CERMIN: Kisah Pembasmian Muslim Bosnia Herzegovina
Sabtu, 05 November 2022 - 08:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: CERMIN: Cerita dari Sekolah Paling Terpencil di Dunia
Mladic adalah reinkarnasi Amon Goeth. Ia tak punya perasaan apa pun ketika memerintahkan bawahannya menghabisi nyawa seorang tahanan. Seperti salah satu adegan dalam Schlinder’s Listketika Amon yang baru saja bangun pagi meregangkan tangannya dengan menembakkan senjata ke sembarang orang tahanan di kamp Auschwitz. Ia bahkan membagikan cokelat dan roti dan meyakinkan semua orang bahwa mereka akan baik-baik saja. Tapi kata “baik-baik saja” memang hampir selalu bermakna “malapetaka”.
![CERMIN: Kisah Pembasmian Muslim Bosnia Herzegovina]()
Foto: Klik Film
Jasmila Zbanic memperlihatkan beragam adegan realistik yang mengoyak hati. Kita melihat ribuan orang bertahan di luar kawasan PBB dan berharap mereka bisa mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pasukan perdamaian. Kita melihat seorang ibu yang terpaksa melahirkan dengan kondisi seadanya. Pada akhirnya kita melihat ribuan manusia bergelimpangan di tangan Mladic.
Nyawa manusia menjadi tak ada artinya. Ia hanya statistik yang bahkan hanya masuk dalam sebuah daftar yang lantas dibuang begitu saja ke tong sampah. Perang tak hanya membuat kota mati tapi juga kemanusiaan pun ikut mati.
Dunia mencoba memalingkan muka. Mladic membasmi warga Srebrenica dengan begitu mudahnya atas nama agama.
Lagi-lagi agama dituding sebagai biang keladi atas tragedi berdarah. Agama yang diharapkan menjadi petunjuk bagi manusia menemukan jalan yang benar justru menjadi pembenaran bagi segelintir orang untuk memusnahkan kemanusiaan. Dan kita terus bertanya dalam hati, jika demikian untuk apa agama yang berbeda-beda hadir dan ada?
![CERMIN: Kisah Pembasmian Muslim Bosnia Herzegovina]()
Foto: Klik Film
Mladic adalah reinkarnasi Amon Goeth. Ia tak punya perasaan apa pun ketika memerintahkan bawahannya menghabisi nyawa seorang tahanan. Seperti salah satu adegan dalam Schlinder’s Listketika Amon yang baru saja bangun pagi meregangkan tangannya dengan menembakkan senjata ke sembarang orang tahanan di kamp Auschwitz. Ia bahkan membagikan cokelat dan roti dan meyakinkan semua orang bahwa mereka akan baik-baik saja. Tapi kata “baik-baik saja” memang hampir selalu bermakna “malapetaka”.

Foto: Klik Film
Jasmila Zbanic memperlihatkan beragam adegan realistik yang mengoyak hati. Kita melihat ribuan orang bertahan di luar kawasan PBB dan berharap mereka bisa mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pasukan perdamaian. Kita melihat seorang ibu yang terpaksa melahirkan dengan kondisi seadanya. Pada akhirnya kita melihat ribuan manusia bergelimpangan di tangan Mladic.
Nyawa manusia menjadi tak ada artinya. Ia hanya statistik yang bahkan hanya masuk dalam sebuah daftar yang lantas dibuang begitu saja ke tong sampah. Perang tak hanya membuat kota mati tapi juga kemanusiaan pun ikut mati.
Dunia mencoba memalingkan muka. Mladic membasmi warga Srebrenica dengan begitu mudahnya atas nama agama.
Lagi-lagi agama dituding sebagai biang keladi atas tragedi berdarah. Agama yang diharapkan menjadi petunjuk bagi manusia menemukan jalan yang benar justru menjadi pembenaran bagi segelintir orang untuk memusnahkan kemanusiaan. Dan kita terus bertanya dalam hati, jika demikian untuk apa agama yang berbeda-beda hadir dan ada?

Foto: Klik Film
Lihat Juga :