Mengenang Johan Tjasmadi Tokoh Film Indonesia yang Telah Tiada

Sabtu, 08 Oktober 2022 - 07:57 WIB
loading...
Mengenang Johan Tjasmadi...
Gerimis mengiringi pemakaman tokoh bioskop dan film Nasional, HM Johan Tjasmadi di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/2022) siang pukul 14.00 WIB. Foto/Ilham Bintang
A A A
JAKARTA - Gerimis mengiringi pemakaman tokoh bioskop dan film Nasional, HM Johan Tjasmadi di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/2022) siang pukul 14.00 WIB. Ia diantar istri, anak, cucu, kerabat, dan sahabat ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Pak John - panggilan akrab almarhum - meninggal dunia di rumahnya Jumat pagi pukul 09.00 WIB dalam usia 85 tahun.

"Menjelang wafatPak John tetap sadar. Detik-detik terakhir, saya yang menuntun membaca syahadat dan almarhum bisa mengikuti sampai akhirnya menutup mata," kisah Hj Nurhayati, istrinya, di pemakaman.

Pagi itu, saat dipanggil pulang Ilahi Rabbi, Pak John tengah sarapan. Atik - panggilan istrinya - yang menyuapi. "Dua suapan terakhir dilepehkan almarhum. Itulah yang mengawali detik-detik dia pergi," tambah Atik.

Meski menderita sakit parkinson lima tahun terakhir, namun mantan Anggota MPR RI tiga periode itu tetap beraktifitas sehingga kesadarannya tetap terjaga. Selepasmasa bakti di Lembaga Sensor Film, praktis sejak itu ia memang sudah membatasi aktifitas di lapangan. Ia full bekerja di rumah. Memanfaatkan waktu luang menulis artikel dan mengurusi buletin bulanannya, "Info Di".

"Di" atau "Haji Di" adalah akronim namanya yang biasa dia pakai menulis kolom bernuansa reliji. "Info Di" buletin tercetak,terbit sekali sebulan.

Mengenang Johan Tjasmadi Tokoh Film Indonesia yang Telah Tiada

Foto/Ilham Bintang

Baca Juga: 4 Film Indonesia Dewasa dengan Rating Tertinggi, Panas tapi Berkualitas

Mengenang Johan Tjasmadi Tokoh Film Indonesia yang Telah Tiada

Foto/Ilham Bintang

"Beliau memang rajin menulis. Minggu lalu masih minta laptop, mau menulis, tetapi saya larang.Saya kasih pengertian. Nanti kalau sudah sembuh deh," cerita Atik.

Pak John salah satu tokoh penting perfilman Indonesia di era tahun 80- 90 an. Ia lahir 1 Juni 1937 di Pekalongan.Semasa hidup, lebih separuh usianya diabdikan untuk film, memimpin organisasi film dan bioskop. Ia juga memproduksi film dan terjun menulis skenario dan menyutradarai beberapa di antaranya.

Puluhan tahun memimpin GPBSI (organisasi bioskop) dan beberapa kali menjadi Ketua Panitia Tetap Festival Film Indonesia. Selain itu Pak John juga aktif menulis kolom di berbagai media pers, dan menerbitkan Majalah Film.

Ia mengawali karier dari bawah sekali. Lalu meningkat menjadi manajer bioskop Orion (1954). Daya tarik film membuat ia meninggalkan pekerjaannya di bidang transportasi dan EMKL (1957-1959) dan perdagangan umum (1960-1965).

Terpilih pertama kali sebagai Ketua GPBSI perwakilan Jakarta tahun 1967. Ia merangkap sebagai sekjen GPBSI Pusat 4 periode berturut-turut (1970-1974 sampai 1987-1992) dan Ketua Umum GPBSI Pusat 1992-1997. Menjadi anggota Dewan Film Nasional (1979-1992) dan sebagai ketua Umum Panitia Tetap (Pantap) Festival Film Indonesia (1988-1992).

