CERMIN: Apa yang Ingin Kau Ceritakan, David?
Sabtu, 08 Oktober 2022 - 06:55 WIB
loading...
A
A
A
Dalam Amsterdam,kita bertemu dengan tiga karakter utama: Burt, Harold, dan Valerie. Ketiganya bertemu di sebuah medan perang dan akhirnya menjalin persahabatan. Mereka membuat janji untuk selalu saling menolong. Ketika perang telah usai, ketiganya harus berhadapan dengan jenis perang baru. Di sinilah persahabatan mereka diuji sempurna.
Meski berlatar belakang pembuat film, saya justru sering membiarkan diri saya tak terekspos dengan sinopsis atau secuplik cerita dari film yang akan saya tonton. Biasanya saya hanya menyaksikan trailer, poster atau tertarik dengan sutradara atau para aktor-aktrisnya. Ketika menyaksikan Amsterdam, saya sama sekali tak punya bayangan bahwa David akan bercerita tentang apa. Dengan naif saya menyangka ia 'hanya' akan bercerita soal persahabatan.
![CERMIN: Apa yang Ingin Kau Ceritakan, David?]()
Foto: 20th Century Studios
Tapi saya salah besar. David mengajak saya memasuki lorong berliku-liku dengan niat untuk bercerita banyak hal. Tapi jika bisa dimampatkan, ia ingin bercerita satu hal: konspirasi. David mungkin ingin menjahili penontonnya, termasuk saya, untuk masuk dulu ke semesta penceritaannya untuk kemudian sadar bahwa kita diajak memasuki labirin.
Amsterdamsangat berbeda dengan The Fighteratau Silver Linings Playbookyang terasa dekat buat saya karena bercerita soal keluarga. Saya mungkin masih terkoneksi dengan Amsterdamdalam konteks persahabatan trio Burt-Harold-Valerie. Namun di luar itu semua, saya tidak paham apa sebenarnya yang ingin diceritakan David.
Mungkin karena bercerita hal-hal besar membuat saya merasa David kehilangan arah kali ini. Terutama soal penceritaan yang terkesan bertele-tele. Mungkin dengan maksud ingin menipu penonton naif seperti saya. Atau mungkin juga memang diniatkan untuk membahas beragam topik. Tapi saya merasa lebih baik David kembali ke akarnya: bercerita soal keluarga Amerika.
Saya belum pernah menyutradarai film panjang. Menyutradarai serial 10 episode dengan durasi 20-an menit per episode sudah pernah. Satu hal yang selalu saya wanti-wanti sejak proses penulisan adalah bagaimana membuat cerita selalu fokus.
![CERMIN: Apa yang Ingin Kau Ceritakan, David?]()
Foto: 20th Century Studios
Meski berlatar belakang pembuat film, saya justru sering membiarkan diri saya tak terekspos dengan sinopsis atau secuplik cerita dari film yang akan saya tonton. Biasanya saya hanya menyaksikan trailer, poster atau tertarik dengan sutradara atau para aktor-aktrisnya. Ketika menyaksikan Amsterdam, saya sama sekali tak punya bayangan bahwa David akan bercerita tentang apa. Dengan naif saya menyangka ia 'hanya' akan bercerita soal persahabatan.

Foto: 20th Century Studios
Tapi saya salah besar. David mengajak saya memasuki lorong berliku-liku dengan niat untuk bercerita banyak hal. Tapi jika bisa dimampatkan, ia ingin bercerita satu hal: konspirasi. David mungkin ingin menjahili penontonnya, termasuk saya, untuk masuk dulu ke semesta penceritaannya untuk kemudian sadar bahwa kita diajak memasuki labirin.
Amsterdamsangat berbeda dengan The Fighteratau Silver Linings Playbookyang terasa dekat buat saya karena bercerita soal keluarga. Saya mungkin masih terkoneksi dengan Amsterdamdalam konteks persahabatan trio Burt-Harold-Valerie. Namun di luar itu semua, saya tidak paham apa sebenarnya yang ingin diceritakan David.
Mungkin karena bercerita hal-hal besar membuat saya merasa David kehilangan arah kali ini. Terutama soal penceritaan yang terkesan bertele-tele. Mungkin dengan maksud ingin menipu penonton naif seperti saya. Atau mungkin juga memang diniatkan untuk membahas beragam topik. Tapi saya merasa lebih baik David kembali ke akarnya: bercerita soal keluarga Amerika.
Saya belum pernah menyutradarai film panjang. Menyutradarai serial 10 episode dengan durasi 20-an menit per episode sudah pernah. Satu hal yang selalu saya wanti-wanti sejak proses penulisan adalah bagaimana membuat cerita selalu fokus.

Foto: 20th Century Studios
Lihat Juga :