CERMIN: Pemberontakan Elvis Presley
Sabtu, 24 September 2022 - 19:55 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: CERMIN: Gadis Paya dan Prasangka Kita
Drama memang lebih banyak terjadi di balik panggung. Masa kecil Elvis tak sepenuhnya menyenangkan. Ia terasing dari “sesamanya” dan justru berakibat positif membuat dirinya melihat tak ada beda antara kulit putih dan hitam. Hanya beda warna kulit semata, tak lebih.
Elvis mendapatkan banyak pengaruh musiknya dari jenis musik yang biasa dilantunkan musisi kulit hitam. Ia merayakannya dengan caranya sendiri. Ia melakukan pemberontakan dalam usianya yang masih muda pertama kali melalui musik.
![CERMIN: Pemberontakan Elvis Presley]()
Foto: HBO Go
Baz Luhrmann membangun semesta Elvisdengan segala kemegahannya, serba chaotic, tumpang tindih, sebagaimana hidup Elvis sesungguhnya yang akhirnya berbalik 180 derajat setelah ia mulai mengecap sukses. Di tangannya, dunia Elvis berwarna-warni dan riuh, tak pernah betul-betul tenang hingga ketika ia berduka.
Dunia Elvis berubah menjadi hitam putih ketika ia berduka dengan kematian Martin Luther King. Sosok penting di balik perjuangan kaum kulit hitam menuju kesetaraan. Hatinya hancur melihat dunia yang berduka dan sedang tak baik-baik saja. Tapi akhirnya ia sadar bahwa ia punya senjata paling ampuh untuk diledakkan.
Senjata itu adalah musik. “Jika kata-kata terlalu berbahaya untuk dilontarkan, maka nyanyikanlah”. Elvis menjelma lebih dari sekadar penyanyi dengan sosok urakan, musik menggetarkan rock ‘n roll, dan gerakan pinggul yang membuat perempuan-perempuan muda menjerit. Ia tahu ia lebih dari itu. Ia menggunakan musik untuk menyampaikan keresahan hatinya.
![CERMIN: Pemberontakan Elvis Presley]()
Foto: HBO Go
Drama memang lebih banyak terjadi di balik panggung. Masa kecil Elvis tak sepenuhnya menyenangkan. Ia terasing dari “sesamanya” dan justru berakibat positif membuat dirinya melihat tak ada beda antara kulit putih dan hitam. Hanya beda warna kulit semata, tak lebih.
Elvis mendapatkan banyak pengaruh musiknya dari jenis musik yang biasa dilantunkan musisi kulit hitam. Ia merayakannya dengan caranya sendiri. Ia melakukan pemberontakan dalam usianya yang masih muda pertama kali melalui musik.

Foto: HBO Go
Baz Luhrmann membangun semesta Elvisdengan segala kemegahannya, serba chaotic, tumpang tindih, sebagaimana hidup Elvis sesungguhnya yang akhirnya berbalik 180 derajat setelah ia mulai mengecap sukses. Di tangannya, dunia Elvis berwarna-warni dan riuh, tak pernah betul-betul tenang hingga ketika ia berduka.
Dunia Elvis berubah menjadi hitam putih ketika ia berduka dengan kematian Martin Luther King. Sosok penting di balik perjuangan kaum kulit hitam menuju kesetaraan. Hatinya hancur melihat dunia yang berduka dan sedang tak baik-baik saja. Tapi akhirnya ia sadar bahwa ia punya senjata paling ampuh untuk diledakkan.
Senjata itu adalah musik. “Jika kata-kata terlalu berbahaya untuk dilontarkan, maka nyanyikanlah”. Elvis menjelma lebih dari sekadar penyanyi dengan sosok urakan, musik menggetarkan rock ‘n roll, dan gerakan pinggul yang membuat perempuan-perempuan muda menjerit. Ia tahu ia lebih dari itu. Ia menggunakan musik untuk menyampaikan keresahan hatinya.

Foto: HBO Go
Lihat Juga :