CERMIN: Begini Seharusnya Film dari Adaptasi Buku Dibuat
Jum'at, 20 Oktober 2023 - 13:25 WIB
Dibandingkan dengan menonton film dari sudut pandang seorang penegak hukum, Killers of the Flower Moon memang terasa lebih menyegarkan dituturkan dari sudut pandang seorang laki-laki biasa saja, tak pintar amat-amat, cenderung mudah dimanipulasi tapi bisa dengan mudah jatuh cinta begitu saja dengan perempuan dari suku Osage.
Foto: Paramount Pictures
Karakter Ernest sedemikian menjadi pilihan paling menarik yang pernah dilakukan Leonardo DiCaprio sepanjang kariernya. Ernest yang abu-abu, kompleks dan susah untuk didefinisikan juga dimainkan dengan menarik olehnya.
Ernest yang baru saja pulang dari perang diterima secara terbuka oleh pamannya, William. Ia pun lantas bekerja sebagai sopir di sebuah wilayah yang tengah menanjak karena lahan-lahannya tiba-tiba dihujani minyak. Karuan saja suku Osage yang menjadi pemilik lahan-lahan tersebut menjadi Orang Kaya Baru.
Tapi OKB-OKB ini mesti berhadapan dengan kedengkian dari kaum kulit putih yang seperti tak ikhlas melihat mereka bisa kaya dalam semalam. Di tengah-tengah kedengkian yang menjalar di udara dan bisa meledak sekejap itu, Ernest jatuh cinta pada Mollie, perempuan dari suku Osage. Sebagaimana banyak laki-laki kulit putih yang menikahi perempuan suku Osage karena mengincar harta mereka, Ernest justru berbeda.
Ia mencintai Mollie dengan tulus tapi ia juga tak bisa mengelak ketika dirinya dijadikan kaki tangan oleh pamannya sendiri untuk sejumlah aksi kejahatan. Hingga akhirnya pembunuhan demi pembunuhan menjadi pandemi yang menakutkan bagi suku Osage dan kelak mencari perlindungan dari negara.
Foto: Paramount Pictures
Selama 3,5 jam Martin Scorsese memperlihatkan bahwa ketamakan bisa menjadi akar dari segala kejahatan termasuk kejahatan yang paling keji. Nyawa manusia tak lagi berarti, ia hanya sebanding dengan sebidang tanah yang terus menerus mengeluarkan minyak dari perut bumi. Ketamakan membuat manusia kehilangan kemanusiaannya, ketamakan membuat manusia kehilangan kewarasannya dan ketamakan membuat manusia berhenti menjadi manusia begitu saja.
Saya ingat kisah Ki Ageng Suryomentaram yang hidup pada akhir abad ke-19. Seorang pangeran yang gelisah melihat dunia yang berubah, juga manusia-manusia di dalamnya. Dan segala harta benda yang melingkupinya dan menularkan sejumlah versi ketamakan.
Foto: Paramount Pictures
Karakter Ernest sedemikian menjadi pilihan paling menarik yang pernah dilakukan Leonardo DiCaprio sepanjang kariernya. Ernest yang abu-abu, kompleks dan susah untuk didefinisikan juga dimainkan dengan menarik olehnya.
Ernest yang baru saja pulang dari perang diterima secara terbuka oleh pamannya, William. Ia pun lantas bekerja sebagai sopir di sebuah wilayah yang tengah menanjak karena lahan-lahannya tiba-tiba dihujani minyak. Karuan saja suku Osage yang menjadi pemilik lahan-lahan tersebut menjadi Orang Kaya Baru.
Tapi OKB-OKB ini mesti berhadapan dengan kedengkian dari kaum kulit putih yang seperti tak ikhlas melihat mereka bisa kaya dalam semalam. Di tengah-tengah kedengkian yang menjalar di udara dan bisa meledak sekejap itu, Ernest jatuh cinta pada Mollie, perempuan dari suku Osage. Sebagaimana banyak laki-laki kulit putih yang menikahi perempuan suku Osage karena mengincar harta mereka, Ernest justru berbeda.
Ia mencintai Mollie dengan tulus tapi ia juga tak bisa mengelak ketika dirinya dijadikan kaki tangan oleh pamannya sendiri untuk sejumlah aksi kejahatan. Hingga akhirnya pembunuhan demi pembunuhan menjadi pandemi yang menakutkan bagi suku Osage dan kelak mencari perlindungan dari negara.
Foto: Paramount Pictures
Selama 3,5 jam Martin Scorsese memperlihatkan bahwa ketamakan bisa menjadi akar dari segala kejahatan termasuk kejahatan yang paling keji. Nyawa manusia tak lagi berarti, ia hanya sebanding dengan sebidang tanah yang terus menerus mengeluarkan minyak dari perut bumi. Ketamakan membuat manusia kehilangan kemanusiaannya, ketamakan membuat manusia kehilangan kewarasannya dan ketamakan membuat manusia berhenti menjadi manusia begitu saja.
Saya ingat kisah Ki Ageng Suryomentaram yang hidup pada akhir abad ke-19. Seorang pangeran yang gelisah melihat dunia yang berubah, juga manusia-manusia di dalamnya. Dan segala harta benda yang melingkupinya dan menularkan sejumlah versi ketamakan.
Lihat Juga :