Sagu, Olahan yang Lekat di Lidah Orang Indonesia
Kamis, 09 Juli 2020 - 13:41 WIB
loading...
A
A
A
“Sagu salah satu bahan pangan lokal Indonesia berpotensi, yang perlu lebih dieksplorasi pengembangan dan kegunaannya karena memiliki kadar karbohidrat serta serat yang tinggi. Dengan kandungannya, sagu menjadi solusi pangan pengganti nasi, dan bermanfaat bagi mereka yang mengidap penyakit celiac atau autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi gluten,” beber Prof. Bintoro.
Sagu menjadi salah satu tanaman yang dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah peningkatan produksi sagu.
Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat. Kapasitas produksi sagu saat ini hanya 250.400 ton per tahun. Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.
"Pada jangka panjang sagu dapat memberi keuntungan ekonomi karena bisa memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat. Terutama petani dan pengolah sagu," ungkap Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead. (Baca Juga: Moon River Dairy, Pelopor Produksi Farmstead Cheese di Asia Tenggara )
Jadi, Anda yang terbiasa makan nasi mulai sekarang bisa sesekali membiasakan mengolah sagu untuk makanan sehari-hari. Aneka masakan dari mi sagu maupun bubur sagu bisa menjadi pilihan yang ditambahkan bahan-bahan seafood seperti udang dan ikan dori yang lembut teksturnya. Sajian itu tentu bisa menggugah selera makan keluarga.
Sagu menjadi salah satu tanaman yang dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah peningkatan produksi sagu.
Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat. Kapasitas produksi sagu saat ini hanya 250.400 ton per tahun. Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.
"Pada jangka panjang sagu dapat memberi keuntungan ekonomi karena bisa memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat. Terutama petani dan pengolah sagu," ungkap Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead. (Baca Juga: Moon River Dairy, Pelopor Produksi Farmstead Cheese di Asia Tenggara )
Jadi, Anda yang terbiasa makan nasi mulai sekarang bisa sesekali membiasakan mengolah sagu untuk makanan sehari-hari. Aneka masakan dari mi sagu maupun bubur sagu bisa menjadi pilihan yang ditambahkan bahan-bahan seafood seperti udang dan ikan dori yang lembut teksturnya. Sajian itu tentu bisa menggugah selera makan keluarga.
(tsa)
Lihat Juga :