Angka Keberhasilan IVF Meroket, Malaysia Jadi Pusat Fertilitas di Asia
Rabu, 28 September 2022 - 15:07 WIB
loading...
Sebagai Pusat Fertilitas Asia, Malaysia memberikan harapan bagi banyak pasangan untuk mewujudkan impian mereka untuk memiliki keturunan & membina keluarga yang bahagia. Foto/Istimewa
A
A
A
KUALA LUMPUR - Malaysia menjadi salah satu destinasi yang diburu oleh para pelancong perawatan kesehatan untuk memperoleh layanan fertilitas. Dengan mengakomodasi pusat-pusat fertilitas kelas dunia seperti Alpha IVF & Women's Specialists (Alpha), Sunfert International Fertility Centre (Sunfert), TMC Fertility & Women’s Specialist Centre (TMC), dan Sunway Fertility Centre (Sunway), negara ini terus membangun reputasi berkat kemajuan perawatan fertilitas dan angka kehamilan yang sangat sukses.
Dengan angka keberhasilan 82,9% dalam hal fertilisasi in vitro (IVF), perawatan fertilitas Alpha telah naik ke level berikutnya dengan sistem pemantauan tumbuh kembang embrio EmbryoScope+. Jika dibandingkan dengan asesmen morfologis embriologi standar, embryoscope, yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan peningkatan akurasi 25% dalam memilih embrio yang sehat untuk ditanam ke rahim sehingga meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan.
“Kami sangat bahagia bisa membantu satu pasangan tahun 2021 mendapatkan bayi yang sehat menggunakan algoritme perangkat lunak. Prestasi besar sebagai yang pertama di Asia Tenggara dalam mendapatkan bayi yang sehat menggunakan AI sangatlah berarti bagi kami,” papar Adelle Lim, Chief Embriologist di pusat kesehatan tersebut melalui keterangan tertulis, Rabu (28/9/2022).
Sementara, komitmen Sunfert untuk memanfaatkan inovasi terbaru dengan pendekatan berfokus pasien telah membuahkan angka keberhasilan hingga 68% bagi pasien berusia 40 hingga 44 tahun menggunakan siklus transfer embrio beku (FET) dan tes genetik praimplantasi (PGT).
Dr. Lim Lei Jun, Medical Director dan Fertility Specialist di Sunfert, yakin bahwa personalisasi perawatan untuk masing-masing pasien sangatlah penting sebab embrio itu berbeda untuk setiap pasangan. Di sinilah pentingnya membangun interaksi yang baik antara dokter dan pasien.
“Intinya, IVF itu murni keahlian. Kami memandangnya sebagai perkawinan antara teknologi dan manusia. Keduanya harus saling mendukung agar diagnosis dan perawatan yang tepat bisa diberikan,” tandasnya.
Kemudian TMC, mereka sudah memanfaatkan teknologi medis untuk mencapai keberhasilan angka kehamilan klinis sebesar 83% untuk pasien berusia di atas 35 tahun menggunakan pemantauan tumbuh kembang dengan PGT-Aneuploidi (PGT-A). Belum lama berselang, pusat layanan kesehatan ini memperkenalkan dua teknologi pemindaian Fertility GeneCode dan My GeneCode sebagai upaya untuk menjamin peluang keberhasilan yang lebih tinggi dalam perawatan fertilitas bagi setiap pasangan.
Dengan angka keberhasilan 82,9% dalam hal fertilisasi in vitro (IVF), perawatan fertilitas Alpha telah naik ke level berikutnya dengan sistem pemantauan tumbuh kembang embrio EmbryoScope+. Jika dibandingkan dengan asesmen morfologis embriologi standar, embryoscope, yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan peningkatan akurasi 25% dalam memilih embrio yang sehat untuk ditanam ke rahim sehingga meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan.
“Kami sangat bahagia bisa membantu satu pasangan tahun 2021 mendapatkan bayi yang sehat menggunakan algoritme perangkat lunak. Prestasi besar sebagai yang pertama di Asia Tenggara dalam mendapatkan bayi yang sehat menggunakan AI sangatlah berarti bagi kami,” papar Adelle Lim, Chief Embriologist di pusat kesehatan tersebut melalui keterangan tertulis, Rabu (28/9/2022).
Sementara, komitmen Sunfert untuk memanfaatkan inovasi terbaru dengan pendekatan berfokus pasien telah membuahkan angka keberhasilan hingga 68% bagi pasien berusia 40 hingga 44 tahun menggunakan siklus transfer embrio beku (FET) dan tes genetik praimplantasi (PGT).
Dr. Lim Lei Jun, Medical Director dan Fertility Specialist di Sunfert, yakin bahwa personalisasi perawatan untuk masing-masing pasien sangatlah penting sebab embrio itu berbeda untuk setiap pasangan. Di sinilah pentingnya membangun interaksi yang baik antara dokter dan pasien.
“Intinya, IVF itu murni keahlian. Kami memandangnya sebagai perkawinan antara teknologi dan manusia. Keduanya harus saling mendukung agar diagnosis dan perawatan yang tepat bisa diberikan,” tandasnya.
Kemudian TMC, mereka sudah memanfaatkan teknologi medis untuk mencapai keberhasilan angka kehamilan klinis sebesar 83% untuk pasien berusia di atas 35 tahun menggunakan pemantauan tumbuh kembang dengan PGT-Aneuploidi (PGT-A). Belum lama berselang, pusat layanan kesehatan ini memperkenalkan dua teknologi pemindaian Fertility GeneCode dan My GeneCode sebagai upaya untuk menjamin peluang keberhasilan yang lebih tinggi dalam perawatan fertilitas bagi setiap pasangan.
Lihat Juga :