Review Film Midway

Sabtu, 09 November 2019 - 03:32 WIB
Review Film Midway
Review Film Midway
A A A
Film dengan tema Perang Dunia, baik I atau pun II, senantiasa menjanjikan tontonan penuh aksi perang yang seru dengan bumbu cerita dramatis yang emosional. Midway, yang diangkat dari cerita Perang Midway pada 1942, adalah salah satunya. Film ini dibesut Roland Emmerich yang sebelumnya sukses menukangi Independence Day pada 1996. Film ini dibuat untuk menghormati mereka yang telah mengorbankan nyawanya dalam perang di Samudra Pasifik.

Film ini begitu bertabur bintang. Dari Ed Skrein, Luke Evans, Dennis Quaid, Mandy Moore, Patrick Wilson, Aaron Eckhart, Woody Harrelson, Darren Cris, Nick Jonas dan lain-lain. Namun, semua itu tidak menjanjikan sebuah tontonan yang sempurna.

Midway mengisahkan tentang para penerbang dan pelaut militer di kapal induk USS Enterprise saat menghadapi serangan Pearl Harbor pada Desember 1941. Serangan itu dilakukan Jepang tanpa ada peringatan dan meluluhlantakkan pangkalan militer Amerika di Hawaii tersebut. Serangan itu dilakukan ketika Amerika dalam posisi netral saat Perang Dunia II terjadi. Di film itu diceritakan, Amerika sebenarnya telah diperingatkan terkait serangan itu oleh Edwin Layton (Patrick Wilson), seorang intelijen militer. Namun, peringatan itu diberikan secara tersamar dan tidak semua orang memahaminya.

Setelah serangan itu, Amerika pun membenahi pertahanan lautnya. Mereka mengganti sejumlah pemimpin dan memulai menyusun strategi untuk menghadapi Jepang. Salah satu ujung tombak pertahanan itu adalah USS Enterprise yang dipimpin Laksamana Muda William “Bull” Halsey (Dennis Quaid). Di kapal itu, dia memiliki sejumlah penerbang tangguh dari Dick Best (Ed Skrein) yang mahir tapi susah diatur, Wade McClusky (Luke Evans), Eugene Lindsay (Darren Criss) hingga teknisi terbang Bruno Gaido (Nick Jonas). Tim inilah yang memiliki peranan penting dalam penyerangan terhadap armada Jepang yang hendak menyerbu Pulau Midway pada Juni 1942 di bawah komando Laksamana Chester Nimitz.

Sementara, pihak Jepang yang merasa Amerika sudah ‘habis’ dan tidak akan berani melakukan serangan balasan, juga tak kalah untuk menyusun strategi perang. Setelah menjajah China, mereka juga berusaha menguasai pulau-pulau kecil di kawasan Pasifik yang juga menjadi basis pertahanan Amerika. Dua tokoh kunci militer Jepang dalam perang ini adalah Laksamana Muda Chūichi Nagumo (Jun Kunimura) dan Laksamana Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa).

Aspek inilah yang menjadikan film ini menarik. Midway tidak hanya menceritakan usaha Amerika untuk mempertahankan Midway, tapi juga menceritakan bagaiamana usaha Jepang untuk menyerbu pulau itu. Ya, memang Amerika adalah jagoannya di film ini. Namun, Jepang tidak digambarkan sebagai sosok penjahat yang sangat jahat di film ini. Ada sejumlah aspek keteguhan dari sisi militer Jepang yang turut diperlihatkan di film ini.

Namun, skrip film ini terlalu penuh. Dengan bertaburnya bintang di film ini, penulis naskahnya, Wes Tooke, sepertinya tidak bisa mengembangkan cerita untuk para karakter di film ini. Ada bagian-bagian di mana karakter itu tidak melakukan apa-apa selain briefing dan berperang. Tokoh utama di film ini, Dick Best yang diperankan Ed Skrein tampil dengan dialog dan cerita latar ala kadarnya. Ini membuat karakter yang harusnya kuat dan menjadi protagonis utama malah terlihat berlalu begitu saja. Padahal, akting para bintang di film ini sudah bagus semua. Sayangnya, semua karakter itu tipis-tipis saja penokohannya. Emmerich sepertinya ingin menampilkan sebanyak mungkin petarung di film ini, tapi ini tidak pas dengan narasi yang ingi disampaikan.

Namun, harus diakui, secara visual, film ini memang menarik. Adegan-adegan pertempurannya pun menarik untuk ditonton. Film ini menyuguhkan adegan perang antarpesawat tempur era PD II yang tentu berbeda teknologinya dengan sekarang. Visual effect yang ditampilkan harus diakui cukup bagus. Emmerich cukup mampu menciptakan kembali Perang Midway dengan mengesankan. Dia juga bisa mempertahankan tone film ini dari awal hingga akhir. Hanya, eksekusi klimaksnya tidak terlalu dramatis. Padahal, dengan durasi 138 menit, film ini seharusnya lebih mampu menampilkan tontonan seru yang lebih dramatis lagi.

Midway adalah film tentang Perang Midway di masa Perang Dunia II yang menampilkan adegan perang yang seru antara Amerika dan Jepang. Sayang, plot ceritanya tipis.

Midway sudah bisa disaksikan di bioskop kesayangan Anda. Selamat menyaksikan!
(alv)
Berita Terkait
Perkuat Semangat Perdamaian...
Perkuat Semangat Perdamaian Generasi Muda, Ukrida Gelar Resensi Film Internasional
5 Contoh Teks Ulasan...
5 Contoh Teks Ulasan dari Film hingga Game, Mudah Dipelajari!
10 Rekomendasi Resensi...
10 Rekomendasi Resensi Novel untuk Membuka Dunia Literasi
The Bases of Our Insecurity
The Bases of Our Insecurity
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
Resensi Buku Lagi Probation:...
Resensi Buku Lagi Probation: Menikmati Susahnya Mencari Kerja
Berita Terkini
Kris Tomahu, Gery &...
Kris Tomahu, Gery & Gany, dan Samuel Cipta Antusias Tampil di Konser Tehillim - The Heart of Worship
1 jam yang lalu
Anneth Delliecia Antusias...
Anneth Delliecia Antusias Meriahkan Konser Tehillim - The Heart of Worship
2 jam yang lalu
Konser Tehillim 2026:...
Konser Tehillim 2026: Angel Pieters Ungkap Pesan Mendalam di Balik Lagu Liliana Tanoesoedibjo
2 jam yang lalu
Jangan Cuma Top-Up,...
Jangan Cuma Top-Up, Yuk Kelola Saldo ShopeePay Kamu dengan 4 Langkah Ini!
2 jam yang lalu
Liliana Tanoesoedibjo...
Liliana Tanoesoedibjo Terima Penghargaan MURI Kartini atas Konser Tehillim - The Heart of Worship
3 jam yang lalu
Liliana Tanoesoedibjo...
Liliana Tanoesoedibjo Ciptakan 12 Lagu Rohani Baru untuk Konser Tehillim dari Perjalanan Kuliah S2 Teologi
3 jam yang lalu
Infografis
10 Film dan Acara TV...
10 Film dan Acara TV yang Meramalkan Masa Depan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved