CERMIN: Teror, Kekerasan, dan Erotika dari Garin Nugroho
Sabtu, 07 Januari 2023 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
Garin memahami pakem horor/thriller/slasher yang diwujudkannya dalam adegan pembuka yang berdarah-darah. Tak saja mengagetkan, tapi juga membuat ngilu.
Karena berbeda dengan Timo atau Kimo, Garin ingin agar penonton memahami esensi lebih dari darah demi darah yang dihadirkannya. Kelak kita akan tahu bahwa Garin juga ingin membicarakan trauma yang dialami tubuh yang lekat dengan sejarah yang dialaminya.
![CERMIN: Teror, Kekerasan, dan Erotika dari Garin Nugroho]()
Foto: Starvision Plus
Puisi Cinta yang Membunuh dituturkan dari sudut pandang Ranum, perempuan cantik yang menjadi siswa sekolah mode. Mode memang bukan sekadar memakaikan baju ke tubuh, karena tubuh selalu punya sejarahnya sendiri.
Soal trauma pada tubuh bukan hal baru yang dituturkan Garin. Sebelumnya ia membahasnya lebih subtil dalam Kucumbu Tubuh Indahku.
Ranum datang dengan keluguan sekaligus teror. Dua hal yang kadang ia sendiri tak mengerti. Dan Garin cerdik membuat penonton terus menduga-duga apa yang sesungguhnya terjadi pada Ranum. Banyak hal terjadi pada Ranum dan ia seperti berada sejenak dalam mimpi buruk. Dan mimpi buruk itu terus berulang.
Hingga Ranum bertemu Hayat, laki-laki ganteng pencinta puisi. Ranum jatuh cinta pada Hayat, juga pada puisi-puisinya. Tapi soal cinta bagi Garin memang tak pernah sesederhana itu. Selalu ada sejarah yang membayangi.
Baik Ranum maupun Hayat selalu dihantui dengan trauma kekerasan yang menimpa mereka saat masa kecil. Dan tak mudah keluar dari kubangan trauma itu. Kadang bahkan Ranum membiarkan dirinya tenggelam di sana. Dan ia melihat Hayat perlahan-lahan juga ikut tenggelam.
![CERMIN: Teror, Kekerasan, dan Erotika dari Garin Nugroho]()
Foto: Starvision Plus
Karena berbeda dengan Timo atau Kimo, Garin ingin agar penonton memahami esensi lebih dari darah demi darah yang dihadirkannya. Kelak kita akan tahu bahwa Garin juga ingin membicarakan trauma yang dialami tubuh yang lekat dengan sejarah yang dialaminya.

Foto: Starvision Plus
Puisi Cinta yang Membunuh dituturkan dari sudut pandang Ranum, perempuan cantik yang menjadi siswa sekolah mode. Mode memang bukan sekadar memakaikan baju ke tubuh, karena tubuh selalu punya sejarahnya sendiri.
Soal trauma pada tubuh bukan hal baru yang dituturkan Garin. Sebelumnya ia membahasnya lebih subtil dalam Kucumbu Tubuh Indahku.
Ranum datang dengan keluguan sekaligus teror. Dua hal yang kadang ia sendiri tak mengerti. Dan Garin cerdik membuat penonton terus menduga-duga apa yang sesungguhnya terjadi pada Ranum. Banyak hal terjadi pada Ranum dan ia seperti berada sejenak dalam mimpi buruk. Dan mimpi buruk itu terus berulang.
Hingga Ranum bertemu Hayat, laki-laki ganteng pencinta puisi. Ranum jatuh cinta pada Hayat, juga pada puisi-puisinya. Tapi soal cinta bagi Garin memang tak pernah sesederhana itu. Selalu ada sejarah yang membayangi.
Baik Ranum maupun Hayat selalu dihantui dengan trauma kekerasan yang menimpa mereka saat masa kecil. Dan tak mudah keluar dari kubangan trauma itu. Kadang bahkan Ranum membiarkan dirinya tenggelam di sana. Dan ia melihat Hayat perlahan-lahan juga ikut tenggelam.

Foto: Starvision Plus
Lihat Juga :