Investigasi Belum Selesai, Penyebab Gangguan Ginjal Akut Masih Misterius
Sabtu, 15 Oktober 2022 - 12:04 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, saat pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi sedikit buang air kecil atau tidak sama sekali, maka pasien bakal menjalani pemeriksaan fungsi ginjal (ureum, kreatinin). Apabila hasil fungsi ginjal menunjukkan adanya peningkatan, dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, evaluasi kemungkinan etiologi dan komplikasinya.
Selain itu, dilakukan juga monitoring kondisi pasien meliputi volume balans cairan dan diuresis selama perawatan, kesadaran, napas kusmaull, tekanan darah, serta pemeriksaan kreatinin serial per 12 jam.
Menurut Yanti, pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas dialisis anak bila didapatkan kriteria AKI mulai stadium 1 sesuai Kidney Disease Improving Global Outcomes (KDIGO). Oleh karenanya, RS harus mempersiapkan sarana dan prasarana yaitu perlengkapan monitoring pasien serta ruangan intensif berupa HCU atau PICU sesuai indikasi.
"Kami meminta kepada rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan deteksi dini terhadap kasus anak yang mengalami gejala penurunan jumlah urine, dilanjutkan dengan menegakkan diagnosis serta melakukan pemeriksaan laboratorium," papar Yanti.
Di sisi lain, Kemenkes memastikan bahwa perkembangan kasus gangguan ginjal akut ini akan terus di-update setiap harinya ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di samping itu, Kemenkes juga terus berdialog dengan para ahli untuk mencari tahu etiologi penyakit ini.
Selain itu, dilakukan juga monitoring kondisi pasien meliputi volume balans cairan dan diuresis selama perawatan, kesadaran, napas kusmaull, tekanan darah, serta pemeriksaan kreatinin serial per 12 jam.
Menurut Yanti, pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas dialisis anak bila didapatkan kriteria AKI mulai stadium 1 sesuai Kidney Disease Improving Global Outcomes (KDIGO). Oleh karenanya, RS harus mempersiapkan sarana dan prasarana yaitu perlengkapan monitoring pasien serta ruangan intensif berupa HCU atau PICU sesuai indikasi.
"Kami meminta kepada rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan deteksi dini terhadap kasus anak yang mengalami gejala penurunan jumlah urine, dilanjutkan dengan menegakkan diagnosis serta melakukan pemeriksaan laboratorium," papar Yanti.
Di sisi lain, Kemenkes memastikan bahwa perkembangan kasus gangguan ginjal akut ini akan terus di-update setiap harinya ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di samping itu, Kemenkes juga terus berdialog dengan para ahli untuk mencari tahu etiologi penyakit ini.
Lihat Juga :