CERMIN: Suzzanna (juga Luna Maya) adalah Magma Perfilman Indonesia
Jum'at, 04 Agustus 2023 - 13:35 WIB
Maka ketika Luna Maya didaulat untuk 'membangkitkan kembali' sosok Suzzanna dalam film Suzzanna: Beranak Dalam Kuburpada 2018, banyak yang juga berharap bahwa film-film yang kelak diperankannya sebagai Suzzanna juga akan memunculkan pembicaraan terkait representasi perempuan sebagai hantu dalam perfilman Indonesia.
Foto: Soraya Intercine Films
Namun Soraya Intercine Films yang memiliki hak penuh atas kebangkitan Suzanna dalam film horor terkini justru memilih jalan berbeda. Setelah Suzzanna: Beranak Dalam Kuburyang dirilis lima tahun silam di bioskop, dan kini Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, kita bisa melihat bahwa Luna Maya sekadar mengulang yang sudah disajikan Suzzanna dalam film-film yang memopulerkan dirinya pada periode tahun 1970-1980-an.
Tak ada upaya lebih besar dari tim penulis skenario untuk memberi napas baru pada sosok ikonis tersebut. Suzzanna dihadirkan kembali tak lebih sebagai mesin komoditas untuk menarik perhatian masyarakat ke bioskop dan pada akhirnya demi mencetak status box office. Faktanya memang Suzzanna: Beranak Dalam Kuburberhasil mendatangkan 3,3 juta penonton ke bioskop.
Dalam film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, sutradara Guntur Soeharjanto lebih meletakkan unsur dramatik dan komedi sebagai pijak ceritanya. Peraih Piala Citra 2014 sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik untuk film Tabula Rasa, Tumpal Tampubolon, menulis skenario yang bekerja dengan baik di dua sektor tersebut. Ritme ceritanya terjaga dan motivasi karakter utamanya pun tergambarkan dengan baik.
Namun unsur horornya tak istimewa dan sekadar pengulangan demi pengulangan dari sejumlah film yang sudah pernah kita saksikan di bioskop. Yang di luar dugaan adalah bagaimana Suzzanna: Malam Jumat Kliwonmemasukkan unsur komedi yang kuat dengan dua sosok hansip (diperankan Opie Kumis dan Adi Bing Slamet). Kehadiran keduanya memang dieksploitasi habis-habisan oleh Guntur dan memang menjadi penyelamat dari kebosanan atas pengulangan demi pengulangan yang ada.
Foto: Soraya Intercine Films
Di luar pengulangan yang dilakukan oleh cerita/skenario tanpa upaya berarti, Luna Maya perlu mendapat tepukan meriah atas keberhasilannya membangkitkan kembali Suzzanna. Beban besar berada di pundaknya sejak awal ia didaulat untuk memainkan peran-peran ikonis dari ratu horor tersebut.
Tak mudah untuk berakting di bawah bayang-bayang sebesar itu, yang bahkan tak mungkin bisa menjatuhkannya. Namun Luna justru berhasil menepis keraguan sebagian orang dan seperti 'terlahir kembali' dalam wujud Suzzanna dalam dua jilid film yang telah dirilis.
Foto: Soraya Intercine Films
Namun Soraya Intercine Films yang memiliki hak penuh atas kebangkitan Suzanna dalam film horor terkini justru memilih jalan berbeda. Setelah Suzzanna: Beranak Dalam Kuburyang dirilis lima tahun silam di bioskop, dan kini Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, kita bisa melihat bahwa Luna Maya sekadar mengulang yang sudah disajikan Suzzanna dalam film-film yang memopulerkan dirinya pada periode tahun 1970-1980-an.
Tak ada upaya lebih besar dari tim penulis skenario untuk memberi napas baru pada sosok ikonis tersebut. Suzzanna dihadirkan kembali tak lebih sebagai mesin komoditas untuk menarik perhatian masyarakat ke bioskop dan pada akhirnya demi mencetak status box office. Faktanya memang Suzzanna: Beranak Dalam Kuburberhasil mendatangkan 3,3 juta penonton ke bioskop.
Dalam film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, sutradara Guntur Soeharjanto lebih meletakkan unsur dramatik dan komedi sebagai pijak ceritanya. Peraih Piala Citra 2014 sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik untuk film Tabula Rasa, Tumpal Tampubolon, menulis skenario yang bekerja dengan baik di dua sektor tersebut. Ritme ceritanya terjaga dan motivasi karakter utamanya pun tergambarkan dengan baik.
Namun unsur horornya tak istimewa dan sekadar pengulangan demi pengulangan dari sejumlah film yang sudah pernah kita saksikan di bioskop. Yang di luar dugaan adalah bagaimana Suzzanna: Malam Jumat Kliwonmemasukkan unsur komedi yang kuat dengan dua sosok hansip (diperankan Opie Kumis dan Adi Bing Slamet). Kehadiran keduanya memang dieksploitasi habis-habisan oleh Guntur dan memang menjadi penyelamat dari kebosanan atas pengulangan demi pengulangan yang ada.
Foto: Soraya Intercine Films
Di luar pengulangan yang dilakukan oleh cerita/skenario tanpa upaya berarti, Luna Maya perlu mendapat tepukan meriah atas keberhasilannya membangkitkan kembali Suzzanna. Beban besar berada di pundaknya sejak awal ia didaulat untuk memainkan peran-peran ikonis dari ratu horor tersebut.
Tak mudah untuk berakting di bawah bayang-bayang sebesar itu, yang bahkan tak mungkin bisa menjatuhkannya. Namun Luna justru berhasil menepis keraguan sebagian orang dan seperti 'terlahir kembali' dalam wujud Suzzanna dalam dua jilid film yang telah dirilis.
Lihat Juga :