CERMIN: Pornografi, Feminisme, dan Hal-Hal di Antaranya
Sabtu, 26 November 2022 - 12:53 WIB
loading...
A
A
A
Minx adalah majalah rekaan dari serial Minxyang tayang di Lionsgate Play. Majalah ini hadir pada tahun 1970-an ketika perempuan mulai gelisah dengan kebebasannya. Majalah yang ingin perempuan tak perlu malu melotot melihat penis berukuran jumbo dari para model laki-laki. Majalah yang ingin memberdayakan perempuan dengan ide dan tulisan yang bernas.
![CERMIN: Pornografi, Feminisme, dan Hal-Hal di Antaranya]()
Foto: Lionsgate Play
Tapi seperti Indonesia, Amerika pun bisa jadi sama heterogennya. Tak semua orang bertepuk tangan atas lahirnya majalah seliberal Minx. Senator perempuan tak terima ada majalah yang dianggapnya mencemari nilai-nilai keluarga, pebisnis mafia yang tak setuju dengan ide legalisasi aborsi, dan dari kalangan perempuan sendiri yang menganggap bahwa menjual ide tentang kebebasan perempuan tak perlu diiming-imingi dengan gambar penis. Seperti yang dipertanyakan Joyce ketika pertama kali melihat rancangan edisi perdana kepada Doug, "Apakah ereksi konsisten dengan filosofi kita?”
Baca Juga: CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia
'Niat baik' memang tak bisa diterima mentah-mentah begitu saja. Minx pun mengalami hal yang sama. Saya masih mengingat bagaimana Erwin Arnada berjuang mempertahankan majalah yang susah payah diperjuangkan lisensinya itu selama bertahun-tahun. Harus diakui hingga saat ini belum ada lagi majalah sekualitas Playboy Indonesia yang berani menyajikan tulisan feature panjang nan berbobot.
Ketika berada di dunia bisnis, yang selalu perlu kita sadari adalah sebuah kompromi. Joyce akhirnya menyadari perlunya kompromi itu agar tulisan-tulisan di majalahnya yang memuat isu-isu hangat soal perempuan yang jarang digarap media lain mendapat perhatian. Sementara Erwin tahu betul itu sejak awal, hanya saja ia tak mengkalkulasi akan mendapat serangan telak dari salah satu ormas yang membuatnya harus menjalani hukuman penjara selama beberapa bulan.
![CERMIN: Pornografi, Feminisme, dan Hal-Hal di Antaranya]()
Foto: Lionsgate Play

Foto: Lionsgate Play
Tapi seperti Indonesia, Amerika pun bisa jadi sama heterogennya. Tak semua orang bertepuk tangan atas lahirnya majalah seliberal Minx. Senator perempuan tak terima ada majalah yang dianggapnya mencemari nilai-nilai keluarga, pebisnis mafia yang tak setuju dengan ide legalisasi aborsi, dan dari kalangan perempuan sendiri yang menganggap bahwa menjual ide tentang kebebasan perempuan tak perlu diiming-imingi dengan gambar penis. Seperti yang dipertanyakan Joyce ketika pertama kali melihat rancangan edisi perdana kepada Doug, "Apakah ereksi konsisten dengan filosofi kita?”
Baca Juga: CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia
'Niat baik' memang tak bisa diterima mentah-mentah begitu saja. Minx pun mengalami hal yang sama. Saya masih mengingat bagaimana Erwin Arnada berjuang mempertahankan majalah yang susah payah diperjuangkan lisensinya itu selama bertahun-tahun. Harus diakui hingga saat ini belum ada lagi majalah sekualitas Playboy Indonesia yang berani menyajikan tulisan feature panjang nan berbobot.
Ketika berada di dunia bisnis, yang selalu perlu kita sadari adalah sebuah kompromi. Joyce akhirnya menyadari perlunya kompromi itu agar tulisan-tulisan di majalahnya yang memuat isu-isu hangat soal perempuan yang jarang digarap media lain mendapat perhatian. Sementara Erwin tahu betul itu sejak awal, hanya saja ia tak mengkalkulasi akan mendapat serangan telak dari salah satu ormas yang membuatnya harus menjalani hukuman penjara selama beberapa bulan.

Foto: Lionsgate Play
Lihat Juga :