Review Film Hari Ke-40: Demonstrasi Berujung Rasa Cemas

Rabu, 08 November 2023 - 13:56 WIB
Reaksi lainnya adalah penjarahan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya menjarah barang-barang berharga, orang-orang tidak bertanggung jawab ini juga melakukan perusakan, pembakaran, pemerkosaan, dan pembunuhan. Keadaan menjadi tidak terkendali.

Kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat dengan cepat menjalar ke tempat lain. Grogol yang menjadi titik awal kejadian ini rusuh. Beberapa pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar. Rumah sakit penuh oleh korban kerusuhan. Suasana Kota Jakarta terasa sangat mencekam dan tidak aman.

Penyampaian pendapat oleh mahasiswa mencapai puncaknya saat Presiden Soeharto menyatakan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998. Rezim Orde Baru pun berakhir. Para demontran bersorak gembira. Banyak pula yang menangis haru. Dimulailah masa reformasi. Awal yang baru bagi bangsa Indonesia.

Banyak yang Diciduk

Kebanyakan orang menyambut masa reformasi ini dengan gembira. Namun, tidak demikian dengan orang-orang yang terkena dampaknya. Banyak yang kehilangan harta bahkan nyawa. Peristiwa ini bukanlah sesuatu yang bisa dirayakan oleh keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Keluarga dari para Pahlawan Reformasi perlu waktu beberapa tahun untuk pulih dari dukacita yang mendalam.



Foto: MAXStream

Pak Wahyu dan Bu Indri dalam film pendek ini juga merasakan hal yang sama. Kenangan atas kehilangan anak pertama mereka saat mengikuti demonstrasi tidak dapat mereka lupakan. Kenangan buruk itu muncul kembali saat Ilham, anak kedua mereka, satu-satunya anak mereka yang masih hidup, juga mengikuti demonstrasi.

Menjadi demonstran telah mengubah hidup Ilham. Anak yang semula dianggap rapi, pintar, dan penurut itu menjadikan rumahnya berantakan tak keruan dan berbau tak sedap. Pak Wahyu juga menemukan surat pemberitahuan kalau anaknya ini memiliki masalah akademis di kampusnya.

Pokoknya demonstrasi lebih diutamakan daripada pendidikan dan urusan rumah. Tak heran Pak Wahyu khawatir akan kehidupan anaknya. Kekhawatiran itu makin memuncak saat Pak RT mengetuk pintu rumah untuk mencari Ilham.

“Jangan-jangan Pak RT disuruh sama polisi. Anaknya Pak Agus yang satu kampus dengan Ilham sudah diciduk dari rumahnya,” kata Pak Wahyu pada istrinya.

Diciduk adalah istilah umum yang digunakan apabila ada orang yang dijemput paksa dari rumahnya. Diciduk oleh aparat karena demonstrasi menjadi sesuatu yang mengerikan dan tanpa kepastian. Ada juga yang 'dihilangkan', tidak ada kabarnya entah masih hidup atau sudah meninggal. Banyaknya orang yang diciduk saat masa reformasi itu menjadi pemicu terbentuknya Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

Novel terkenal berjudul Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menceritakan para demonstran yang diciduk ini. Tokoh-tokoh dalam novel yang juga dijadikan film ini berakhir tragis. Laut, sang tokoh utama, mengembuskan napas terakhirnya di laut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!