Kurangnya Orisinalitas pada Konten Bisa Bikin Influencer Ditinggalkan Gen Z
Selasa, 23 Mei 2023 - 17:58 WIB
Kini, mereka justru cenderung lebih percaya pada komunitas-komunitas dengan pemikiran atau minat yang sama.
Selain itu, kampanye influencer juga telah mengubah lanskap media sosial yang ditujukan untuk berinteraksi menjadi tempat untuk mengunggah iklan bersponsor.
"Kini, orang-orang telah muak dengan postingan yang menunjukkan influencer selebritas berpose serupa, mengedepankan sebuah produk seraya menjelaskan kelebihannya dan melengkapi postingan itu dengan menyebut brand serta menggunakan tagar atau hashtag bermerek," ungkap Jennifer Ang dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.
Sebuah riset oleh Bazaarvoice juga menunjukkan sekitar 47% konsumen lelah dengan konten influencer yang serupa dan berulang. Dengan kata lain, konsumen mulai meninggalkan para influencer karena kurangnya orisinalitas pada konten bersponsor mereka.
Selain itu, masalah lain juga timbul dari transparansi dan efektivitas kampanye influencer. Pasalnya, tak sedikit influencer yang membeli pengikut atau menggunakan bot untuk meningkatkan keterlibatan atau engagement palsu hanya untuk mendapatkan bayaran yang lebih tinggi.
Studi perusahaan cyber security CHEQ, menemukan sekitar 15% dari biaya iklan influencer justru dihabiskan untuk membeli pengikut atau followers palsu. CHEQ mencatat, penipuan influencer jelas merugikan merek hingga USD1,3 miliar/tahun.
Selain itu, kampanye influencer juga telah mengubah lanskap media sosial yang ditujukan untuk berinteraksi menjadi tempat untuk mengunggah iklan bersponsor.
"Kini, orang-orang telah muak dengan postingan yang menunjukkan influencer selebritas berpose serupa, mengedepankan sebuah produk seraya menjelaskan kelebihannya dan melengkapi postingan itu dengan menyebut brand serta menggunakan tagar atau hashtag bermerek," ungkap Jennifer Ang dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.
Sebuah riset oleh Bazaarvoice juga menunjukkan sekitar 47% konsumen lelah dengan konten influencer yang serupa dan berulang. Dengan kata lain, konsumen mulai meninggalkan para influencer karena kurangnya orisinalitas pada konten bersponsor mereka.
Selain itu, masalah lain juga timbul dari transparansi dan efektivitas kampanye influencer. Pasalnya, tak sedikit influencer yang membeli pengikut atau menggunakan bot untuk meningkatkan keterlibatan atau engagement palsu hanya untuk mendapatkan bayaran yang lebih tinggi.
Studi perusahaan cyber security CHEQ, menemukan sekitar 15% dari biaya iklan influencer justru dihabiskan untuk membeli pengikut atau followers palsu. CHEQ mencatat, penipuan influencer jelas merugikan merek hingga USD1,3 miliar/tahun.
Lihat Juga :