SOROT: Mengapa Investor Nasional Belum Melirik Potensi Film Makassar?
Sabtu, 26 Agustus 2023 - 12:55 WIB
Meski secara teknis terhitung buruk, toh, tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk menyaksikan film tersebut di bioskop. Awalnya diputar terbatas, Uang Panainyatanya mampu beroleh sekitar 300 ribu penonton hanya dalam 10 hari pemutaran. Hingga hari ini, Uang Panaimasih menjadi film Makassar terlaris dengan rekor perolehan penonton melebihi 600 ribu orang.
Tapi meledaknya Uang Panaitak serta merta membuat investor nasional berduyun-duyun mendukung produksi film Makassar. Hingga hari ini yang patut diberi acungan dua jempol atas konsistensinya adalah Nikky dengan rumah produksi 786 Production.
Nikky membuka ruang selebar mungkin bagi sineas Makassar untuk berkolaborasi dan lebih dari 10 judul film Makassar berhasil dilahirkannya.
Selain itu ada beberapa rumah produksi lain yang memproduksi 1-2 judul film. Saya pun sempat memproduksi film berjudul SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstuidengan investor/rumah produksi dari Makassar, Inipasti Communika, pada 2018.
FilmSILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui. Foto: 786 Production
Dibanding saat Uang Panaidirilis tujuh tahun silam, kini Makassar/Sulawesi Selatan punya cukup banyak bioskop. Jaringan bioskop terbesar, Grup 21 Cineplex, bahkan mengoperasikan hingga tujuh bioskop di Makassar.
Jaringan bioskop lain seperti CGV dan Cinepolis mengoperasikan beberapa bioskop di Makassar. Jaringan bioskop independen lain juga tersebar di beberapa kota kabupaten seperti Platinum Cineplex di Palopo, Dakota Cinema di Sengkang, dan Planet Cinema di Bone. Dengan demikian ruang-ruang untuk memutar film produksi sineas Makassar pun terbuka lebar.
Salah satu faktor penting yang juga perlu mendapat perhatian adalah militansi dari suku Bugis Makassar menyaksikan film tentang wilayahnya sendiri di bioskop. Berdasar Sensus Penduduk tahun 2010, suku Bugis Makassar menempati suku keempat terbanyak di Indonesia dengan total jumlah mencapai 6,3 juta orang (lebih dari 50% menetap di Sulawesi Selatan).
Karenanya sebenarnya tidak mengherankan Uang Panaibisa beroleh lebih dari 600 ribu penonton karena juga disokong dari daerah-daerah yang menjadi kantong diaspora suku Bugis Makassar seperti Sulawesi Tengah dan Tenggara, Kalimantan Tengah dan Selatan, juga NTB, Ambon, dan Papua.
Sejumlah data terbaru juga membuktikan bahwa popularitas film Makassar tak bisa lagi diremehkan. Pada Kamis, 24 Agustus kemarin, dua film Indonesia dirilis di bioskop masing-masing berjudul Galaksi (film nasional) dan Mappacci (film Makassar).
Tapi meledaknya Uang Panaitak serta merta membuat investor nasional berduyun-duyun mendukung produksi film Makassar. Hingga hari ini yang patut diberi acungan dua jempol atas konsistensinya adalah Nikky dengan rumah produksi 786 Production.
Nikky membuka ruang selebar mungkin bagi sineas Makassar untuk berkolaborasi dan lebih dari 10 judul film Makassar berhasil dilahirkannya.
Selain itu ada beberapa rumah produksi lain yang memproduksi 1-2 judul film. Saya pun sempat memproduksi film berjudul SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstuidengan investor/rumah produksi dari Makassar, Inipasti Communika, pada 2018.
FilmSILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui. Foto: 786 Production
Dibanding saat Uang Panaidirilis tujuh tahun silam, kini Makassar/Sulawesi Selatan punya cukup banyak bioskop. Jaringan bioskop terbesar, Grup 21 Cineplex, bahkan mengoperasikan hingga tujuh bioskop di Makassar.
Jaringan bioskop lain seperti CGV dan Cinepolis mengoperasikan beberapa bioskop di Makassar. Jaringan bioskop independen lain juga tersebar di beberapa kota kabupaten seperti Platinum Cineplex di Palopo, Dakota Cinema di Sengkang, dan Planet Cinema di Bone. Dengan demikian ruang-ruang untuk memutar film produksi sineas Makassar pun terbuka lebar.
Salah satu faktor penting yang juga perlu mendapat perhatian adalah militansi dari suku Bugis Makassar menyaksikan film tentang wilayahnya sendiri di bioskop. Berdasar Sensus Penduduk tahun 2010, suku Bugis Makassar menempati suku keempat terbanyak di Indonesia dengan total jumlah mencapai 6,3 juta orang (lebih dari 50% menetap di Sulawesi Selatan).
Karenanya sebenarnya tidak mengherankan Uang Panaibisa beroleh lebih dari 600 ribu penonton karena juga disokong dari daerah-daerah yang menjadi kantong diaspora suku Bugis Makassar seperti Sulawesi Tengah dan Tenggara, Kalimantan Tengah dan Selatan, juga NTB, Ambon, dan Papua.
Sejumlah data terbaru juga membuktikan bahwa popularitas film Makassar tak bisa lagi diremehkan. Pada Kamis, 24 Agustus kemarin, dua film Indonesia dirilis di bioskop masing-masing berjudul Galaksi (film nasional) dan Mappacci (film Makassar).
Lihat Juga :