Baca Juga: 5 Film Indonesia dengan Budget Produksi Termahal, Nomor Terakhir Bercita Rasa Hollywood

Mengenang Johan Tjasmadi Tokoh Film Indonesia yang Telah Tiada

Foto/Ilham Bintang

Selanjutnya, ia terpilih sebagai Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), pengganti atau pelanjut Dewan Film. Pak John pernah juga menjadi anggota MPR DPR RI tiga masa bakti, 1987-1992, 1992-1997 dan 1997-2002. Mantan Pemimpin Umum Majalah FILM itu adalah penerima Hadiah "Jamaluddin Malik" pada 1993. Terakhir ia menjadi produser pelaksana film kolosal Fatahillah (1996-1997).

Berkenalan Secara Unik

Saya berkenalan dengan Pak John 40 tahun lalu lewat cara unik. Di sela-sela kegiatan penyelenggaran Festival Film Indonesia (FFI) di Palembang tahun 1979. Saat itu terjadi sedikit kemelut antara panitia FFI dengan rombongan wartawan film dari Jakarta. Tengah malam Ketua Panitia FFI 79, Soemardjono (alm) menyambangi wartawan di hotelnya untuk meredakan suasana. Ia ditemani Pak John.

Dalam temaram penerangan lampu hotel, sosok Pak John tampak seperti "bodyguard" Ketua FFI. Saya langsung protes. Kenapa Ketua FFI membawa bodyguard dalam pertemuan? Pak John terkejut melihat pandangan saya ke arahnya. Buru-buru ia mengklarifikasi. Pak John mengaku diajak Ketua FFI untuk silaturahmi dengan wartawan.

"Tapi maaf, saya tidak tahu kalau ternyata ada persoalan wartawan dengan panitia," ucapnya.

Kelak, kisah itu hanya bikin saya malu. Sosok Pak John ternyata berbanding terbalik dari sangkaan semula. Setelah peristiwa itu, kami bersahabat erat hingga puluhan tahun. Pada FFI 1983, dia mengajak saya menjadi kepala humas Panitia Tetap FFI yang diketuainya sampai tahun 1992.

Kemudian kami mendirikan perusahaan film memproduksi beberapa judul film, antaranya "Bibir Mer" yang disutradarai Arifin C Noer. Terakhir film kolosal " Fatahillah" yang berlatar sejarah.

Baca Juga: 4 Film Indonesia dengan Dialog Bahasa Inggris Terbanyak, Nomor 2 Dibintangi Iko Uwais

Saya belajar banyak dari beliau dalam jalinan kerjasama dan eratnya persahabatan. Keluarga kami juga dekat dengan keluarganya. Saya sudah menganggap Pak John sebagai guru, kakak, dan orang tua. Ketika saya memulai membangun kelompok media Cek&Ricek, ia sempat bersama mengawal di awal. Setelah itu ia pamit istirahat.

"Kewajiban saya mengawal selesai," ujarnya masa itu, 25 tahun lalu.

Di dunia film, Pak John memang dikenal pelobi ulung. Kemampuannya sudah teruji mengatasi konflik masyarakat perfilman. Terutama antara produser dan pemilik bioskop yang sama-sama egois. Legacy dari kemahiran lobinya, para produser film Indonesia hingga sekarang menikmati keringanan pajak tontonan (PTO) dari Pemprov DKI Jakarta.

Gagasan itu ia dicetuskan bersama beberapa tokoh perfilman masih di zaman Gubernur DKI Ali Sadikin. Satu lagi gagasannya yang cukup fenomenal di tahun 90-an adalah memproduksi film berdurasi pendek berisi informasi pembangunan. Film itu dipertunjukan mengawali film utama di bioskop. Program itu kelak menginspirasi pengelola bioskop 21 di Indonesia menyediakan slot iklan di seluruh jaringannya.

