Rage Against The Machine Ramal Kepresidenan Donald Trump pada 1999
Jum'at, 11 November 2016 - 05:30 WIB
Rage Against The Machine Ramal Kepresidenan Donald Trump pada 1999
A
A
A
LOS ANGELES - Prospek Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat (AS) sebenarnya sudah lama muncul jauh sebelum dia terpilih pada Rabu (9/11/2016) lalu. Setidaknya, dunia hiburan—film, televisi dan musik—telah memprediksinya.
Terpilihnya Trump sebagai presiden ke-45 AS membuat banyak penggemar The Simpsons mengingat sebuah episode lawas yang kemungkinan telah memprediksinya. Episode Bart To The Future, yang ditayangkan pada 2000 memperlihatkan kehidupan para karakter utama serial kartun itu.
Di episode itu, Lisa Simpson terlihat sebagai petahana Gedung Putih. Dia menjelaskan bahwa dirinya mewarisi banyak masalah anggaran dari Presiden Trump.
Dia lantas bertanya kepada menteri luar negerinya, Milhouse Van Houten—teman masa kecil Lisa—tentang seberapa parahkah keuangan negara akibat masa jabatan Trump. “Kita bangkrut,” jawab Milhouse.
Awal tahun ini, penulis The Simpsons Dan Greaney menggambarkan episode berusia 16 tahun itu adalah peringatan bagi Amerika. “Episode itu seperti perhentian terakhir yang logis sebelum menekan tombol. Itu konsisten dengan visi bahwa Amerika akan jadi gila. Apa yang kita butuhkan adalah Lisa punya masalah yang sulit dia atasi, dimana semuanya jadi buruk seburuk-buruknya dan itulah mengapa kita menempatkan Trump jadi presiden sebelum dirinya,” papar Dan kepada The Hollywood Reporter.
The Simpsons setidaknya dua kali menampilkan Trump sebagai presinden. Tahun lalu, episode Trumptastic Voy—age memperlihatkan dirinya berada di sebuah eskalator bersama Homer Simpson—rujukan pada peristiwa asli saat dia mengumumkan pencalonannya sebagai presiden dengan didampingi sang istri, Melania. Episode ini dibuat setelah Trump mengumumkan pencalonannya.

Awal tahun ini, serial ini secara resmi mendukung Hillary Clinton. Mereka merilis sebuah klip yang menampilkan Homer dan Marge membahas siapa yang harus dipilih sebelum memutuskan mendukung kandidat dari Demokrat itu.
Tapi, tim di balik serial komedi animasi itu bukanlah satu-satunya yang memprediksi kepresidenan Trump. Bahkan, sebelum mereka, sudah ada yang memperkirakannya.
Salah satunya adalah band nu metal Rage Against The Machine. Pada 1999, video klip mereka, Sleep Now in the Fire, menampilkan seorang pria yang membawa plakat bertuliskan “Donald J Trump for President (Donald J Trump untuk Presiden)”.

Saat video musik ini dirilis, Trump sudah melemparkan topi ke ring untuk menjadi kandidat Partai Reformasi untuk pemilu presiden (pilpres) berikutnya. Tapi, dia menarik diri pada Februari 2000—sembilan bulan sebelum pemilu digelar. Video ini disutradarai sutradara dokumenter kondang Michael Moore—yang baru-baru ini mengungkapkan prospek kepresidenan Trump secara langsung.
Moore—yang dikenal sebagai komentator politik sayap kiri—merilis sebuah film berjudul TrumpLand, dimana dia memperingatkan bahaya terpilihnya dia sebagai presiden. Dia juga mengunggah artikel di situsnya dengan judul Five Reasons Trump Will Win, meskipun kali ini lebih realistik dibanding yang dia lakukan 17 tahun sebelumnya di video klip Rage Against The Machine tersebut.
Namun, Rage Against The Machine bukanlah yang pertama memperkirakan kepresidenan Trump. Sebelumnya, film Back To The Future telah memprediksinya.
Pada Back To The Future Part II yang dirilis pada 1989, penjahat trilogi ini, Biff Tannen, terlihat menjadi pengusaha sukses. Dia membuka kasino 27 lantai dan menggunakan uangnya untuk mempengaruhi politik AS. Fans sudah lama yakin bahwa karakter itu dibuat berdasarkan Trump—teori yang kemudian dikonfirmasi penulis naskah film ini, Bob Gale, tahun lalu.
“Kami memikirkannya ketika kami membuat film ini,” ucap Gale kepada The Daily Beast.

Gale menyoroti salah satu adegan yang tampaknya benar-benar menyinggung Trump. “Ada adegan dimana Marty menemui Biff di kantornya ada foto Biff yang sangat besar di dinding di belakang Biff dan ada satu moment dimana Biff seperti berdiri dan dia berpose sama seperti foto itu,” tutur Gale seperti dikutip BBC.
Di film itu, Biff menggunakan laba dari kasinonya untuk menggoyang Partai Republikan sebelum akhirnya merebut kekuasaan. Dia kemudian mengubah Hill Valley California menjadi sebuah kota yang dipenuhi kejahatan dan korupsi. Trump terpilih sebagai presiden 27 tahun setelah Back To The Future Part II dirilis.
Terpilihnya Trump sebagai presiden ke-45 AS membuat banyak penggemar The Simpsons mengingat sebuah episode lawas yang kemungkinan telah memprediksinya. Episode Bart To The Future, yang ditayangkan pada 2000 memperlihatkan kehidupan para karakter utama serial kartun itu.
Di episode itu, Lisa Simpson terlihat sebagai petahana Gedung Putih. Dia menjelaskan bahwa dirinya mewarisi banyak masalah anggaran dari Presiden Trump.
Dia lantas bertanya kepada menteri luar negerinya, Milhouse Van Houten—teman masa kecil Lisa—tentang seberapa parahkah keuangan negara akibat masa jabatan Trump. “Kita bangkrut,” jawab Milhouse.
Awal tahun ini, penulis The Simpsons Dan Greaney menggambarkan episode berusia 16 tahun itu adalah peringatan bagi Amerika. “Episode itu seperti perhentian terakhir yang logis sebelum menekan tombol. Itu konsisten dengan visi bahwa Amerika akan jadi gila. Apa yang kita butuhkan adalah Lisa punya masalah yang sulit dia atasi, dimana semuanya jadi buruk seburuk-buruknya dan itulah mengapa kita menempatkan Trump jadi presiden sebelum dirinya,” papar Dan kepada The Hollywood Reporter.
The Simpsons setidaknya dua kali menampilkan Trump sebagai presinden. Tahun lalu, episode Trumptastic Voy—age memperlihatkan dirinya berada di sebuah eskalator bersama Homer Simpson—rujukan pada peristiwa asli saat dia mengumumkan pencalonannya sebagai presiden dengan didampingi sang istri, Melania. Episode ini dibuat setelah Trump mengumumkan pencalonannya.

Awal tahun ini, serial ini secara resmi mendukung Hillary Clinton. Mereka merilis sebuah klip yang menampilkan Homer dan Marge membahas siapa yang harus dipilih sebelum memutuskan mendukung kandidat dari Demokrat itu.
Tapi, tim di balik serial komedi animasi itu bukanlah satu-satunya yang memprediksi kepresidenan Trump. Bahkan, sebelum mereka, sudah ada yang memperkirakannya.
Salah satunya adalah band nu metal Rage Against The Machine. Pada 1999, video klip mereka, Sleep Now in the Fire, menampilkan seorang pria yang membawa plakat bertuliskan “Donald J Trump for President (Donald J Trump untuk Presiden)”.

Saat video musik ini dirilis, Trump sudah melemparkan topi ke ring untuk menjadi kandidat Partai Reformasi untuk pemilu presiden (pilpres) berikutnya. Tapi, dia menarik diri pada Februari 2000—sembilan bulan sebelum pemilu digelar. Video ini disutradarai sutradara dokumenter kondang Michael Moore—yang baru-baru ini mengungkapkan prospek kepresidenan Trump secara langsung.
Moore—yang dikenal sebagai komentator politik sayap kiri—merilis sebuah film berjudul TrumpLand, dimana dia memperingatkan bahaya terpilihnya dia sebagai presiden. Dia juga mengunggah artikel di situsnya dengan judul Five Reasons Trump Will Win, meskipun kali ini lebih realistik dibanding yang dia lakukan 17 tahun sebelumnya di video klip Rage Against The Machine tersebut.
Namun, Rage Against The Machine bukanlah yang pertama memperkirakan kepresidenan Trump. Sebelumnya, film Back To The Future telah memprediksinya.
Pada Back To The Future Part II yang dirilis pada 1989, penjahat trilogi ini, Biff Tannen, terlihat menjadi pengusaha sukses. Dia membuka kasino 27 lantai dan menggunakan uangnya untuk mempengaruhi politik AS. Fans sudah lama yakin bahwa karakter itu dibuat berdasarkan Trump—teori yang kemudian dikonfirmasi penulis naskah film ini, Bob Gale, tahun lalu.
“Kami memikirkannya ketika kami membuat film ini,” ucap Gale kepada The Daily Beast.

Gale menyoroti salah satu adegan yang tampaknya benar-benar menyinggung Trump. “Ada adegan dimana Marty menemui Biff di kantornya ada foto Biff yang sangat besar di dinding di belakang Biff dan ada satu moment dimana Biff seperti berdiri dan dia berpose sama seperti foto itu,” tutur Gale seperti dikutip BBC.
Di film itu, Biff menggunakan laba dari kasinonya untuk menggoyang Partai Republikan sebelum akhirnya merebut kekuasaan. Dia kemudian mengubah Hill Valley California menjadi sebuah kota yang dipenuhi kejahatan dan korupsi. Trump terpilih sebagai presiden 27 tahun setelah Back To The Future Part II dirilis.
(alv)