CERMIN: Sebuah Pengucapan Baru dalam Sinema Dokumenter dari Tunisia

Sabtu, 24 Februari 2024 - 14:00 WIB
Setahun sebelumnya, dua putri sulungnya yang mengalami radikalisasi, Ghofrane dan Rahma Chikhaoui, melarikan diri untuk bergabung dengan kelompok tersebut di Libya. Tahun-tahun sebelumnya, Hamrouni berjuang membesarkan keempat putrinya – dua putri tertua, pemberontak dan berapi-api; dua orang termuda menjadi spons konflik.

Dengan materi cerita sekuat ini, Kaouther tak perlu bersusah payah mencari pengucapan baru. Tapi ia melakukan hal yang bisa jadi menurutnya perlu dilakukan. Ia menantang dirinya mencampurbaurkan realitas dan reka-ulang sebagaimana banyak pendekatan film dokumenter yang melakukan re-enactment (reka-ulang).



Foto: Tanit Films

Dalam adegan pembuka yang mengejutkan, kita mendengar Kaouther membujuk Olfa bahwa jika ada adegan reka-ulang yang bakal terlalu menguras emosinya, maka ia menyediakan aktris profesional yang akan memerankan dirinya.

Selanjutnya kita tahu tak ada yang tak mungkin dalam Four Daughters. Sembari cerita terus mengalir dari mulut Olfa, Eya, dan Tayssir, kita juga melihat reka-ulang banyak peristiwa yang traumatis yang membuat ketiga narasumber tersebut tak bisa menahan emosinya. Berbeda dengan ibunya, Eya dan Tayssir kukuh untuk memainkan dirinya sendiri dalam semua adegan, sementara kedua kakak perempuan mereka dimainkan oleh aktris profesional.

Dengan keberanian Kaouther berpadu dengan betapa kompleksnya cerita yang dialami Olfa, Eya, dan Tayssir, maka kita tahu Four Daughters tak sekadar menjadi film dokumenter yang menyentak. Ia juga terasa revolusioner karena Kaouther memberanikan diri mendobrak pakem-pakem yang sebelumnya sudah banyak kita kenali dari sinema dokumenter.

Four Daughters adalah sebuah upaya dari Olfa mengunjungi kembali luka-luka yang masih menyakitkan baginya hingga hari ini. Sekaligus film ini juga menjadi terapi bagi dirinya untuk berdamai dengan apa pun pilihan yang diambil oleh kedua putri tertuanya, juga menjadi medium rekonsiliasi bagi ia dan kedua putrinya yang tersisa.



Foto:Tanit Films

Yang juga menarik betul dari Four Daughters adalah bagaimana Kaouther yang juga seorang sinematografer memotret adegan-adegannya dalam bingkai demi bingkai yang indah. Ia membenturkan warna demi warna sehingga menghasilkan sebuah adegan yang puitis, sering kali terasa menghantui. Ia juga mengambil sudut-sudut berani yang justru semakin menguatkan konteks dari yang ingin diceritakannya secara banal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!