Misteri Kamera

Masih menjadi "misteri" buat saya ketika akhir Februari lalu Pak John mengirimi satu set kamera koleksinya, "Olympus". Dia menyuruh perawatnya, Kusnadi (bukan Mulyadi seperti ditulis sebelumnya), memberi tahu saya lewat WhatsApp dan mengirimnya ke rumah.

"Saya cuma disuruh begitu Pak. Tapi, bapak memang paling sering menceritakan soal persahabatannya dengan Pak Ilham," kata Mulyadi.

Pak John memang bukan sekali ini memberi hadiah kejutan. Saya naik haji pertama kali di tahun 1991 karena dia mendaftarkan saya dan istri dalam rombongan pembuatan film dokumenter yang digagasnya, "Perjalanan Pak Harto Naik Haji". Saya pertama kali menginjak benua Amerika juga atas prakarsanya.

Film "Bibir Mer" yang disutradarai sineas kondang Arifin C Noer didaftarkan Pak John ikut kompetisi film berbahasa asing di ajang Oscar. Berangkatlah kami ke Los Angeles bersama tokoh pers nasional Rosihan Anwar, Prof Salim Said, wartawan Pos Kota Dimas Supriyanto mengawal film itu. Pak John sendiri tidak ikut.

Pak John memang sosok yang dikenal ringan tangan membantu orang. Ia sering memberi hadiah kejutan kepada banyak kalangan. Kenapa kamera Olympus itu menjadi misteri? Karena waktu itu kondisi kesehatannya cukup kritis, ia baru saja keluar rumah sakit. Saya sempat ragu menerimanya. Seakan dia mengirim firasat ia takkan lama lagi.

Tapi lepas dari itu memang mengharukan karena kebiasaannya memberi masih berlanjut meski dalam keadaan ktitis sakit. Kamera itu karenanya saya simpan dengan baik sebagai kenangan terindahnya.

Tiada Lagi Pak John

Semoga amal ibadahnya, ketulusannya mengabdi kepada dunia film, melancarkan jalannya menemui Allah SWT untuk mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Semudah dan selancar ketika menutup mata selamanya, di hari baik, hari Jumat.
(dra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Didukung BNN, Sarah...
Didukung BNN, Sarah Sechan Cegah Narkotika Masuk Dunia Anak lewat Film Maju
Berangkat dari Kisah...
Berangkat dari Kisah Viral, Cerita Lila Menjelma Jadi Horor Layar Lebar
Lagu-lagu Sheila On...
Lagu-lagu Sheila On 7 Jadi Jembatan Emosi di Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis
Sinopsis Disclosure...
Sinopsis Disclosure Day, Film Terbaru Steven Spielberg tentang Rahasia Alien yang Guncang Dunia
Pembuktian Irish Bella...
Pembuktian Irish Bella jadi Produser di Film Horor Dosa, Tayang 11 Juni
Film Menjadi Medium...
Film Menjadi Medium Inklusi, Empati, dan Ruang Kolaborasi bagi Anak Muda Indonesia
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
Rekomendasi
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
Berita Terkini
Solusi Praktis Pengurusan...
Solusi Praktis Pengurusan Paspor dan Visa untuk Perjalanan Bisnis
Dikhianati Suami, Shiena...
Dikhianati Suami, Shiena Bangkit Bongkar Perselingkuhan di Microdrama V+Short Replaceable
Rueibin Chen Ungkap...
Rueibin Chen Ungkap Alasan Pilih Musik Karya Brahms untuk Konser Eksklusif di Jakarta
Rueibin Chen Sebut Tampil...
Rueibin Chen Sebut Tampil di Indonesia sebagai Impian, Siap Hibur Pecinta Musik Klasik Jakarta
Baru Umumkan Pernikahan,...
Baru Umumkan Pernikahan, Nathalie Holscher Langsung Didesak Soal Anak: Responsnya Bikin Warganet Heboh
Regenerasi Kulit Jadi...
Regenerasi Kulit Jadi Tren Baru Perawatan Estetika Modern
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved