Catcalling, Kebiasaan yang Mesti Segera Punah?

Sabtu, 03 Agustus 2019 - 10:25 WIB
Catcalling, Kebiasaan...
Catcalling, Kebiasaan yang Mesti Segera Punah?
A A A
ISTILAH catcalling mungkin masih terdengar asing di telinga. Tapi kalau kamu lihat praktiknya, hal tersebut malah sudah dianggap lumrah di Indonesia.

Bahkan pelakunya merasa tidak berdosa! Anindya Restuviani, co-director Hollaback! Jakarta, gerakan yang berfokus mengakhiri pelecehan di ruang publik, mengatakan bahwa catcalling adalah sebuah kekerasan yang dilakukan secara verbal.

"Enggak harus kekerasan seksual. Biasanya bentuknya berupa shouting, bersiul ataupun manggil-manggil di jalan, itu yang disebut catcalling," jelas Anindya, akrab disapa Vivi. Karena menggoda di pinggir jalan sudah jadi kebiasaan, sudah jadi ‘budaya’, maka akhirnya sering didiamkan.

Padahal, jelas-jelas catcalling merupakan sebuah pelecehan. Vivi menganalogikan catcalling seperti ‘memanggil kucing di jalan’. "Sebetulnya tidak ada bentuk atau istilah secara eksplisit apa perkataan mereka (pelaku), tapi saat mereka melakukan itu di ruang publik kepada orang asing, maka itu juga disebut catcalling," tambahnya.

Dia berpendapat bahwa istilah catcalling tidak memiliki batasan yang pasti. Fenomenanya di Indonesia memang sudah lama terjadi, tapi Vivi berpikir bahwa terminologi itu baru muncul belakangan ini lantaran tidak adanya terjemahan ke dalam bahasa Indonesia secara literal.

Catcalling juga kerap kali dianggap sebagai candaan belaka. "Saat kita ngomongin kekerasan seksual, maka kunci utamanya adalah korban itu tidak menginginkan. Jadi, kalau si korban merasa itu hanya bercanda dan ia baik-baik saja, memang bisa dibilang itu bukanlah kekerasan, tapi tetap saja dinamakan catcalling," tandas Vivi.

"Karena catcalling bentuk kekerasan verbal yang dibiasakan, walaupun korban yang di-catcalling ini cuek, tapi tetap yang perlu dilihat lagi adalah dia sadar enggak kalau itu kekerasan verbal?" imbuhnya. Vivi berspekulasi, bahwa para pelaku pun ada yang tidak paham asalasan mereka melakukannya.

"Pasti jawabannya, ‘Ya, karena yang lain juga seperti itu’. Jadi, catcalling sudah menjadi budaya. Karena didiamkan dan akhirnya menjadi sebuah budaya," jelasnya.

Pelaku Anggap Biasa
Dugaan Vivi ada benarnya. Seorang pelaku berinisial MFN yang diwawancarai Gen Sindo menganggap bahwa catcalling yang dilakukannya adalah candaan semata. Ia mengatakan bahwa catcalling merupakan hal biasa di lingkungannya.

"Jujur, saya baru tahu istilah catcalling. Saya enggak menganggap itu sebuah pelecehan, kalau saya lihat dari sudut pandang lingkungan saya. Karena catcalling itu bukan hanya sebatas merayu atau menggoda seseorang, tapi punya arti luas.

Ini harus diberi tahu secara meluas," kata MFN. MFN juga mengakui kalau ia sering ‘bercanda’ semacam itu kepada teman ataupun adik kelasnya. "Saya cuma memanggil namanya terus senyum, atau memanggil sambil bilang ‘Sstt... sstt..’ dan lain-lain.

Respons mereka enggak ada yang ilfeel atau marah, karena memang saya hanya bercanda, bahkan kadang direspons senyum," jelasnya lagi. Sementara perempuan berinisial MA yang kerap jadi korban catcalling sering merasa kesal dan sedih saat hal itu terjadi.

"Biasanya kejadian di jalan, di pasar, dan di kereta. Meski cuma perkataan, yang namanya pelecehan tetaplah pelecehan!" katanya sambil mengatakan bahwa para pelaku yang menggodanya biasanya berusia sekitar 20 tahun ke atas. Saat ditanyai apakah ia pernah melawan balik pelaku, MA menjawab biasanya tidak secara langsung.

"Saya hanya menatap tajam, lalu berlari ke tempat keramaian atau berjalan dengan cepat. Beda lagi kalau kondisinya dia berani menyentuh, saya bakalan melawan!"

Semua Bisa Jadi Korban dan Pelaku
Menurut Vivi, tidak ada ciri atau profiling yang jelas untuk para pelaku. Siapa pun bisa menjadi pelaku dan siapa pun juga bisa menjadi korban. "Kenapa kesannyacatcalling ini (identik) dilakukan oleh mas-mas tukang ojek? Ya, karena mereka yang ada di jalan.

Padahal, kekerasan seksual yang terjadi, seperti di tempat kerja, itu kebanyakan adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Jadi, kembali lagi, tidak ada profiling yang pasti dalam pelaku kekerasan seksual," kata Vivi menegaskan.

FINKA FAHRYAH
GEN SINDO-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(nfl)
Berita Terkait
8 Tanaman yang Cocok...
8 Tanaman yang Cocok Ditanam di Balkon Rumah
7 Hobi Cowok yang Bisa...
7 Hobi Cowok yang Bisa Bikin Cewek Oleng, Kamu Setuju?
Rekomendasi Kanal YouTube...
Rekomendasi Kanal YouTube untuk Kamu yang Mau Belajar Merajut
Mahasiswa Mencoba Berkebun,...
Mahasiswa Mencoba Berkebun, Supaya Hemat dan Dapat Uang
Jenis-Jenis Kucing Paling...
Jenis-Jenis Kucing Paling Populer di Indonesia
Cobain yuk, Kirim Surat...
Cobain yuk, Kirim Surat ke Teman Pena Luar Negeri lewat Slowly
Berita Terkini
Nantikan Teaser Poster...
Nantikan Teaser Poster Serial My Chef In Crime, Ada Misteri yang Siap Bikin Penasaran di VISION+
29 menit yang lalu
Liburan Pertama Alyssa...
Liburan Pertama Alyssa Daguise Bareng Baby Soleil ke Bali, Potretnya Bikin Gemas
46 menit yang lalu
Bukan Sakit Biasa, Mas...
Bukan Sakit Biasa, Mas Den Ungkap Kejanggalan sebelum Ayahnya Meninggal
1 jam yang lalu
Nonton Microdrama China...
Nonton Microdrama China 'Rising Before Fate' di V+Short, Simak Sinopsisnya
2 jam yang lalu
Run for Independence...
Run for Independence Day 81 Akan Digelar, MNC Life Berikan Perlindungan Jiwa bagi Seluruh Peserta
3 jam yang lalu
Microdrama AI Second...
Microdrama AI Second Crown Tayang di V+Short, Drama Kerajaan yang Bikin Nagih
3 jam yang lalu
Infografis
Profil Rudi Margono...
Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved