CERMIN: Mandala, Puisi, Teka-Teki, dan Narasi yang Tak Perlu

Rabu, 02 Agustus 2023 - 14:19 WIB
Karena itulahketika Ed juga pergi secara mendadak sebagaimana sang ayah, Dita hancur berkeping-keping. Kita pun ikut merasakan kehancuran itu. Kita tak perlu melihat Dita yang menangis meraung-raung. Mungkin kita hanya perlu melihat Dita yang menangis diam-diam dalam gelap dalam banyak kesempatan.



Foto: Sinemaku Pictures

Saya pernah dua kali merasakan kehilangan setara yang dialami Dita. Ketika kelas 1 SMA, saya kehilangan ibu saya karena kecelakaan mobil dan pada usia 30 ketika adik saya meninggal karena AIDS. Tapi karena momentum 'merasakan kehilangan' ini tak diberi waktu dalam Ketika Berhenti Di Sini, jadinya sayatak ikut menangis bersama Dita.

Ketika Ed pergi pun, saya tak merasakah kehilangan semata karena skenario yang ditulis bersama Alim Sudio dan Umay itu tak memberi ruang lebih banyak bagi Dita dan Ed mengeksplorasi momen-momen intim, bukan sekadar mesra. Momen-momen keduanya mencoba saling menyempurnakan, momen-momen keduanya berbicara dari hati ke hati tentang banyak hal, termasuk soal kehilangan, kematian dan juga masa depan.

Selain narasi yang tak efektif, puisi dan teka-teki yang sekali lagi sesungguhnya potensial dieksplorasi, hanya menjadi teks dan tak kunjung menjadi subteks yang menggigit. Tak pernah ada introduksi soal kecintaan Dita pada puisi dan teka-teki, hal yang terakhir yang membuatnya tertarik pada Ed (selain karena Ed berpenampilan ganteng dan charming tentunya).

Padahal puisi dan teka-teki ini juga sangat bisa efektif ketika ia hadir dari masa lalu Dita bersama ayahnya dan memori itu dibangkitkan lagi tanpa sengaja oleh Ed. Sekali lagi sesungguhnya tak ada ketidaksengajaan dalam hidup ini. Bisa jadi Ed memang dihadirkan oleh Tuhan untuk mengingatkan Dita pada hal-hal kecil yang perlu disyukurinya dalam hidup.



Foto: Sinemaku Pictures

Jadinya memang menonton Ketika Berhenti di Siniterasa seperti menyelesaikan puzzle yang beberapa potongannya berserakan entah ke mana. Potongan paling penting yang justru memperlihatkan apa yang menjadi pusat dari gambar di puzzle seperti sengaja dihilangkan begitu saja.

Tapi Umay beruntung punya Prilly Latuconsina sebagai Dita. Saya sempat memproduseri Prilly dalam film layar lebar pertamanya pada 2013 berjudul La Tahzandan mengarahkannya sebagai sutradara dalam serial 10 episode berjudul Cerita Dokter Cinta pada2019. Saya tahu betapa seriusnya Prilly menekuni seni akting dan betapa hausnya ia untuk selalu memberikan kapasitas terbaiknya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!