Review Film The Creator: Tontonan yang Oke, tapi Tanggung
Rabu, 27 September 2023 - 19:19 WIB
Tak hanya itu, Joshua kemudian tahu kalau bocah itu punya kaitan dengan seseorang di masa lalunya. Melawan perintah untuk membunuh atau menyerahkan bocah itu, Joshua membawanya untuk menemukan istrinya, Maya, yang hilang sekitar 5 tahun sebelum pertemuan itu. Joshua memberi nama bocah itu sebagai Alphie.
Akibatnya, Joshua berikut Alphie pun jadi buronan. Tidak hanya militer AS yang menginginkan mereka, tapi juga aparat terkait di Asia Baru. Pelarian itu membawa Joshua bertemu lagi teman-temannya di masa lalu dan dia pun ada di jalur yang tepat untuk kembali menemukan istrinya.
Premis The Creator sebenarnya tidak terlalu rumit. Alurnya juga jelas. Tapi, cara penceritaannya yang terkesan tanggung membuat film ini agak sulit untuk dinikmati. Tidak ada perkembangan karakter yang sangat berarti di film ini.
Foto: Bloody Disgusting
Joshua yang punya beban mental dan emosional dari awal mengemban tugas untuk mengarahkan cerita film ini. Nostalgia masa lalu yang terus membayanginya membuatnya tidak bisa berkembang. Sementara, Alphie yang sebenarnya adalah robot, meski disebut bisa berkembang, butuh pengarahan dan pemahaman lebih lanjut pada sosok dan kemampuannya. Tapi, The Creator tidak melakukannya.
Minimnya penjelasan tentang seperti apa sejatinya kemampuan Alphie membuat film ini jadi terasa kurang. Ya, Alphie bisa mengendalikan AI lain, tapi, tarafnya masih sangat dasar. Tidak ada usaha dari Joshua atau orang lain untuk mengarahkannya. Alih-alih, mereka hanya pasrah pada masa depan Alphie yang sebenarnya suram tanpa berusaha memaksimalkan fungsinya.
Sutradara film ini, Gareth Edwards, terlihat lebih menitikberatkan pada visual effect dan sinematografi ketimbang pada cerita dan karakternya. Makanya, The Creator jadi terasa tanggung. Film ini tidak jelek, tapi juga tidak bagus. Masih bisa dinikmati dengan banyak catatan.
Akibatnya, Joshua berikut Alphie pun jadi buronan. Tidak hanya militer AS yang menginginkan mereka, tapi juga aparat terkait di Asia Baru. Pelarian itu membawa Joshua bertemu lagi teman-temannya di masa lalu dan dia pun ada di jalur yang tepat untuk kembali menemukan istrinya.
Premis The Creator sebenarnya tidak terlalu rumit. Alurnya juga jelas. Tapi, cara penceritaannya yang terkesan tanggung membuat film ini agak sulit untuk dinikmati. Tidak ada perkembangan karakter yang sangat berarti di film ini.
Foto: Bloody Disgusting
Joshua yang punya beban mental dan emosional dari awal mengemban tugas untuk mengarahkan cerita film ini. Nostalgia masa lalu yang terus membayanginya membuatnya tidak bisa berkembang. Sementara, Alphie yang sebenarnya adalah robot, meski disebut bisa berkembang, butuh pengarahan dan pemahaman lebih lanjut pada sosok dan kemampuannya. Tapi, The Creator tidak melakukannya.
Minimnya penjelasan tentang seperti apa sejatinya kemampuan Alphie membuat film ini jadi terasa kurang. Ya, Alphie bisa mengendalikan AI lain, tapi, tarafnya masih sangat dasar. Tidak ada usaha dari Joshua atau orang lain untuk mengarahkannya. Alih-alih, mereka hanya pasrah pada masa depan Alphie yang sebenarnya suram tanpa berusaha memaksimalkan fungsinya.
Sutradara film ini, Gareth Edwards, terlihat lebih menitikberatkan pada visual effect dan sinematografi ketimbang pada cerita dan karakternya. Makanya, The Creator jadi terasa tanggung. Film ini tidak jelek, tapi juga tidak bagus. Masih bisa dinikmati dengan banyak catatan.
Lihat Juga :