CERMIN: Monster Itu Bernama Prasangka
Jum'at, 05 Januari 2024 - 15:22 WIB
Dengan segala kesibukannya, Saori tetap menyempatkan waktu bercengkrama bersama anaknya. Ia mencari tahu segala kegiatannya termasuk hal-hal yang dilakukannya selama di sekolah.
Hingga Saori disergap prasangka bahwa telah terjadi sesuatu pada putranya. Ia tak mencoba mencari tahu lebih dalam tentang yang terjadi pada putranya, tahu-tahu ia sudah menyerbu sekolah dan guru-guru. Ia akhirnya menuduh putranya mengalami perbuatan tak menyenangkan yang dilakukan oleh seorang guru.
Foto: Toho
Putranya, Minato, sesungguhnya sedang dalam dilema besar. Ia sedang mengalami masa puber, tak punya figur ayah dalam hidupnya dan sedang bingung dengan perasaannya. Tapi ia tak mungkin bercerita soal itu pada ibunya yang disangkanya mungkin tak akan bisa mengerti.
Ketika ibunya tahu-tahu sudah menyerbu sekolah dan menyidang guru-gurunya, Minato tak bisa berkata apa pun. Tahu-tahu gurunya, Pak Hori, menjadi korban dari prasangka itu.
Padahal Pak Hori adalah guru yang baik bagi Minato, juga bagi Yori, teman akrabnya. Pak Hori terjebak dalam pusaran prasangka, dan ia diminta mengakui kesalahan yang tak dilakukannya atau sekolah tempatnya mengajar akan berada dalam masalah besar.
Sebagaimana Close (2022) arahan Lukas Dhont, Hirokazu memberanikan diri menyentuh isu sensitif bagi anak atau remaja laki-laki. Sebagaimana Remi dalam Close, Minato juga bingung dengan yang ia rasakan.
Tak ada seseorang yang menjadi tempatnya untuk berbagi perasaan yang paling dalam. Ia tak mungkin bercerita ke ibunya, apalagi ke gurunya. Mungkin ia bisa bercerita pada ayahnya, sayangnya ayahnya sudah meninggal.
Foto: Toho
Tapi Monster lebih dari sekadar isu tipis LGBTQ yang tersirat samar dalam filmnya. Monster juga terkoneksi dengan kita di mana pun karena relevan dengan yang kita alami keseharian. Sebagai orang tua tunggal, saya memahami rasanya menjadi Saori yang sering merasa gagal mendidik anak.
Hingga Saori disergap prasangka bahwa telah terjadi sesuatu pada putranya. Ia tak mencoba mencari tahu lebih dalam tentang yang terjadi pada putranya, tahu-tahu ia sudah menyerbu sekolah dan guru-guru. Ia akhirnya menuduh putranya mengalami perbuatan tak menyenangkan yang dilakukan oleh seorang guru.
Foto: Toho
Putranya, Minato, sesungguhnya sedang dalam dilema besar. Ia sedang mengalami masa puber, tak punya figur ayah dalam hidupnya dan sedang bingung dengan perasaannya. Tapi ia tak mungkin bercerita soal itu pada ibunya yang disangkanya mungkin tak akan bisa mengerti.
Ketika ibunya tahu-tahu sudah menyerbu sekolah dan menyidang guru-gurunya, Minato tak bisa berkata apa pun. Tahu-tahu gurunya, Pak Hori, menjadi korban dari prasangka itu.
Padahal Pak Hori adalah guru yang baik bagi Minato, juga bagi Yori, teman akrabnya. Pak Hori terjebak dalam pusaran prasangka, dan ia diminta mengakui kesalahan yang tak dilakukannya atau sekolah tempatnya mengajar akan berada dalam masalah besar.
Sebagaimana Close (2022) arahan Lukas Dhont, Hirokazu memberanikan diri menyentuh isu sensitif bagi anak atau remaja laki-laki. Sebagaimana Remi dalam Close, Minato juga bingung dengan yang ia rasakan.
Tak ada seseorang yang menjadi tempatnya untuk berbagi perasaan yang paling dalam. Ia tak mungkin bercerita ke ibunya, apalagi ke gurunya. Mungkin ia bisa bercerita pada ayahnya, sayangnya ayahnya sudah meninggal.
Foto: Toho
Tapi Monster lebih dari sekadar isu tipis LGBTQ yang tersirat samar dalam filmnya. Monster juga terkoneksi dengan kita di mana pun karena relevan dengan yang kita alami keseharian. Sebagai orang tua tunggal, saya memahami rasanya menjadi Saori yang sering merasa gagal mendidik anak.
Lihat Juga :