CERMIN: Setelah Qodrat dan Inang Tahun Lalu, Apa Pencapaian Film Horor Lokal Tahun Ini?
Jum'at, 11 Agustus 2023 - 14:00 WIB
Primbon kembali mengisi slot film horor pada tahun 2023 dengan cerita khas Tanah Jawa. Foto/MAXStream
JAKARTA - Tahun 2022. Untuk pertama kalinya film Indonesia menyentuh pencapaian jumlah penonton hingga 10 juta orang melalui film KKN di Desa Penari. Namun ada dua film horor lainnya yang diingat pencinta film atas pencapaian teknis dan artistiknya.
Kedua film tersebut adalah Qodratdari sutradara Charles Gozali dan Inangyang dibesut Fajar Nugros. Judul pertama dipujikan atas keterampilan Charles mendorong pencapaian teknis dan menjadikan film horor lokal ke level yang baru, sementara judul terakhir diingat berkat komentar sosialnya yang tajam dipadukan dengan thriller yang juga memikat.
Tahun ini film horor masih berjaya di box office. Waktu Maghribmasih menjadi film horor terlaris tahun ini dan juga ada Sosok Ketigayang secara mengejutkan juga menembus target box office sejuta penonton. Sayangnya keduanya tak memberi pencapaian baru baik dari sisi teknis maupun artistik.
Baca Juga: CERMIN: Film Horor, Adrenalin, dan Kesenangan dari Rasa Takut
Maka Primbonyang datang dari duet sutradara Rudi Soedjarwo dengan comeback sukses Sayap-Sayap Patahtahun lalu, juga pernah membesut Pocongyang cemerlang. serta penulis skenario Lele Leila melahirkan banyak film horor laris termasuk Danuryang fenomenal, menjadi tumpuan harapan bagi sineas sekaligus penonton seperti saya. Trailernya terbilang menarik dengan ensemble cast menjanjikan, pun poster yang meski sederhana, tapi masih menyisakan aura misteri yang kuat. Tapi apakah Primbonbetul-betul bisa mewujud menjadi film horor berkualitas?
Foto: MAXStream
Dari sisi ide cerita, Primbonmenawarkan premis menarik. Bagaimana primbon yang dulunya menjadi kompas bagi masyarakat Jawa dalam pelbagai segi kehidupannya berhadapan dengan ketidakpercayaan mereka yang bukan Jawa terutama soal hari-hari sial?
Dalam primbon, terdapat kepercayaan akan empat sifat dari hari yang buruk, keempatnya adalah hari taliwangke (hari sengkala), samparwangke (hari sengkala), kunarpawarsa (tahun bencana), dan sangarwarsa (tahun bencana). Sementara itu sifat dari hari baik ada tiga, yaitu bulan rahayu (bulan baik), bulan sarju (bulan sedang), dan Anggara Kasih. Karenanya primbon berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan sikap dalam suatu tindakan dalam kehidupan.
Primbondibuka dengan menarik. Kita melihat adegan tahlilan dari Rana yang dinyatakan hilang di hutan selama berhari-hari. Keluarga dari pihak ayahnya, Banyu, menyelenggarakan tahlilan itu karena meyakini Rana tak mungkin selamat. Sementara ibunya, Dini, masih merasakan keberadaan Rana dan sebenarnya tak setuju dengan tahlilan itu.
Kedua film tersebut adalah Qodratdari sutradara Charles Gozali dan Inangyang dibesut Fajar Nugros. Judul pertama dipujikan atas keterampilan Charles mendorong pencapaian teknis dan menjadikan film horor lokal ke level yang baru, sementara judul terakhir diingat berkat komentar sosialnya yang tajam dipadukan dengan thriller yang juga memikat.
Tahun ini film horor masih berjaya di box office. Waktu Maghribmasih menjadi film horor terlaris tahun ini dan juga ada Sosok Ketigayang secara mengejutkan juga menembus target box office sejuta penonton. Sayangnya keduanya tak memberi pencapaian baru baik dari sisi teknis maupun artistik.
Baca Juga: CERMIN: Film Horor, Adrenalin, dan Kesenangan dari Rasa Takut
Maka Primbonyang datang dari duet sutradara Rudi Soedjarwo dengan comeback sukses Sayap-Sayap Patahtahun lalu, juga pernah membesut Pocongyang cemerlang. serta penulis skenario Lele Leila melahirkan banyak film horor laris termasuk Danuryang fenomenal, menjadi tumpuan harapan bagi sineas sekaligus penonton seperti saya. Trailernya terbilang menarik dengan ensemble cast menjanjikan, pun poster yang meski sederhana, tapi masih menyisakan aura misteri yang kuat. Tapi apakah Primbonbetul-betul bisa mewujud menjadi film horor berkualitas?
Foto: MAXStream
Dari sisi ide cerita, Primbonmenawarkan premis menarik. Bagaimana primbon yang dulunya menjadi kompas bagi masyarakat Jawa dalam pelbagai segi kehidupannya berhadapan dengan ketidakpercayaan mereka yang bukan Jawa terutama soal hari-hari sial?
Dalam primbon, terdapat kepercayaan akan empat sifat dari hari yang buruk, keempatnya adalah hari taliwangke (hari sengkala), samparwangke (hari sengkala), kunarpawarsa (tahun bencana), dan sangarwarsa (tahun bencana). Sementara itu sifat dari hari baik ada tiga, yaitu bulan rahayu (bulan baik), bulan sarju (bulan sedang), dan Anggara Kasih. Karenanya primbon berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan sikap dalam suatu tindakan dalam kehidupan.
Primbondibuka dengan menarik. Kita melihat adegan tahlilan dari Rana yang dinyatakan hilang di hutan selama berhari-hari. Keluarga dari pihak ayahnya, Banyu, menyelenggarakan tahlilan itu karena meyakini Rana tak mungkin selamat. Sementara ibunya, Dini, masih merasakan keberadaan Rana dan sebenarnya tak setuju dengan tahlilan itu.
Lihat Juga :