Review Film Wish: Terlalu Simpel dan Klise untuk Animasi Disney

Rabu, 22 November 2023 - 18:18 WIB
Rosas menjadi tujuan orang yang punya impian. Setiap bulan, orang yang usianya 18 tahun bisa mengucapkan keinginannya dan keinginan itu akan disimpan raja. Mereka yang terpilih akan dikabulkan keinginan mereka. Tak pelak, rakyat pun sangat menyanjung-nyanjung rajanya.

Namun, itu semua hanyalah topeng. Sang raja tak sebijak perkiraan orang. Asha yang tahu berusaha memberontak dengan bantuan bintang ajaib. Tapi, dia malah difitnah dan diburu seperti seorang buronan. Dia dan keluarganya dipaksa lari.

Wish punya pesan moral yang kuat terkait kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain. Keinginan seharusnya menjadi sebuah motivasi untuk terus maju, bukan sesuatu untuk diberikan orang lain dan terlupakan. Orang juga tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mewujudkan keinginan tersebut.



Foto: Entertainment Weekly

Pesan ini memang kuat. Namun, Wish terlalu sederhana untuk mengungkapkan pesan tersebut lewat ceritanya. Film ini punya banyak karakter, tapi terasa seolah-olah menyia-nyiakan karakter selain Asha. Teman-teman Asha tak tereksplorasi dengan baik deskripsinya dan bahkan ada yang seharusnya sangat membantu, tapi, tidak dimanfaatkan dengan baik.

Magnifico sebagai antagonis utama film ini lebih terasa seperti Doctor Strange sedang menggunakan Batu Waktu dari Mata Agamoto. Skema warnanya mirip. Meskipun, Chris Pine tampil baik sebagai Magnifico yang punya dua kepribadian di film ini.

Asha sebagai tokoh utama tampil mirip seperti sebagian besar protagonis cewek di film animasi Disney. Dia baik hati, peduli sesama, bersemangat tinggi, sayang keluarga, dan punya motivasi mulia. Dia juga cerdas sehingga mampu membuat Magnifico tertarik untuk menjadikannya murid. Singkatnya, dia terasa klise sebagai protagonis.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!