Grebeg Sudiro, Harmonisasi Antar Etnis di Solo

Selasa, 03 Februari 2015 - 16:21 WIB
Grebeg Sudiro, Harmonisasi...
Grebeg Sudiro, Harmonisasi Antar Etnis di Solo
A A A
SOLO - Masyarakat Tionghoa-Jawa di kota Solo setiap tahun merayakan Tahun Baru Imlek yang disebut Grebeg Sudiro. Anda dapat menyaksikan kemeriahan festival ini di kawasan Pasar Gede, Solo.

Festival ini dijadwalkan akan digelar pada 15-18 Februari 2015, disusul rangkaian acara Imlek Festival pada 19 Februari 2015.

Dikutip dari Indonesia Travel, kata grebeg merupakan bahasa Jawa yang digunakan untuk menyambut hari-hari khusus, seperti Kelahiran Nabi Muhammad, Syawal, Idul Adha dan Suro.

Perebutan hasil bumi dan makanan yang disusun dalam bentuk gunungan, menjadi puncak perayaan Grebeg Sudiro. Perebutan hasil bumi dan makanan ini didasari oleh falsafah Jawa yang berbunyi "ora babah ora mamah" yang artinya "jika tidak berusaha maka tidak makan". Sedangkan, gunung sendiri merupakan rasa syukur masyarakat Jawa pada Sang Pencipta.

Gunungan Grebeg Sudiro disusun dari ribuan kue ranjang, yaitu kue khas orang Tionghoa saat menyambut Imlek. Gunungan akan diarak di sekitar Kawasan Sudiroprajan dan diikuti pawai serta kesenian Tionghoa serta Jawa.

Akhir dari perayaan ini ditandai dengan nyalanya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas gerbang Pasar Gede. Penyalaan lampion juga dilakukan di tempat-tempat lain.

Festival Solo 2015 menyuguhkan kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer yang digelar di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Arak-arakan tersebut akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie, di depan Pasar Gede.

Grebeg Sudiro merupakan salah satu cara menunjukkan harmonisasi antara etnis yang berbeda. Etnis Jawa dan Tionghoa hidup dalam satu lingkungan yang diwarnai tradisi saling menghargai.

Menjelang prosesi Grebeg Sudiro, kedua etnis tersebut saling bantu-membantu mempersiapkan ritual syukur kepada bumi dan alam semesta ini.

Kawasan Sudiroprajan sendiri merupakan sebuah kelurahan di Kecataman Jebres, Kota Solo. Di kawasan ini, warga Peranakan (Tionghoa) sudah puluhan tahun menetap dan tinggal berdampingan dengan masyarakat Jawa.

Seiring berjalannya waktu, terjadilah perkawinan antara kedua etnis tersebut yang kemudian menciptakan generasi baru. Untuk menunjukkan akulturasi ini, diciptakanlah perayaan Grebeg Sudiro.
(nfl)
Berita Terkait
Makna Imlek Dirayakan...
Makna Imlek Dirayakan selama 15 Hari, Ditutup dengan Festival Lentera
Jelang Tahun Baru Imlek...
Jelang Tahun Baru Imlek 2024, Pesanan Hampers Online Melonjak
Resep Dodol Wijen Khas...
Resep Dodol Wijen Khas Imlek, Sajian Legendaris di Tahun Ular
Siapa yang Paling Beruntung...
Siapa yang Paling Beruntung pada Tahun Ular?
15 Fakta Menarik Tahun...
15 Fakta Menarik Tahun Baru Imlek, Para Lajang Tua Menyewa Pacar Palsu
5 Tradisi Unik Imlek...
5 Tradisi Unik Imlek di China, Salah Satunya Tidak Membalik Ikan saat Dimakan
Berita Terkini
Lewat Buku, Saddam Permana...
Lewat Buku, Saddam Permana Bongkar Kisah Masa Lalunya
24 menit yang lalu
Ruben Onsu Bongkar Bukti...
Ruben Onsu Bongkar Bukti Transfer Rp11,3 Miliar untuk Rumah Sarwendah
1 jam yang lalu
Pernah Didiagnosis Depresi...
Pernah Didiagnosis Depresi Mayor, Saddam Permana Ceritakan Titik Terendah Hidupnya
1 jam yang lalu
Baper dan Penuh Twist!...
Baper dan Penuh Twist! Bring Back My Heart Jadi Microdrama yang Wajib Ditonton di V+Short
2 jam yang lalu
Road To Kilau Raya MNCTV...
Road To Kilau Raya MNCTV Siap Ajak Warga Klaten Joget dan Nyanyi Lagu-Lagu Viral
2 jam yang lalu
Paula Verhoeven Mohon...
Paula Verhoeven Mohon Doa untuk Kiano yang Tengah Dirawat di RS
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved