CERMIN: Zombi dari London Menyerang Warga Desa di Jawa
Rabu, 24 Mei 2023 - 12:58 WIB
Meski tak didukung dengan skenario yang cukup mumpuni, Sidharta Tata sebagai sutradara menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menambal bolong-bolong yang ada di skenario, meski masih menyisakan dialog demi dialog yang terdengar generik di telinga dan mengangkatnya menjadi sebuah miniseri dengan misteri yang terjalin dengan cukup rapi.
Foto: Netflix
Dengan jangkauan semesta cerita yang tak luas, Sidharta leluasa menggarap yang ada di dalamnya dengan lebih fokus. Ia memberi ruang bagi karakter-karakter untuk berkembang, memperlihatkan jalinan di antara mereka dengan baik, dan terutama memberi sorot yang cukup bagi pendatang baru seperti Sara Fajira untuk bersinar.
Maka kita melihat cara Sidharta memberi ruang bagi penonton untuk melihat hubungan Tika dan ayahnya, masa lalu keduanya yang menghasilkan hubungan tak harmonis kelak, yang mungkin berimbas pada perginya Tika sejenak dari kehidupan Dibyo.
Kita juga melihat Sidharta memberi ruang bagi penonton untuk melihat Gilang kecil masuk ke dalam kehidupan Tika dan Dibyo, dan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Kita juga melihat Retno yang gusar melihat ayahnya yang menghilang begitu saja, dan ibunya yang tiba-tiba seperti kehilangan akal harus kembali merasakan kehadiran Gilang, yangpada masa lalu bisa jadi pernah menyakiti hatinya.
Terutama juga kita melihat Dibyo sebagai seorang ayah yang bertindak melakukan apa pun untuk melindungi putrinya yang sesungguhnya bukan benar-benar putrinya lagi.
Foto: Netflix
Mungkin itulah yang membuat kita mudah terkoneksi dengan Hitamdibanding dengan film/serial/miniseri asing yang bertema serupa. Orang-orang seperti Dibyo, Tika, Retno, dan Gilang ada di sekitar kita. Bisa jadi mereka adalah kita yang merasa perlu bertindak melebihi yang bisa dibayangkan demi melindungi orang-orang tercinta.
Dibyo yang terasa berjarak dengan putrinya tetap tak tega ketika melihat Tika sudah berubah wujud. Ia melakukan segala cara untuk melindungi putrinya. Kini ia hanya Dibyo yang seorang ayah, bukan lagi Dibyo yang seorang kepala desa.
Foto: Netflix
Dengan jangkauan semesta cerita yang tak luas, Sidharta leluasa menggarap yang ada di dalamnya dengan lebih fokus. Ia memberi ruang bagi karakter-karakter untuk berkembang, memperlihatkan jalinan di antara mereka dengan baik, dan terutama memberi sorot yang cukup bagi pendatang baru seperti Sara Fajira untuk bersinar.
Maka kita melihat cara Sidharta memberi ruang bagi penonton untuk melihat hubungan Tika dan ayahnya, masa lalu keduanya yang menghasilkan hubungan tak harmonis kelak, yang mungkin berimbas pada perginya Tika sejenak dari kehidupan Dibyo.
Kita juga melihat Sidharta memberi ruang bagi penonton untuk melihat Gilang kecil masuk ke dalam kehidupan Tika dan Dibyo, dan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Kita juga melihat Retno yang gusar melihat ayahnya yang menghilang begitu saja, dan ibunya yang tiba-tiba seperti kehilangan akal harus kembali merasakan kehadiran Gilang, yangpada masa lalu bisa jadi pernah menyakiti hatinya.
Terutama juga kita melihat Dibyo sebagai seorang ayah yang bertindak melakukan apa pun untuk melindungi putrinya yang sesungguhnya bukan benar-benar putrinya lagi.
Foto: Netflix
Mungkin itulah yang membuat kita mudah terkoneksi dengan Hitamdibanding dengan film/serial/miniseri asing yang bertema serupa. Orang-orang seperti Dibyo, Tika, Retno, dan Gilang ada di sekitar kita. Bisa jadi mereka adalah kita yang merasa perlu bertindak melebihi yang bisa dibayangkan demi melindungi orang-orang tercinta.
Dibyo yang terasa berjarak dengan putrinya tetap tak tega ketika melihat Tika sudah berubah wujud. Ia melakukan segala cara untuk melindungi putrinya. Kini ia hanya Dibyo yang seorang ayah, bukan lagi Dibyo yang seorang kepala desa.
Lihat Juga :