SOROT: Stop Bikin Film Horor Sampah!

Sabtu, 10 Juni 2023 - 08:41 WIB
Masih banyak film horor dengan judul-judul ajaib dan menghadirkan banyak adegan erotis di dalamnya. Misalnya saja Paku Kuntilanak(2009), Dendam Pocong Mupeng (2010) dan Diperkosa Setan (2010).

Gelombang baru film horor Indonesia ditandai oleh meledak hebatnya film KKN di Desa Penari pada 2022 yang mencetak jumlah penonton lebih dari 10 juta orang dan menobatkannya sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa. Dalam daftar 15 film Indonesia terlaris 2022, menariknya delapan judul di antaranya bergenre horor. Sekali lagi membangkitkan kembali tren film horor di bioskop.

Salah satu yang juga menarik dari bangkitnya kembali tren film horor tahun lalu adalah pencapaian dua film horor, Qodrat dari sutradara Charles Gozali dan Inang dari sutradara Fajar Nugros. Keduanya membuat standar baru dalam industri atas pencapaian artistik maupun isi filmnya.

Qodrat dianggap mendefinisikan ulang film horor dengan memberi tempat pada ustaz menjadi tokoh utama dan mendorong filmnya memaksimalkan unsur aksi, sehingga membuat Qodrat terasa menyegarkan. Sementara Inang yang mencampurkan horor dan thriller dianggap berhasil karena menyajikan komentar sosial secara menarik dalam sebuah film.



Hantu Tanah Kusir. Foto: Maxima Pictures

Sayangnya memang pencapaian kedua film di atas tak diikuti kebanyakan film horor lainnya yang rilis pada tahun ini. Setelahnya bermunculan puluhan judul film horor dengan kualitas buruk, bahkan sebagian di antaranya sesungguhnya tak layak tayang di bioskop.

Akun Twitter @kripikfilm memberi komentar atas film Alena Anak Ratu Iblis sebagai berikut: “Bagaikan mimpi buruk berlapis-lapis yang berisikan gado-gado adegan dan dialog-dialog rubbish, lalu terbungkus visual efek yang terlihat tak murahan, terutama CGI bagian opening sekaligus juga ending-nya yang TOP ABIEZ!!”

Dari Letterboxd yang berisi ulasan film dari seluruh dunia, meluncur komentar atas film Iblis dalam Darah dari akun ridhofkr: “film buatan mahasiswa masih lebih bagus dari film ini.”Sementara kanal YouTube Cine Crib yang cukup sering melontarkan kritik pedas untuk film berkualitas buruk memberi penilaian untuk Tulah 6/13 sebagai berikut: “Ingin tampil beda tapi cara menceritakannya ajaib banget. Tidak tahu cara menceritakannya dan malas menceritakannya. Yang penting ada setannya dan yang penting ada plot twist”.

Sebagai sesama pembuat film cukup membuat waswas melihat kualitas film horor yang beredar di bioskop belakangan ini. Dan pada akhirnya membuat genre horor kembali dicap buruk oleh masyarakat.

Padahal sesungguhnya genre tak pernah salah, yang patut disalahkan adalah pembuat filmnya yang tak bertanggung jawab untuk membuat film berkualitas baik. Padahal tahun ini sudah ada dua film horor berkualitas baik yang bahkan menjadi film terlaris nomor 1 dan 2 masing-masing Sewu Dino dari sutradara Kimo Stamboel dan Waktu Maghrib dari sutradara Sidharta Tata. Artinya masyarakat sesungguhnya mengapresiasi film berkualitas baik yang menjadikan kedua film tersebut beroleh jutaan penonton.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!