Sebagian Besar Siswa SMA di AS gak Ngerokok, Tapi 48 Persennya?
Selasa, 22 Maret 2016 - 01:01 WIB
Sebagian Besar Siswa SMA di AS gak Ngerokok, Tapi 48 Persennya?
A
A
A
SAN FRANCISCO - San Francisco bersama dengan Boston, New York dan 100 kota lainnya di Amerika Serikat menaikkan usia minimum untuk membeli rokok, e-rokok dan produk tembakau lainnya.
Keputusan ini pun lebih dulu diterapkan oleh Hawaii pada 1 Januari lalu. Hawaii, menaikkan usia merokok dari 18 menjadi 21 tahun. Kebijakan ini dianggap penting.
Menurut studi yang dirilis oleh Institute of Medicine, usia 15 dan 17 rentan terhadap kecanduan rokok, karena adanya bagian otak yang masih berkembang. Namun, sebagian besar siswa SMA di Amerika Serikat tidak pernah merokok, tapi 48 persen dari mereka telah terpapar asap rokok.
Peningkatan usia minimum merokok yang dilakukan oleh The American Academy of Pediatric, dinilai bisa mengurangi risiko kematian dini sebanyak 250 ribu dan mengurangi 50 ribu kematian akibat kanker paru-paru di antara mereka yang lahir tahun 2000 dan 2019.
"Ini menandakan tidak akan ada siswa SMA yang boleh membeli dan menghirup tembakau. Selama ini, banyak anak-anak di bawah 18 tahun yang mendapatkan tembakau dari kakak kelas mereka yang usianya lebih dari 18 tahun," papar profesor pediatri di Rumah Sakit Anak Colorado, Dr Karen Wilson yang dilansir dari CNN.
Ada beberapa bukti bahwa paparan nikotin secara langsung atau melalui asap rokok bisa mempengaruhi otak remaja. Tidak hanya itu, paparan nikotin juga membuat mereka lebih mungkin kecanduan nikotin di masa depan.
"Tembakau bisa dibilang adalah zat yang paling adiktif di bumi. Tidak peduli berapa usia Anda, merokok adalah salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan untuk tubuh Anda," ujar CNN chief medical correspondent, Dr Sanjay Gupta.
20 menit setelah memutuskan untuk tidak merokok, detak jantung dan tekanan darah mulai menurun. Sementara dalam waktu 24 jam, risiko penyakit jantung juga ikut turun. Dua minggu kemudian, fungsi paru-paru kembali membaik dan akan merasa lebih sehat.
Bahkan, setelah lima tahun, risiko kanker menurun. Menurut beberapa peneliti, kesehatan Anda akan baik sama seperti orang yang tidak merokok pada 20 tahun kemudian.
Keputusan ini pun lebih dulu diterapkan oleh Hawaii pada 1 Januari lalu. Hawaii, menaikkan usia merokok dari 18 menjadi 21 tahun. Kebijakan ini dianggap penting.
Menurut studi yang dirilis oleh Institute of Medicine, usia 15 dan 17 rentan terhadap kecanduan rokok, karena adanya bagian otak yang masih berkembang. Namun, sebagian besar siswa SMA di Amerika Serikat tidak pernah merokok, tapi 48 persen dari mereka telah terpapar asap rokok.
Peningkatan usia minimum merokok yang dilakukan oleh The American Academy of Pediatric, dinilai bisa mengurangi risiko kematian dini sebanyak 250 ribu dan mengurangi 50 ribu kematian akibat kanker paru-paru di antara mereka yang lahir tahun 2000 dan 2019.
"Ini menandakan tidak akan ada siswa SMA yang boleh membeli dan menghirup tembakau. Selama ini, banyak anak-anak di bawah 18 tahun yang mendapatkan tembakau dari kakak kelas mereka yang usianya lebih dari 18 tahun," papar profesor pediatri di Rumah Sakit Anak Colorado, Dr Karen Wilson yang dilansir dari CNN.
Ada beberapa bukti bahwa paparan nikotin secara langsung atau melalui asap rokok bisa mempengaruhi otak remaja. Tidak hanya itu, paparan nikotin juga membuat mereka lebih mungkin kecanduan nikotin di masa depan.
"Tembakau bisa dibilang adalah zat yang paling adiktif di bumi. Tidak peduli berapa usia Anda, merokok adalah salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan untuk tubuh Anda," ujar CNN chief medical correspondent, Dr Sanjay Gupta.
20 menit setelah memutuskan untuk tidak merokok, detak jantung dan tekanan darah mulai menurun. Sementara dalam waktu 24 jam, risiko penyakit jantung juga ikut turun. Dua minggu kemudian, fungsi paru-paru kembali membaik dan akan merasa lebih sehat.
Bahkan, setelah lima tahun, risiko kanker menurun. Menurut beberapa peneliti, kesehatan Anda akan baik sama seperti orang yang tidak merokok pada 20 tahun kemudian.
(sbn)