Bukan Kemoterapi, Ini Pengobatan Kanker Terkini di Singapura

Kamis, 04 Januari 2018 - 17:00 WIB
Bukan Kemoterapi, Ini...
Bukan Kemoterapi, Ini Pengobatan Kanker Terkini di Singapura
A A A
BIAYA perawatan kesehatan yang relatif rendah, teknologi medis modern, ditunjang tim dokter yang terampil, menjadikan Singapura sebagai destinasi wisata medis di dunia. The Cancer Center, salah satunya, menawarkan pengobatan terkini untuk kanker.

Pengobatan kanker seiring waktu semakin berkembang. Jika sebelumnya pengobatan kanker cenderung dipukul rata untuk setiap pasien tanpa melihat lebih detail kondisi pasien bersangkutan, kini pengobatan untuk penyakit serius ini telah lebih personal. Pasien pun dapat menaruh harapan pada treatment terapi target maupun imunoterapi yang lebih minim efek samping dan tepat sasaran.

"Dulu pasien kanker rata-rata diberikan pengobatan yang sama, seperti kemoterapi dan tidak selektif," beber dr Wong Seng Weng, Medical Directory & Consultant Specialist The Cancer Center (TCC), yang merupakan bagian dari Singapore Medical Group (SMG), di Paragon Medical, Singapura.

Kemoterapi, ujar dia, membabat semua sel, baik yang terkena kanker maupun yang sehat. Efek samping yang paling terlihat dari terapi kimia ini adalah gangguan nafsu makan, rambut rontok, penekanan sistem imun, hingga kerusakan ginjal. Berbeda dengan terapi target, terapi ini hanya menyerang sel kanker atau sel yang mengalami pembelahan tidak terkendali sehingga pertumbuhan dan penyebarannya dapat dihambat.

Sebelum diberikan terapi ini, pasien lebih dulu harus menjalani pemeriksaan profil genetik. "Dari sini bisa diketahui gen yang bermutasi sehingga bisa diberikan obat yang sesuai. Kami juga bisa melihat apa yang menyebabkan sel kanker terus berkembang dan menyebar, kemudian digunakan obat untuk memblokir sinyal yang terlibat dalam pertumbuhan sel kanker," ujar medical oncologist ini.

Pemeriksaan genetik bisa dilakukan dengan pengambilan sampel dari hasil biopsi atau contoh darah. Lebih jauh, obat terapi target bekerja dengan memanfaatkan mutasi gen tersebut. Obat masuk ke tubuh dan mencari sel dengan gen yang bermutasi tersebut, lalu melumpuhkannya.

Arifin Ng, General Manager & Senior Vice President SMG International Partners, mengatakan, pengobatan kanker dibanding 10 tahun lalu sudah banyak mengalami kemajuan. "Setelah terapi target, ada imunoterapi yang juga minim efek samping," ucap Arifin.

Pada prinsipnya, imunoterapi bekerja dengan mengaktivasi sistem imun (kekebalan tubuh) pasien. Imunoterapi bekerja dengan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor. Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PD-L1) melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker. "Kombinasi imunoterapi dengan kemoterapi bisa memberikan 80% keberhasilan untuk pengobatan kanker paru," kata dr Wong.

Di Singapura, imunoterapi selain untuk kanker paru, juga diberikan bagi pasien kanker kulit (melanoma). Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat US FDA baru-baru ini juga telah menyetujui pemberian imunoterapi untuk jenis kanker lainnya. Dengan begitu, Singapura akan menerapkan imunoterapi untuk kanker lain, seperti kanker leher dan kepala, ginjal, lambung, kelenjar getah bening/limfoma (tipe Hodgkins), dan kanker lainnya dengan karakteristik genetik tertentu yang dikenal dengan Mis-match repair (MMR) deficiency.

FDA pada Mei 2007 telah menyetujui penggunaan imunoterapi untuk kanker dengan gen yang abnormal yang disebut MMR deficiency. Kanker dengan mutasi gen yang lebih banyak akan merespons lebih baik pengobatan imunoterapi. Menurut dr Wong, jika pemeriksaan profil genetik cocok, pasien akan diberikan terapi target. Jika tidak sesuai, imunoterapi menjadi solusi.

SMG hingga saat ini memiliki 25 dokter spesialis dan 51 dokter subspesialis dengan 35 klinik tersebar di penjuru Singapura. SMG mulai berekspansi ke luar negeri pada 2015, salah satunya Indonesia dengan Ciputra SMG Eye Clinic, lalu Vietnam. The Cancer Centre berlokasi di Paragon Medical & Mount Elizabeth Novena.
(amm)
Berita Terkait
Opsi Pengobatan Makin...
Opsi Pengobatan Makin Banyak, Penyakit Kanker Bukan Akhir Segalanya
Lewat Unggahan Positif,...
Lewat Unggahan Positif, Masyarakat Peduli Kanker Bisa Berdonasi Tanpa Sumbang Uang
Ibu-ibu Bhayangkari,...
Ibu-ibu Bhayangkari, Jalasenastri, dan Persit di Sikka Jalani Deteksi Dini Kanker Payudara
3 Kanker Paling Mematikan...
3 Kanker Paling Mematikan di Indonesia, Waspadai Sejak Dini
9 Hal Mengejutkan yang...
9 Hal Mengejutkan yang Bisa Menyebabkan Kanker, dari Teh Panas hingga Alat Kontrasepsi
Kenali Risiko dan Gejala...
Kenali Risiko dan Gejala Limfoma, Kanker Darah yang Harus Diwaspadai sejak Dini
Berita Terkini
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
1 jam yang lalu
Nonton Gratis hingga...
Nonton Gratis hingga VIP, Ini Beragam Cara Menikmati Microdrama di V+Short
1 jam yang lalu
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
2 jam yang lalu
Liburan Mewah Tanpa...
Liburan Mewah Tanpa Menguras Anggaran: Hotel Bintang 4 dan 5 Mulai Rp300.000
2 jam yang lalu
Potret Alyssa Daguise...
Potret Alyssa Daguise dan Baby Soleil Jadi Sorotan, Perhiasan yang Dipakai Tembus Rp1,2 Miliar
3 jam yang lalu
Pembuktian Irish Bella...
Pembuktian Irish Bella jadi Produser di Film Horor Dosa, Tayang 11 Juni
3 jam yang lalu
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved