CERMIN: Melihat Dunia Buku Bekerja di Amerika
Sabtu, 02 Maret 2024 - 13:53 WIB
Monk pun melakukan sebuah hal di luar dugaan: mengolok-olok dirinya sendiri dengan menulis novel yang keras-kasar dan menggambarkan kehidupan kaum terpinggirkan Afrika-Amerika yang sesungguhnya tak pernah dicicipinya. Seperti sudah diduga, novel sejenis tersebut langsung diminati penerbit dan studio yang tertarik mengadaptasinya menjadi film.
Foto: Amazon MGM Studios
Kondisi yang dihadapi Monk juga dialami Feby yang bisa jadi sering kali berada di persimpangan: tetap dengan idealisme menghasilkan karya-karya bermutu atau bersiasat dengan selera pasar demi segepok uang untuk menyambung hidup.
Meski diterbitkan 23 tahun lalu, novel Erasure karya Percival Everett yang menjadi dasar dari American Fiction masih relevan hingga hari ini. Kita melihat bagaimana industri buku di seluruh dunia nyaris selalu bergulat dengan masalah yang sama.
Dalam lima tahun belakangan, dunia perbukuan Indonesia dibanjiri novel-novel adaptasi cerita bersambung di Wattpad yang secara kualitas sebagian besar mengecewakan. Namun selalu menarik perhatian para produser terutama dari rumah produksi besar untuk mengadaptasinya menjadi film atau serial.
Erasure menjadi sebuah kritik pedas bagi industri buku sekaligus menjadi refleksi bagi para pelaku untuk melihat kembali apa sesungguhnya alasan mereka ketika menerbitkan sebuah buku. Hanya karena faktor komersial atau masih ada yang mempertahankan nilai-nilai universal dari sebuah tulisan yang dirasa perlu dibagikan ke pembaca.
Demikian pula dengan penulis yang memilih sekadar menjadi robot untuk menulis karya yang dirasakannya akan disukai pembaca atau diminta oleh penerbit, tanpa peduli dengan kualitas karya maupun nilai-nilai yang ingin dibagikannya.
Foto:Amazon MGM Studios
Erasure tak termasuk novel laris, tapi toh nilai-nilai yang ada di dalamnya yang menggugah sutradara Cord Jefferson untuk mengadaptasinya. Hasilnya sebuah film yang tak hanya mencoba melihat bagaimana dunia buku di Amerika bekerja dari dekat, tapi juga melihat bagaimana seorang penulis yang terbiasa menciptakan dunia rekayasa mesti berhadapan dengan dunia realitasnya.
Monk pun harus berhadapan dengan tragedi. Ibu yang mengalami dimensia, kakak yang memproklamirkan diri sebagai homoseksual, dan terutama dengan harga dirinya yang tercabik-cabik ketika novel sampah yang ditulisnya bahkan dianggap sebagai salah satu novel terbaik. Mungkin memang dunia sudah terbalik bagi Monk.
Foto: Amazon MGM Studios
Kondisi yang dihadapi Monk juga dialami Feby yang bisa jadi sering kali berada di persimpangan: tetap dengan idealisme menghasilkan karya-karya bermutu atau bersiasat dengan selera pasar demi segepok uang untuk menyambung hidup.
Meski diterbitkan 23 tahun lalu, novel Erasure karya Percival Everett yang menjadi dasar dari American Fiction masih relevan hingga hari ini. Kita melihat bagaimana industri buku di seluruh dunia nyaris selalu bergulat dengan masalah yang sama.
Dalam lima tahun belakangan, dunia perbukuan Indonesia dibanjiri novel-novel adaptasi cerita bersambung di Wattpad yang secara kualitas sebagian besar mengecewakan. Namun selalu menarik perhatian para produser terutama dari rumah produksi besar untuk mengadaptasinya menjadi film atau serial.
Erasure menjadi sebuah kritik pedas bagi industri buku sekaligus menjadi refleksi bagi para pelaku untuk melihat kembali apa sesungguhnya alasan mereka ketika menerbitkan sebuah buku. Hanya karena faktor komersial atau masih ada yang mempertahankan nilai-nilai universal dari sebuah tulisan yang dirasa perlu dibagikan ke pembaca.
Demikian pula dengan penulis yang memilih sekadar menjadi robot untuk menulis karya yang dirasakannya akan disukai pembaca atau diminta oleh penerbit, tanpa peduli dengan kualitas karya maupun nilai-nilai yang ingin dibagikannya.
Foto:Amazon MGM Studios
Erasure tak termasuk novel laris, tapi toh nilai-nilai yang ada di dalamnya yang menggugah sutradara Cord Jefferson untuk mengadaptasinya. Hasilnya sebuah film yang tak hanya mencoba melihat bagaimana dunia buku di Amerika bekerja dari dekat, tapi juga melihat bagaimana seorang penulis yang terbiasa menciptakan dunia rekayasa mesti berhadapan dengan dunia realitasnya.
Monk pun harus berhadapan dengan tragedi. Ibu yang mengalami dimensia, kakak yang memproklamirkan diri sebagai homoseksual, dan terutama dengan harga dirinya yang tercabik-cabik ketika novel sampah yang ditulisnya bahkan dianggap sebagai salah satu novel terbaik. Mungkin memang dunia sudah terbalik bagi Monk.
Lihat Juga :