CERMIN: Mirales dan Dog, Bersahabat Sejak Kecil, Terpecah karena Perempuan
Jum'at, 02 Februari 2024 - 12:07 WIB
Sementara Dog digambarkan tak banyak bicara, cenderung tak bereaksi apa pun ketika diprovokasi oleh Mirales, tapi juga tak bisa menghindar dari Mirales yang sudah menjadi sahabatnya sejak masih berusia 12 tahun.
Jean membiarkan kita melihat Mirales menjalani hari demi harinya dengan sangat membosankan. Nyaris tak ada letupan apa pun dalam hidupnya. Setiap hari ia bangun dari tidur, memberi makan anjingnya, lantas keluar menjual ganja pada siapa pun konsumen yang membutuhkannya.
Foto: Bac Films
Di sore hari ia nongkrong dengan sesama pemuda mengobrol ngalor ngidul tentang apa pun. Sesekali ia mengunjungi tetangganya yang sudah tua, menegur bapak-bapak yang hobi membeli lotere dan memberinya saran agar bisa menang.
Dog pun terperangkap di tengah-tengah hidup yang membosankan itu. Berbeda dengan Mirales yang menyambung hidup dengan berjualan ganja, Dog justru hidup dari asuransi kesejahteraan pemerintah sehingga ia tak melakukan apa pun untuk menghasilkan uang. Dog menghabiskan hari-harinya dengan memainkan gim sepak bola di rumahnya, kadang seorang diri, sering kali bersama Mirales.
Kehidupan mereka menjadi tak membosankan ketika seorang perempuan bernama Elsa masuk ke dalam hidup Dog. Tentu saja Mirales menjadi terlibat. Kita melihat betapa tidak sukanya Mirales pada Elsa karena merasa ia hanya memanfaatkan Dog yang memang terlihat bodoh.
Kita tahu bisa saja Mirales benar. Namun perbuatan Mirales yang gemar mengintimidasi Dog memang tak bisa dibenarkan. Dan Elsa membenci Mirales karena melakukan hal itu kepada Dog bahkan di depan orang banyak sekalipun.
Foto: Bac Films
Seperti sebagian besar film Prancis atau negara-negara Eropa lainnya, Junkyard Dog juga tampak tak menjanjikan apa pun pada awal kisah. Filmnya berjalan dengan ritme lambat dan bisa membuat mereka yang tak menyukai premis tentang persahabatan dua cowok jatuh tak sabar.
Namundengan kekuatan skenario dan terutama bagaimana para aktor meniupkan ruh karakter ke dalam diri mereka, kita dibuat larut mengikuti kisah mereka. Tak banyak polesan musik untuk membuat cerita terasa lebih dramatik, tapi kita tahu bahwa akan ada ledakan yang ditimbulkan oleh cerita di ujung film.
Jean membiarkan kita melihat Mirales menjalani hari demi harinya dengan sangat membosankan. Nyaris tak ada letupan apa pun dalam hidupnya. Setiap hari ia bangun dari tidur, memberi makan anjingnya, lantas keluar menjual ganja pada siapa pun konsumen yang membutuhkannya.
Foto: Bac Films
Di sore hari ia nongkrong dengan sesama pemuda mengobrol ngalor ngidul tentang apa pun. Sesekali ia mengunjungi tetangganya yang sudah tua, menegur bapak-bapak yang hobi membeli lotere dan memberinya saran agar bisa menang.
Dog pun terperangkap di tengah-tengah hidup yang membosankan itu. Berbeda dengan Mirales yang menyambung hidup dengan berjualan ganja, Dog justru hidup dari asuransi kesejahteraan pemerintah sehingga ia tak melakukan apa pun untuk menghasilkan uang. Dog menghabiskan hari-harinya dengan memainkan gim sepak bola di rumahnya, kadang seorang diri, sering kali bersama Mirales.
Kehidupan mereka menjadi tak membosankan ketika seorang perempuan bernama Elsa masuk ke dalam hidup Dog. Tentu saja Mirales menjadi terlibat. Kita melihat betapa tidak sukanya Mirales pada Elsa karena merasa ia hanya memanfaatkan Dog yang memang terlihat bodoh.
Kita tahu bisa saja Mirales benar. Namun perbuatan Mirales yang gemar mengintimidasi Dog memang tak bisa dibenarkan. Dan Elsa membenci Mirales karena melakukan hal itu kepada Dog bahkan di depan orang banyak sekalipun.
Foto: Bac Films
Seperti sebagian besar film Prancis atau negara-negara Eropa lainnya, Junkyard Dog juga tampak tak menjanjikan apa pun pada awal kisah. Filmnya berjalan dengan ritme lambat dan bisa membuat mereka yang tak menyukai premis tentang persahabatan dua cowok jatuh tak sabar.
Namundengan kekuatan skenario dan terutama bagaimana para aktor meniupkan ruh karakter ke dalam diri mereka, kita dibuat larut mengikuti kisah mereka. Tak banyak polesan musik untuk membuat cerita terasa lebih dramatik, tapi kita tahu bahwa akan ada ledakan yang ditimbulkan oleh cerita di ujung film.
Lihat Juga :