CERMIN: Sepandai-pandai Tupai Melompat
Rabu, 22 Februari 2023 - 14:45 WIB
Film Sharper menggambarkan para penipu yang melakukan aksinya tanpa harus melanggar hukum. Foto/AppleTV
JAKARTA - Tahun 2017. Saya tengah menjalani proses pascaproduksi film SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui,dan dunia berkenalan pertama kalinya dengan Anna Delvey.
Setiap orang tahu bahwa saat ini uang tak sekadar sebagai simbol transaksi. Uang juga menjadi alat tukar ampuh untuk membeli kepercayaan seseorang. Di sebuah hotel mewah di Soho, New York, Anna 'membeli' kepercayaan itu dari salah satu pegawai hotel, Neffatari Davis, berupa uang tip sebesar USD100. Dan semuanya menjadi gegap gempita dari sini.
Anna lantas masuk dengan mudahnya ke kehidupan jetset New York/Manhattan. Meyakinkan banyak orang bahwa dirinya adalah putri dari seorang bangsawan Eropa dan pada akhirnya menipu banyak orang dengan ratusan ribu dolar. Kisah Anna lantas diadaptasi menjadi serial yang menarik perhatian di Netflix berjudul Inventing Anna.
Masih di lingkaran Manhattan, bertahun-tahun setelahnya, kita bertemu dengan Madeline, perempuan setengah baya yang cantik dan elegan. Ia tengah dimabuk cinta dengan miliarder Richard Hobbes. Sekilas cinta itu terasa tulus, sekilas cinta itu terasa menghanyutkan. Tapi kita lantas tahu bahwa Madeline tak lebih baik dari Anna.
Foto: AppleTV
Di tangan sutradara Benjamin Caron, Sharperbekerja dengan beragam rasa dan dengan bab-bab unik yang mencoba membongkar sisik melik karakter-karakter utamanya. Pertama kali filmnya akan terasa sebagai romansa antara dua anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tom, putra satu-satunya sang miliarder sekaligus pemilik toko buku, terkesima melihat seorang gadis cantik bernama Sandra. Tom semakin terkesan ketika tahu Sandra sedang mengambil kuliah S2 di New York University dan menyukai novel Jane Eyre. Cinta membutakan mata Tom hingga ia tak sadar bahwa dirinya ditipu oleh si gadis yang membawa kabur uangnya sebesar USD35 ribu.
Baca Juga: CERMIN: Reza Rahadian, Trauma, dan Kemarahan Itu
Di tiap bab, kita akan melihat satu karakter diberi porsi lebih besar dan berkelindan dengan karakter-karakter lainnya. Dengan skema penceritaan ini ternyata efektif untuk membuat film bertema penipuan ini menjadi lebih segar dari film-film pendahulunya. Setelah Tom dan Sandra, kita lantas bertemu Max, laki-laki ganteng dan necis yang juga tak lebih baik dari Anna.
Max mendedikasikan hidupnya untuk menipu orang lain. Ia memiliki metode yang memerlukan latihan dengan sabar selama beberapa lama.
Setiap orang tahu bahwa saat ini uang tak sekadar sebagai simbol transaksi. Uang juga menjadi alat tukar ampuh untuk membeli kepercayaan seseorang. Di sebuah hotel mewah di Soho, New York, Anna 'membeli' kepercayaan itu dari salah satu pegawai hotel, Neffatari Davis, berupa uang tip sebesar USD100. Dan semuanya menjadi gegap gempita dari sini.
Anna lantas masuk dengan mudahnya ke kehidupan jetset New York/Manhattan. Meyakinkan banyak orang bahwa dirinya adalah putri dari seorang bangsawan Eropa dan pada akhirnya menipu banyak orang dengan ratusan ribu dolar. Kisah Anna lantas diadaptasi menjadi serial yang menarik perhatian di Netflix berjudul Inventing Anna.
Masih di lingkaran Manhattan, bertahun-tahun setelahnya, kita bertemu dengan Madeline, perempuan setengah baya yang cantik dan elegan. Ia tengah dimabuk cinta dengan miliarder Richard Hobbes. Sekilas cinta itu terasa tulus, sekilas cinta itu terasa menghanyutkan. Tapi kita lantas tahu bahwa Madeline tak lebih baik dari Anna.
Foto: AppleTV
Di tangan sutradara Benjamin Caron, Sharperbekerja dengan beragam rasa dan dengan bab-bab unik yang mencoba membongkar sisik melik karakter-karakter utamanya. Pertama kali filmnya akan terasa sebagai romansa antara dua anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tom, putra satu-satunya sang miliarder sekaligus pemilik toko buku, terkesima melihat seorang gadis cantik bernama Sandra. Tom semakin terkesan ketika tahu Sandra sedang mengambil kuliah S2 di New York University dan menyukai novel Jane Eyre. Cinta membutakan mata Tom hingga ia tak sadar bahwa dirinya ditipu oleh si gadis yang membawa kabur uangnya sebesar USD35 ribu.
Baca Juga: CERMIN: Reza Rahadian, Trauma, dan Kemarahan Itu
Di tiap bab, kita akan melihat satu karakter diberi porsi lebih besar dan berkelindan dengan karakter-karakter lainnya. Dengan skema penceritaan ini ternyata efektif untuk membuat film bertema penipuan ini menjadi lebih segar dari film-film pendahulunya. Setelah Tom dan Sandra, kita lantas bertemu Max, laki-laki ganteng dan necis yang juga tak lebih baik dari Anna.
Max mendedikasikan hidupnya untuk menipu orang lain. Ia memiliki metode yang memerlukan latihan dengan sabar selama beberapa lama.
Lihat Juga :