Efek Buruk Tidur Setelah Sahur

Rabu, 31 Mei 2017 - 02:14 WIB
Efek Buruk Tidur Setelah...
Efek Buruk Tidur Setelah Sahur
A A A
JAKARTA - GERD (gastroesophageal reflux disease) merupakan masalah pencernaan yang kerap dikeluhkan banyak orang saat menjalani ibadah puasa. Kendati GERD bukan penyakit mematikan, namun penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi.

Konsultan penyakit lambung dan pencernaan dari FKUI/RSCM Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH mengatakan naiknya asam lambung selama puasa disebabkan oleh kebiasaan tidur setelah sahur. Menurut Dr Ari, hal ini bisa menyebabkan asam lambung balik arah kembali ke kerongkongan yang memicu masalah pada saluran cerna atas.

"Selain itu ada kebiasaan buruk lain yang juga sering dilakukan pada saat Ramadan, yaitu makan terlalu berlebihan pada saat berbuka, diikuti dengan merokok. Dengan melakukan ini, Anda sebenarnya meningkatkan risiko untuk terjadinya masalah pada lambung seperti dyspepsia, terutama jika Anda sudah mempunyai penyakit maag sebelumnya," kata Dr Ari melalui keterangan resmi yang diterima Sindonews.

Untuk mencegah penyakit ini, Dr Ari menyarankan untuk berbuka puasa dengan porsi sedang. Misalnya dengan mengkonumsi makanan ringan dalam porsi kecil, lalu menunggu hingga usai salat magrib. Sebelum melanjutkan dengan makanan utama setelah magrib dan sebelum solat tarawih. Namun, makanan yang dikonsumsi harus dalam jumlah yang tidak berlebihan.

"Budaya balas dendam dengan berpikir untuk menggandakan makan siang dan makan malam saat berbuka harus dihindari. Membiasakan diri untuk berhenti makan dua jam sebelum tidur agar pencernaan bisa bekerja optimal," pungkasnya.

Seperti diketahui, GERD diderita oleh 10-20% populasi orang dewasa di dunia. Meningkatnya obesitas dan westernisasi di Asia, membuat prevalensi GERD meningkat dengan cepat. Dari studi berbasis populasi, prevalensi GERD berbasis gejala di Asia Timur sebesar 2,5%-4,8% sebelum 2005 dan 5,2%-8,5% dari 2005 sampai 2010.

Di Asia Tenggara dan Barat, prevalensimya mencapai 6,3% -18,3% setelah 2005, jauh lebih tinggi daripada angka di Asia Timur. Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki data epidemiologi lengkap mengenai penyakit ini.
(tdy)
Berita Terkait
PERMINESIA Dorong Edukasi...
PERMINESIA Dorong Edukasi Kesehatan Tubuh dan Hormonal bagi Perempuan Menopause
Generali Health Cities...
Generali Health Cities di 17 Kota Demi Kesehatan Masyarakat
Mutu Fasilitas Kesehatan...
Mutu Fasilitas Kesehatan Menentukan Kesehatan Masyarakat
Optimalisasi Kesehatan...
Optimalisasi Kesehatan Pencernaan Anak untuk Kesehatan Holistik
Vaksinasi Tenaga Kesehatan...
Vaksinasi Tenaga Kesehatan Lansia
Idap Gangguan Kesehatan...
Idap Gangguan Kesehatan akibat Banjir, Para Lansia Serbu Layanan Kesehatan Gratis
Berita Terkini
INDOFEST 2026 Digelar,...
INDOFEST 2026 Digelar, Taffware Tawarkan Diskon Perlengkapan Outdoor Besar-besaran
1 jam yang lalu
Pendakian Gunung Meningkat,...
Pendakian Gunung Meningkat, Menhut Siapkan Pengaturan untuk Cegah Kecelakaan dan Sampah
7 jam yang lalu
Clara Shinta Tegaskan...
Clara Shinta Tegaskan Tak Punya Catatan Kriminal, SKCK Jadi Bukti di Tengah Polemik
8 jam yang lalu
Latihan Kaki Tak Hanya...
Latihan Kaki Tak Hanya Bakar Kalori, Ternyata Penting untuk Keseimbangan Hormon
8 jam yang lalu
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
9 jam yang lalu
Sinopsis Terikat Janji...
Sinopsis 'Terikat Janji' 4 Juni 2026: Identitas Aslinya Runtuh, Sena Rela Pikul Kesalahan Sendiri demi Lindungi Davina
11 jam yang lalu
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved