi, editing efeknya terasa kasar. Sejumlah efek terasa masih kasar dan benar-benar terlihat seperti efek film-film di masa awal 90-an, kalau mau kejam. Dengan perkembangan teknologi seperti sekarang, seharusnya film ini tampil baik.
![Review dan Sinopsis Jeepers Creepers: Reborn: Horor Garing]()
Foto: Twitter
Perubahan sutradara dari Victor Salva yang tersandung kasus pelecehan seksual ke Timo Vuorensola tidak memberikan tambahan apa-apa. Film ini terasa hambar, datar, dan membosankan. Selama 88 menit, kalian harus tahan dengan akting di bawah standar dan dialog membosankan dari para pemainnya. Belum lagi elemen horor yang biasa banget dan Creepers yang tidak menakutkan sama sekali.
Film ini punya plot yang dangkal. Berbeda dengan penggambaran Creepers sebelumnya, tak banyak mayat yang menumpuk di film ini. Alih-alih memburu banyak mangsa, Creepers malah fokus pada Laine. Premis pergi ke festival horor terasa garing karena festival itu tidak banyak pengunjungnya. Bahkan tidak ada kesan mengerikan di sana. Selain itu, alih-alih menjadikannya ladang makanan, Creepers tidak melakukan banyak aksi di tempat itu. Pokoknya harus dapat Laine, yang lain hanya bonus.
Yang membuat film ini lebih terasa kegaringannya adalah tidak ada chemistry antara Laine dan Chase. Ketika film ini memperkenalkan mereka, keduanya tidak terlihat seperti pasangan kekasih, tapi teman biasa. Chase lebih terlihat senang membahas Creepers dan tetek bengeknya dibanding Laine yang selalu skeptis. Selain itu, akting Imran Adams sebagai Chase tidak meyakinkan. Dia terlalu banyak tersenyum dan selalu terlihat “nggumunan”. Sementara, Sydney Craven yang memerankan Laine terlihat kaku di sebagian besar film ini.

Foto: Collider
Film ini tidak menawarkan apa pun pada penontonnya selain hiburan kelas B yang garing. Orang mungkin menemukan jump scare standar di film ini. Penampakan Creepers sama sekali tidak menakutkan—setidaknya buat saya. Kehadirannya pun tidak bikin merinding atau takut karena sangat standar. Namun, tentu saja, orang mungkin akan berpikir kalau film ini begitu jelek sampai terasa bagus. Ya, wajar, selera orang beda-beda.
Satu lagi yang terasa mengganjal di film ini adalah editing-nya. Di adegan aksi, editing efeknya terasa kasar. Sejumlah efek terasa masih kasar dan benar-benar terlihat seperti efek film-film di masa awal 90-an, kalau mau kejam. Dengan perkembangan teknologi seperti sekarang, seharusnya film ini tampil baik.

Foto: Twitter
Perubahan sutradara dari Victor Salva yang tersandung kasus pelecehan seksual ke Timo Vuorensola tidak memberikan tambahan apa-apa. Film ini terasa hambar, datar, dan membosankan. Selama 88 menit, kalian harus tahan dengan akting di bawah standar dan dialog membosankan dari para pemainnya. Belum lagi elemen horor yang biasa banget dan Creepers yang tidak menakutkan sama sekali.
Lihat Juga :